<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pengungsi gempa palu Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/pengungsi-gempa-palu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/pengungsi-gempa-palu/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Oct 2018 14:54:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>pengungsi gempa palu Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/pengungsi-gempa-palu/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga </title>
		<link>https://bontangpost.id/mengungsi-karena-trauma-sementara-pilih-tinggal-di-rumah-sanak-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2018 03:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[pengungsi gempa palu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=51057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) tiba di Kota Tepian. Menggunakan Kapal Motor (KM) Adithya, mereka merapat di Pelabuhan Samarinda Jalan Yos Sudarso sekira pukul 12.00 Wita. DEVI NILA SARI, Samarinda WACANA penampungan pengungsi asal Palu di Gor Segiri yang direncanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda sebelumnya, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mengungsi-karena-trauma-sementara-pilih-tinggal-di-rumah-sanak-keluarga/">Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Senin (8/10) kemarin, sekira 21 korban bencana gempa dan tsunami asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) tiba di Kota Tepian. Menggunakan Kapal Motor (KM) Adithya, mereka merapat di Pelabuhan Samarinda Jalan Yos Sudarso sekira pukul 12.00 Wita.</p>
<p>DEVI NILA SARI, Samarinda</p>
<p>WACANA penampungan pengungsi asal Palu di Gor Segiri yang direncanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda sebelumnya, sepertinya tak jadi direalisasikan. Sebab, para pengungsi lebih memilih untuk tinggal di rumah sanak keluarga yang ada di Kota Tepian maupun Balikpapan.</p>
<p>Seperti yang diungkapkan oleh Ratnawati, salah satu pengungsi asal Palu ini. Ia mengatakan, ia akan tinggal di rumah keluarganya yang berada di Muara Kaman. “Saya ada keluarga di sana. Rencananya mau tinggal ke sana saja,” ujarnya.</p>
<p>Ia pun menceritakan, ketika awal kejadian tersebut ia bersama keluarga sedang menonton televisi. Sebelum kejadian pun, tidak ada tanda-tanda. Ketika gempa terjadi, semua keluarganya terpental ke segala penjuru rumah. Dalam keadaan ketakutan itulah mereka mencoba melarikan diri.</p>
<p>“Tapi suami kembali ke rumah, ambil motor. Kalau bukan karena motor mungkin kami tidak bisa selamat dari gempa,” ujarnya.</p>
<p>Setelah mengalami kejadian hebat itu, Ratnawati merasa trauma. Ia pun berkata, enggan untuk kembali ke kampung halamannya itu. “Kalau pun saya harus kembali, kemungkinannya kecil sekali,” ujarnya.</p>
<p>Terpisah, Perwakilan Tim Terpadu Pemkot Samarinda, Syahruddin memastikan, pemerintah akan memberikan bantuan berupa sembako dan sebagainya kepada para pengungsi yang datang ke Kota Tepian. “Untuk sementara akan kami bantu. Kami juga tidak tahu mereka akan tinggal sementara atau permanen,” kata dia.</p>
<p>Kendati demikian, ia memastikan pihak pemkot akan terus menyokong para pengungsi. Begitupun dalam hal pendidikan.</p>
<p>“Anak-anak nanti bisa sekolah di sini. Sesuai instruksi pusat juga, bahwa anak korban gempa harus dibantu dalam hal pendidikannya. Instruksi Pak Wali juga seperti itu,” ujarnya.</p>
<p>Ia mengaku, bahwa memang lebih baik jika pengungsi ditempatkan bersama keluarga masing-masing. Pasalnya, jika ditempatkan di Gor Segiri maka dikhawatirkan kebutuhannya yang lain akan sulit terpenuhi.</p>
<p>“Berdasarkan hasil rapat kami terakhir, para pengungsi yang datang kesini akan dijamin hidupnya. Makanya yang memiliki keluarga disini langsung diserahkan saja kepada keluarganya. Kalau mereka ditempatkan di pengungsian kasihan juga, belum dipikirkan kebutuhan MCK (mandi, cuci, dan kakus, <em>Red.</em>),” tutur dia.</p>
<p>Sebelumnya, Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang berkata, apabila ada korban gempa yang enggan pulang ke kampung halaman, bisa menetap di Samarinda. “Mereka bisa mengikuti program transmigrasi dan menetap di sini,” pungkasnya. <strong>(*/dev)</strong></p>
<p>Data Pengungsi Korban Gempa Palu di Samarinda</p>
<p>No       Nama   Umur</p>
<ol>
<li>Awing 38 th</li>
<li>Zaitun 39 th</li>
<li>Nurul Fadila 17 th</li>
<li>Syaiful 37 th</li>
<li>Hasnah 35 th</li>
<li>Agim 15 th</li>
<li>Aulia Nurhikmah 14 th</li>
<li>Faiha 1 th</li>
<li>Minhar 46 th</li>
<li>Sunartin 38 th</li>
<li>Salirul Ramada 20 th</li>
<li>Mahla Zulaika 17 th</li>
<li>Imam Atful Hidayah 13 th</li>
<li>Zahratul Gifa 10 th</li>
<li>Abdul Gafar 38 th</li>
<li>Hatati 33 th</li>
<li>Rifkika 13 th</li>
<li>Aura 8 th</li>
<li>Arif 1 th</li>
<li>Damiasah 70 th</li>
<li>Kawatini 56 th</li>
</ol>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mengungsi-karena-trauma-sementara-pilih-tinggal-di-rumah-sanak-keluarga/">Mengungsi karena Trauma, Sementara Pilih Tinggal di Rumah Sanak Keluarga </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>17 Pengungsi Korban Gempa Palu Bersandar di Bontang, “Saya Lihat Kepala Manusia Tersangkut”</title>
		<link>https://bontangpost.id/17-pengungsi-korban-gempa-palu-bersandar-di-bontang-saya-lihat-kepala-manusia-tersangkut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2018 22:00:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Palu]]></category>
		<category><![CDATA[pengungsi gempa palu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=50588</guid>

					<description><![CDATA[<p>BONTANG &#8211;  Sebanyak 17 orang warga Palu terdiri dari 4 Kepala Keluarga (KK) yang merupakan korban gempa dan tsunami Jumat (28/9) lalu, mencari perlindungan di Bontang. Dengan menggunakan kapal nelayan, mereka tiba di Kota Taman Selasa (2/10) kemarin, pukul 14.30 Wita. Mereka mencari tempat aman untuk ditinggali. Trauma masih dirasakan para korban gempa Palu meski [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/17-pengungsi-korban-gempa-palu-bersandar-di-bontang-saya-lihat-kepala-manusia-tersangkut/">17 Pengungsi Korban Gempa Palu Bersandar di Bontang, “Saya Lihat Kepala Manusia Tersangkut”</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BONTANG &#8211;  Sebanyak 17 orang warga Palu terdiri dari 4 Kepala Keluarga (KK) yang merupakan korban gempa dan tsunami Jumat (28/9) lalu, mencari perlindungan di Bontang. Dengan menggunakan kapal nelayan, mereka tiba di Kota Taman Selasa (2/10) kemarin, pukul 14.30 Wita. Mereka mencari tempat aman untuk ditinggali.</p>
<p>Trauma masih dirasakan para korban gempa Palu meski sudah aman berada di Kota Bontang. Salah satu di antaranya H Ishak AM (50) dan istrinya, Hj Mirawati (50) serta anak bungsunya, Muhammad Nur (13).</p>
<p>Muhammad Nur duduk terdiam dan sesekali membantu ayahnya menjawab pertanyaan wartawan <em>Bontang Post</em>. Gempa disertai tsunami menjadi pengalaman traumatis yang sulit ia lupakan. Ditanya bagaimana perasaannya ketika di Kota Palu saat terjadi tsunami, Nur –sapaannya&#8211; hanya mengatakan dirinya takut saat merasakan tsunami menerjang mobilnya. Apalagi, Nur juga tidak bisa berenang.</p>
<p>“Saya takut lihat laut. Saat saya masih di dalam mobil, saya lihat kepala manusia tersangkut tanpa ada tubuhnya,” ujarnya.</p>
<p>Diceritakan ayah Nur, Ishak, Jumat (28/9) lalu, mereka bertiga baru pulang dari Donggala dan hendak pulang ke rumah mereka di Jalan Cemangi, Nomor 9, Kelurahan Boyaoge, Palu. Namun saat di perjalanan, ketiganya merasakan guncangan gempa yang sangat keras, hingga akhirnya mobil Daihatsu Ayla yang dikendarai Ishak berhenti. Setelah gempa reda, Ishak pun melanjutkan perjalanannya.</p>
<p>Tak disangka, tsunami tiba-tiba datang menerjang mobilnya, hingga air sempat menenggelamkan mobilnya. “Saat itu, memang kami sedang melintas di pinggiran pantai. Setelah gempa tenang, hitungan detik saja, air langsung naik,” cerita Ishak di salah satu rumah warga di RT 18, Kelurahan Berbas Pantai.</p>
<p>Ketika mobil terombang-ambing ke sana ke mari, ketiganya lantas berusaha menyelamatkan diri. “Jadi kami diterjang tsunami saat di dalam mobil. Mobil kami hancur. Tapi alhamdulillah kami masih diselamatkan oleh Allah SWT, karena dalam kondisi yang tidak berdaya, Allah punya cara sendiri untuk menyelamatkan kami,” ungkapnya.</p>
<p>Pascagempa dan tsunami di Palu, mereka kebingungan hendak pergi ke mana. Kata Ishak, awalnya mereka sempat bermalam di Palu selama dua malam. Setelah itu, barulah ada inisiatif mau pergi ke Makassar. Sehingga Ishak dan keluarga pun bergerak menuju bandara. “Tetapi di bandara hanya ada pesawat Hercules dua unit. Sementara jumlah korban ribuan, jadi saya mengurungkan niat,” kata dia.</p>
<figure id="attachment_50590" aria-describedby="caption-attachment-50590" style="width: 719px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-50590" src="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/10/OPEN-KEPALA-1.jpeg" alt="" width="719" height="394" srcset="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/10/OPEN-KEPALA-1.jpeg 719w, https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/10/OPEN-KEPALA-1-600x329.jpeg 600w, https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/10/OPEN-KEPALA-1-200x110.jpeg 200w, https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/10/OPEN-KEPALA-1-550x301.jpeg 550w" sizes="(max-width: 719px) 100vw, 719px" /><figcaption id="caption-attachment-50590" class="wp-caption-text">Beberapa pengungsi asal Palu makan bersama sesaat tiba di Bontang, Selasa (2/10) sore kemarin. (Mega Asri/Bontang Post)</figcaption></figure>
<p>Dari bandara, Ishak memutuskan untuk ke Donggala mendatangi kapal ikan miliknya. Beruntung masih ada 4 kapal dalam kondisi baik. Setelah Bahan Bakar Minyak (BBM) dari 4 kapal disatukan, Ishak pun memutuskan berlayar ke Bontang bersama keluarganya dan beberapa korban lain ikut dengannya.</p>
<p>“Kami berpikir tidak ada harapan keluar dari kota apalagi fasilitas hanya dua unit pesawat hercules. Setelah mengingat adik saya di Bontang, maka saya pun langsung berlayar ke Bontang,” bebernya.</p>
<p>Mereka berangkat menggunakan kapal nelayan dari Donggala pada Senin (1/10) lalu sekira pukul 19.00 Wita dan tiba di Bontang pada Selasa (2/10) sekira pukul 14.30 Wita.</p>
<p>Pengalaman pilu juga diceritakan Endang Sriwahyuni, warga Donggala. Saat kejadian dirinya bersantai di depan rumah. Begitu gempa, ia langsung mengambil kedua anaknya dan ia ikatkan jilbabnya ke anaknya, agar tidak hilang.</p>
<p>“Saya langsung berdiri. Baru kali itu guncangannya keras sekali, saya kira kiamat mau datang, dasyat sekali gempanya. Saya waktu itu langsung lari ke jalan poros, karena kanan kiri rumah tinggi. Saat lari, orang-orang teriak air laut surut. Saya ingat kalau surut berarti mau tsunami, jadi saya lari ke atas gunung sambil pegang dua anak saya,” kata Endang, yang bermukim di dekat pantai.</p>
<p>Sementara Kamarudin(42), saat kejadian ia sedang di atas kapal. Begitu air laut surut, ia langsung loncat dari kapal menuju dermaga. Tiba-tiba air sudah menerjang, namun ia berhasil naik rakit dan hanyut 4 jam lamanya.</p>
<p>“Di situ saya bisa selamatkan diri dan akhirnya saya bisa naik jembatan, saya lari ke atas gunung,” kata dia.</p>
<p>Sementara itu, Tim LK3 Bontang akan segera menindaklanjuti penanganan para korban gempa dan tsunami yang baru tiba di Bontang. petugas LK3, Tri dan Ratna akan memberikan terapi pascagempa dan tsunami.</p>
<p>Sebagai informasi, korban tertua yang bersandar di Bontang berusia 50 tahun dan termuda berusia 4 tahun. Untuk sementara, mereka yang memiliki keluarga di Bontang tinggal bersama keluarga. Sementara yang tidak memiliki keluarga tinggal di rumah milik H Faisal di RT 18, Kelurahan Berbas Pantai.(mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/17-pengungsi-korban-gempa-palu-bersandar-di-bontang-saya-lihat-kepala-manusia-tersangkut/">17 Pengungsi Korban Gempa Palu Bersandar di Bontang, “Saya Lihat Kepala Manusia Tersangkut”</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
