<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah Perjuangan Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/sejarah-perjuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/sejarah-perjuangan/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Jan 2018 14:48:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>Sejarah Perjuangan Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/sejarah-perjuangan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kuasai Kota, Ramai-ramai Robek Bendera Belanda</title>
		<link>https://bontangpost.id/kuasai-kota-ramai-ramai-robek-bendera-belanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Jan 2018 03:31:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Perjuangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=29746</guid>

					<description><![CDATA[<p>Peristiwa Merah Putih Sangasanga merupakan salah satu kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang paling lekat dengan masyarakat Bumi Etam. Kegigihan para pejuang yang terdiri dari para pemuda lintas etnis membuktikan persatuan Indonesia bukanlah keniscayaan. &#8212; Kamis 24 Januari 1947, Barisan Pembela Rakyat Indonesia (BPRI) memperoleh berita dari Sektor III Bantuas terkait keberadaan delapan orang pejuang yang [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kuasai-kota-ramai-ramai-robek-bendera-belanda/">Kuasai Kota, Ramai-ramai Robek Bendera Belanda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Peristiwa Merah Putih Sangasanga merupakan salah satu kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang paling lekat dengan masyarakat Bumi Etam. Kegigihan para pejuang yang terdiri dari para pemuda lintas etnis membuktikan persatuan Indonesia bukanlah keniscayaan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Kamis 24 Januari 1947, Barisan Pembela Rakyat Indonesia (BPRI) memperoleh berita dari Sektor III Bantuas terkait keberadaan delapan orang pejuang yang yang dipimpin Herman Runturambi di daerah tersebut. Herman yang sebelumnya berstatus polisi melakukan desersi dan menggabungkan diri dengan kelompok pejuang.</p>
<p>“Atas kabar itu, pada Jumat 25 Januari 1947, markas BPRI memerintahkan untuk menjemput Herman Runturambi dan kawan-kawan dan membawanya ke rumah Habib Abdul Muthalib yang merupakan salah seorang penasehat perjuangan BPRI,” kisah Hamdani, penyusun buku ‘Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kalimantan Timur’ yang memuat peristiwa Merah Putih Sangasanga ini.</p>
<p>Sabtu 26 Januari 1947 keesokan harinya, terjadi penggerebekan di Distrik VII oleh pasukan Polisi Belanda yang mengakibatkan terjadinya tembak-menembak. Seorang pejuang bernama Soetjipto gugur dan beberapa dokumen penting yang berisi daftar nama eks Heiho dan KNIL yang bergabung dalam BPRI Sangasanga disita.</p>
<p>Pada hari itu juga tanpa diketahui, dua pimpinan BPRI yaitu Sukiman dan Romodiwirjo ditangkap Polisi Militer Belanda. Setelah tahu, Budiono yang merupakan wakil Romodiwirjo memerintahkan dua pejuang yaitu Arak dan Akub menemui Toekiman Gondo yang merupakan anggota kelompok khusus II Inti Tenaga BPRI di Distrik V/Bangsal Eks Heiho.</p>
<p>“Arak dan Akub diperintahkan untuk mengabarkan bahwa dua orang pimpinan BPRI itu telah ditangkap,” tambah Hamdani.</p>
<p>Setelah bertemu, Toekiman Gondo bersama anggota kelompok khusus II lainnya, Kusbi berikut Arak dan Akub berangkat menuju Muara Sangasanga. Kepergian mereka untuk memberitahukan rencana Belanda yang akan melakukan penangkapan besar-besaran para pejuang BPRI pada Ahad, 27 Januari 1947.</p>
<p>Pukul 17.00 Wita, secara berantai berita itu disampaikan ke segenap sektor. Pimpinan umum BPRI mengadakan rapat kilat untuk menentukan langkah dan tindakan yang harus diambil secepatnya. Dalam rapat diputuskan bahwa pada keesokan harinya, 27 Januari 1947 sekira pukul 05.00 Wita, Sangasanga sudah harus dikuasai oleh rakyat di bawah komando BPRI.</p>
<p>“Secara kilat dan penuh kerahasiaan, pimpinan umum memerintahkan agar Samarinda, Balikpapan, dan Anggana diberitahu mengenai rencana serangan terhadap Belanda di Sangasanga pada tanggal 27 Januari 1947,” terang Hamdani.</p>
<p>Mantan jurnalis ini menceritakan, pukul 18.30 Wita perintah telah disampaikan oleh pimpinan markas ke seluruh pelosok, sektor dan sub-sub markas BPRI Sangasanga. Untuk bersiap-siap atau siaga penuh pada malam itu. Terutama bagi para anggota tenaga inti lengkap. Sektor I, II, III yang dikoordinasikan oleh Diman A Rachim melaporkan telah menerima senjata berbagai jenis dengan peluru dan granat.</p>
<p>Pukul 22.00 Wita, pejuang-pejuang dari Balikpapan mengirim beberapa pucuk owen dan pelempar granat selengkapnya. Pada waktu itu juga Rahmad, anggota Algamene Polisi yang pro perjuangan BPRI datang bergabung dengan para pejuang.</p>
<p>“Pukul 24.00 Wita, senjata-senjata itu dibagikan ke sektor-sektor yang telah ditentukan. Antara lain Sektor Saumil diterima oleh Toekiman Gondo. Rinciannya dua pucuk Bren MK I, satu mortir, empat owen dan beberapa pucuk senjata laras panjang,” beber Hamdani.</p>
<p>Memasuki hari H, 27 Januari sekira pukul 01.00 dini hari, senjata kembali dibagikan kepada para pejuang yang cukup terlatih dalam menggunakan berbagai senjata api. Para pejuang ini juga telah diberikan tanda pengenal merah putih yang harus dipasang di dada sebelah kanan. Senjata-senjata tersebut adalah dari KNIL yang diambil oleh Sumiran, Atak, Akub, Sapari, dan Paijo.</p>
<p>Detik-detik bersejarah itu pun perlahan mulai menunjukkan tabirnya. Pukul 02.00 Wita dini hari, para pejuang sudah bersiap pada pos atau sektornya masing-masing. “Sejak pukul 02.30 Wita hingga pukul 04.15 Wita, segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan matang dan penuh percaya diri serta sangat hati-hati,” urai Hamdani.</p>
<p>Pimpinan pertempuran ke tangsi KNIL dipegang oleh Budiono dan Herman Runturambi beserta pejuang-pejuang lainnya. Pengepungan rumah Letnan Kisberry yang menjadi salah satu misi penting dalam gerakan ini, ditugaskan oleh pimpinan BPRI kepada Bantjet, Darham, Nasir, Saleh, dan pejuang-pejuang lainnya.</p>
<p>Tepat pukul 05.00 Wita dini hari, markas atau tangsi KNIL di Sangasanga berhasil direbut pasukan BPRI tanpa mengeluarkan sebutir peluru pun. Hal ini bisa terjadi karena sebelumnya telah diadakan kontak yang sangat hati-hati dan rahasia. Semua anggota KNIL yang tidak bersimpati dan anti BPRI ditawan dan diamankan.</p>
<p>“Dengan direbutnya tangsi KNIL, maka banyaklah tambahan senjata yang dapat diberikan kepada para pejuang yang memang sangat kekurangan senjata,” tutur Hamdani.</p>
<p>Setelah diadakan pembenahan dan pembersihan seluruhnya, maka pada hari itu tepat pukul 07.00 Wita, diadakan upacara penaikan bendera Merah Putih di tangsi KNIL yang seluruhnya telah dikuasai BPRI. Bertindak sebagai komandan upacara yaitu pimpinan umum Soekasmo. Dalam upacara tersebut hadir pula kepala penjawat Sangasanga, Awang Ishak.</p>
<p>Setelah upacara selesai, Awang Ishak menyerahkan pemerintahan Sangasanga kepada BPRI. Namun Soekasmo kembali menyerahkannya kepada Awang Ishak untuk mengendalikan pemerintahan di kota itu. Pada kesempatan itu juga Awang Ishak memerintahkan agar gaji para karyawan tambang minyak dan pegawai pemerintah dibayarkan segera.</p>
<p>“Hal ini lantaran para karyawan dan pegawai itu sekarang telah menjadi bagian perjuangan rakyat Sangasanga,” sebut Hamdani.</p>
<p>Pada sore hari bendera pusaka Merah Putih diturunkan kembali oleh para pejuang yang menerima tugas dari pimpinan. Keesokan paginya, pukul 09.00 Wita atas perintah langsung dari Budiono, Diman A Rachim yang merupakan sosok penting di kelompok khusus II Inti Tenaga Tempur BPRI diperintahkan menurunkan bendera Belanda yang masih berkibar di tangsi polisi belakang markas PMI.</p>
<p>Secara pasti saat itu Sangasanga telah dikuasai sepenuhnya oleh BPRI. Diman bersama empat kawannya yaitu Sani, Abdurrahman, Adul, dan Bakri menurunkan bendera tersebut. Setelah kain warna biru pada bendera Belanda itu dirobek, mereka menaikkan kembali bendara tersebut yang kini menjadi bendera sang saka dwi warna, Merah Putih.</p>
<p>Hal serupa juga terjadi di Muara Sangasanga. Di bawah pimpinan Toekiman Gondo yang tak lain adalah komandan kelompok khusus II Inti Tenaga Tempur BPRI, para pejuang merobek bendera Belanda. Salah satu pejuang yang merobek bendera tersebut adalah Hasan Soelaiman alias Hasan More.</p>
<p>“Setelah merobek birunya kemudian dinaikkan lagi menjadi bendera Merah Putih. Diperkirakan waktunya pukul 09.15 Wita,” ungkap Hamdani.</p>
<p>Di Anggana juga terjadi penaikan bendera Merah Putih atas perintah pimpinan BPRI melalui telepon kepada Marsudi sebagai Komandan Sektor Anggana. Anggana yang termasuk daerah rawan dan terpisah dari Sangasanga, bergerak secara diam-diam bertindak sebagai penghubung.</p>
<p>Di Sangasanga pada hari pertama kekuasaan BPRI dilakukan pemakaman almarhum Soetjipto yang gugur dalam pertempuran kecil dengan polisi Belanda. Kusuma bangsa itu dimakamkan di di pemakaman Muslimin sekira pukul 11.00 Wita. <strong>(luk/bersambung)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kuasai-kota-ramai-ramai-robek-bendera-belanda/">Kuasai Kota, Ramai-ramai Robek Bendera Belanda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berangkat dari Gerakan Bawah Tanah Menentang Belanda</title>
		<link>https://bontangpost.id/berangkat-dari-gerakan-bawah-tanah-menentang-belanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Jan 2018 03:30:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Perjuangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=29636</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sangasanga dikenal sebagai ladang minyak. Di daerah ini untuk pertama kalinya dibangun kilang minyak. Tepatnya di zaman penjajahan Belanda lebih satu abad lampau. Industri inilah yang lantas menjadikan Sangasanga berkembang sebagai sebuah kota menjelang kemerdekaan Indonesia. &#8212; Pada masa pendudukan tentara Sekutu tahun 1945, jumlah penduduk di kota ini mencapai 20 ribu jiwa. Lebih banyak [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/berangkat-dari-gerakan-bawah-tanah-menentang-belanda/">Berangkat dari Gerakan Bawah Tanah Menentang Belanda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sangasanga dikenal sebagai ladang minyak. Di daerah ini untuk pertama kalinya dibangun kilang minyak. Tepatnya di zaman penjajahan Belanda lebih satu abad lampau. Industri inilah yang lantas menjadikan Sangasanga berkembang sebagai sebuah kota menjelang kemerdekaan Indonesia.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Pada masa pendudukan tentara Sekutu tahun 1945, jumlah penduduk di kota ini mencapai 20 ribu jiwa. Lebih banyak bila dibandingkan Samarinda yang kala itu penduduknya masih di bawah jumlah tersebut. Sangasanga berkembang pesat pada masa itu dikarenakan perkembangan industri perminyakan dan banyaknya pendatang yang mencari kerja di bidang tersebut.</p>
<p>“Pendatang yang mencari kerja di bidang perminyakan dan perdagangan datang dari Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan pulau-pulau lainnya,” kisah Hamdani, budayawan penyusun buku ‘Bunga Rampai Perjuangan Pergerakan Rakyat Kalimantan Timur’.</p>
<p>Seiring pertumbungan perekonomian yang pesat tersebut, banyak organisasi kaum pergerakan mendirikan cabangnya di Sangasanga. Di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Syarikat Islam, dan Budi Oetomo.</p>
<p>Di tingkat lokal pada Desember 1943, berdiri perkumpulan Ksatria, yaitu perkumpulan pemuda Jawa yang bertujuan memperkuat persaudaraan, memperkokoh rasa kesetiakawanan dan kemanusiaan. “Organisasi ini berkembang sedemikian rupa. Banyak diminati para pemuda dari etnis lain yang ada di Sangasanga,” sebutnya.</p>
<figure id="attachment_29638" aria-describedby="caption-attachment-29638" style="width: 750px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/01/Foto-KAKI-MERAH-PUTIH-part-1-Foto-2.jpeg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-publisher-lg wp-image-29638" src="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/01/Foto-KAKI-MERAH-PUTIH-part-1-Foto-2-750x430.jpeg" alt="" width="750" height="430" /></a><figcaption id="caption-attachment-29638" class="wp-caption-text">RAYAKAN KEMERDEKAAN: Pengibaran bendera Merah Putih di Sangasanga.(REPRO)</figcaption></figure>
<p>Karena bukan lagi hanya beranggotakan etnis Jawa, perkumpulan Ksatria itu pun berganti nama. Yaitu menjadi Badan Penolong Perantau Jawa (BPPD). BPPD inilah yang nantinya bertransformasi menjadi barisan pejuang dalam peristiwa heroik mempertahankan kemerdekaan di Sangasanga.</p>
<p>Dalam catatan sejarah, 14 Agustus 1945 menjadi hari di mana Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Momen ini dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari Jepang. Hingga pada 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia (RI).</p>
<p>“Gaung kemerdekaan itu dengan cepat membahana di seluruh nusantara, tak terkecuali para pejuang yang berada di Sangasanga,” tutur Hamdani.</p>
<p>Meski terlambat mendengar kabar kemerdekaan itu, pada 22 Oktober 1945 untuk kali pertama sang saka Merah Putih dikibarkan di Sangasanga. Tepatnya di lapangan markas BPPD di Muara Sep-Sep. Setelah itu disusul upacara-upacara serupa di beberapa tempat. Pihak Sekutu sendiri awalnya memberikan kebebasan kepada rakyat untuk melakukan upacara kemerdekaan RI.</p>
<p>Namun kericuhan terjadi setelah tentara Australia dalam pasukan Sekutu di Sangasanga ditarik pergi. Kepergian tentara Australia ini membuat tentara Belanda yang tergabung dalam NICA menunjukkan niat sesungguhnya di Sangasanga.</p>
<p>Berkeinginan kembali menjajah Indonesia, tentara NICA melakukan tindakan keras dan melarang penggunaan dan pengibaran bendera Merah Putih. “Bahkan Belanda menangkapi para pimpinan BPPD,” tambah Hamdani.</p>
<p>Tindakan sewenang-wenang pihak NICA ini diketahui oleh Awang Ishak selaku Kepala Penjawat dari Kerajaan Kutai. Secara diam-diam, Awang Ishak menghubungi para pemuda pejuang Sangsasanga untuk tidak tinggal diam. Bersama-sama para pemuda tersebut, Awang Ishak melakukan gerakan bawah tanah.</p>
<p>Dalam beberapa kali rapat, Awang Ishak menyarankan para pemuda untu melakukan gerakan aksi sabotase. Seperti pembakaran penampungan minyak mentah Distrik VI dan pencurian senjata oleh para pejuang yang bekerja pada pemerintahan Belanda. Para pemuda pejuang semakin berani tatkala BPPD melebur dan berubah menjadi Barisan Pembela Rakyat Indonesia (BPRI).</p>
<p>“BPRI ini merupakan kesatuan aksi kelaskaran di bawah pimpinan Bung Tomo yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur,” jelas Hamdani yang menyusun kembali kisah peristiwa Merah Putih Sangasanga bersama penulis lainnya, Johansyah Balham.</p>
<p>BPRI Sangasanga yang dipimpin Soekasmo lantas berhasil membentuk 19 kelompok pejuang. Ke-19 kelompok ini tersebar di wilayah Sangasanga, Bentuas, Sangasanga Seberang, Anggana, Handil, Samarinda, dan Kutai Lama.</p>
<p>Aksi gerakan bawah tanah para pejuang ini tidaklah berjalan mulus. Pasalnya, pihak Belanda selalu menyebar mata-mata yang terdiri dari orang-orang pribumi. Sehingga rencana perebutan kekuasaan pada 25 Desember 1946 berhasil digagalkan. Kegagalan ini berujung penggeledahan dan penangkapan beberapa pejuang.</p>
<p>“Sebelum tanggal tersebut juga ada upaya perebutan kekuasaan tanggal 31 Agustus 1946 bertepatan ulang tahun Ratu Belanda. Namun berakhir gagal. Sama dengan rencana penyerangan tanggal 1 Januari 1947 yang kembali mengalami kegagalan,” beber Hamdani.</p>
<p>Untuk meningkatkan koordinasi penyerangan umum BPRI, Awang Ishak dan Soekasmo dalam rapat rahasia menetapkan susunan tempur. Susunan tempur ini ditempatkan di beberapa sektor atau daerah di bawah pengawasan pimpinan pusat tempur. Yang pertama yaitu kelompok khusus I KNIL yang pro Indonesia/BPRI di bawah komando Romodiwirjo.</p>
<p>Kemudian kelompok khusus II Inti Tenaga Tempur BPRI yang terdiri dari eks Heiho di antaranya Toekiman, Gondo, Diman Rachim dan Kusbi yang bertindak sebagai komandan dan wakil komandan tempur. “Mereka dibantu seluruh eks Heiho yang berpengalaman bertempur melawan pasukan Sekutu Australia tahun 1944 sampai 1945,” ungkapnya.</p>
<p>Sektor-sektor tempur yang disusun meliputi Sektor I Jalan Nanas, Sektor Sungai Bogam, Sektor III Sangasanga dan Bantuas, Sektor Kampung Jawa/Distrik VII, Sektor Bangsal Utan, Sektor Distrik IV dan V. Sektor-sektor lainnya yaitu Sektor Louis dan Dok, Sektor Bangsal Utan, Sektor Louis Seberang dan Sungai Banyiur.</p>
<p>Ada juga Sektor Tanjung Periuk, Sektor Sepuluh-sepuluh Gedongan Waterleiding, Pasukan Srikandi, Sektor Muara dan sekitar bagian laut, Sektor Anggana Sungai Meriam. Pasukan para pejuang ini juga mendapat mendapat tenaga bantuan dari Algameene Polisi yang dipimpin Ali Badrun dan Sabri T.</p>
<p>“Kelompok alim ulama menjadi penasihat perjuangan mereka. Para ulama ini dipimpin oleh H Sulaiman, Habib Abdul Muthalib, Amit, Bilal, Abdussamad Salman, Asmuni, Guru Imran, dan Arpan,” urai Hamdani.</p>
<p>Meski rencana penyerangan di awal tahun gagal, tidak menyurutkan semangat para pejuang Sangasanga yang pantang menyerah. Mereka kembali merencanakan gerakan pada 28 Januari 1947. Namun rencana gerakan ini kembali dicium Belanda. Bukannya ciut nyalinya, para pejuang malah memajukan waktu gerakan menjadi tanggal 27 Januari 1947 sekira pukul 05.00 Wita.</p>
<p>Gerakan ini rencananya dimulai dengan menguasai tangsi KNIL. Sebelum dan selama aksi, diadakan keramaian berupa hiburan sebagai kamuflase. “Sebelum melakukan serangan 27 Januari, para eks Heiho dan para pejuang melakukan latihan-latihan kemiliteran terlebih dulu,” tandas Hamdani. <strong>(luk/bersambung)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/berangkat-dari-gerakan-bawah-tanah-menentang-belanda/">Berangkat dari Gerakan Bawah Tanah Menentang Belanda</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
