<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>warga vs orang utan Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/warga-vs-orang-utan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/warga-vs-orang-utan/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Jun 2024 06:10:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>warga vs orang utan Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/warga-vs-orang-utan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Orang Utan Terekam Bermain, Diduga di Kompleks LNG Badak</title>
		<link>https://bontangpost.id/orang-utan-terekam-bermain-diduga-di-kompleks-lng-badak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Jun 2024 06:10:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Bayi Orang Utan]]></category>
		<category><![CDATA[Habitat Orang Utan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Utan]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=127639</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Individu orang utan terekam tengah berada di kompleks perumahan LNG Badak di Kota Bontang, Kalimantan Timur, Ahad, 16 Juni 2024. Video itu diunggah pertama kali oleh akun TikTok @Ala***Bo*****. Video itu ditonton puluhan ribu akun. Per pukul 21.06 terdapat 74 komentar dan 1.295 yang menyukai. Tapi tak lama video tersebut telah dihapus. Dalam [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/orang-utan-terekam-bermain-diduga-di-kompleks-lng-badak/">Orang Utan Terekam Bermain, Diduga di Kompleks LNG Badak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="p1"><span class="s1"><strong>bontangpost.id &#8211; </strong>Individu orang utan terekam tengah berada di kompleks perumahan LNG Badak di Kota Bontang, Kalimantan Timur, Ahad, 16 Juni 2024. </span></p>
<p>Video itu diunggah pertama kali oleh akun TikTok @Ala***Bo*****. Video itu ditonton puluhan ribu akun. Per pukul 21.06 terdapat 74 komentar dan 1.295 yang menyukai. Tapi tak lama video tersebut telah dihapus.</p>
<p>Dalam narasinya, pemilik akun yang merekam sambil mengendarai motor menyebut bahwa orang utan itu berada di Kompleks LNG Badak.</p>
<p class="p1"><span class="s1">Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Yaya Halim mengatakan jika Tim SKW II sudah mengecek rekaman video itu.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Betul, anggota saya sudah cek, lokasinya di Bontang,” katanya Senin, 17 Juni 2024, dilansir dari viva.com. </span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Dijelaskan dia, penyebaran orang utan di wilayah II berada di Bontang, Kutai Timur dan Kutai Kartanegara. “</span>Biasanya memang mereka sering terlihat tapi kembali lagi ke hutan,” katanya.</p>
<p class="p1"><span class="s1">Kata dia, pihaknya selalu melakukan penjagaan ketat dan pemantauan intensif. “Selama ini selalu kami pantau dan mudah-mudahan tidak ada interaksi negatif dengan masyarakat,” ujarnya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sementara, Officer Media Relation and Doc Ctrl LNG Badak, Andri Saputri, mengaku tidak bisa memastikan potongan gambar video orang utan yang tengah viral.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Kalau cuma lihat potongan gambar di atas, itu belum bisa memastikan,” katanya.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">Sementara itu, warga Bontang menanyakan perihal keselamatan orang utan tersebut.</span></p>
<p class="p1"><span class="s1">“Terus terang kami kaget juga ada orang utan di komplek LNG Badak, tapi belum tahu apakah benar di HOP atau daerah PC. Tapi yang ada hutannya di dekat HOP. Jangan sampai dia berdekatan dengan obyek vital, karena dikhawatirkan keselamatan orang utan itu sendiri,” kata warga Bontang, Maruddin. <strong>(*)</strong></span></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/orang-utan-terekam-bermain-diduga-di-kompleks-lng-badak/">Orang Utan Terekam Bermain, Diduga di Kompleks LNG Badak</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Balai TNK Lakukan Pemantauan, Orangutan akan Direlokasi </title>
		<link>https://bontangpost.id/balai-tnk-lakukan-pemantauan-orangutan-akan-direlokasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2018 03:05:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<category><![CDATA[TNK]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=33543</guid>

					<description><![CDATA[<p>SANGATTA – Balai Taman Nasional Kutai mengaku sudah memantau orangutan yang masuk di kawasan pemukiman Kampung Kajang, Kelurahan Singa Gewe, Sangatta. Hanya saja tim petugas terkendala peralatan untuk menangkap satwa liar. Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Nur Patria mengakui timnya sudah melakukan pengecekkan dan mengambil titik koordinat di wilayah tersebut. &#8220;Berbekal pengaduan warga, tim langsung [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/balai-tnk-lakukan-pemantauan-orangutan-akan-direlokasi/">Balai TNK Lakukan Pemantauan, Orangutan akan Direlokasi </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SANGATTA – Balai Taman Nasional Kutai mengaku sudah memantau orangutan yang masuk di kawasan pemukiman Kampung Kajang, Kelurahan Singa Gewe, Sangatta. Hanya saja tim petugas terkendala peralatan untuk menangkap satwa liar.<br />
Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Nur Patria mengakui timnya sudah melakukan pengecekkan dan mengambil titik koordinat di wilayah tersebut.<br />
&#8220;Berbekal pengaduan warga, tim langsung mendatangi lokasi untuk pengambilan koordinat untuk selanjutnya akan dilakukan penanganannya,&#8221; ujarnya saat dikonfirmasi, pada Rabu (7/3).</p>
<p>Dirinya menjelaskan kendala yang dihadapi timnya. Salah satunya tidak memiliki peralatan yang memadai untuk menangkap dengan metode bius, kemudian mengevakuasi satwa dilindungi tersebut.</p>
<p>&#8220;Kami sudah memikirkan cara menangkapnya. Sebisa mungkin kami tidak menyakitinya. Salah satunya dengan cara dibius. Namun kami kesulitan, pasalnya tidak adanya alat yang memadai. Sehingga sampai saat ini kami belum mampu mengevakuasi orangutan itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia mengungkapkan sudah melakukan koordinasi pada pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk membantu penangkapan hingga melepaskannya ke hutan lindung TNK.</p>
<p>&#8220;Mereka menyanggupi dan merespon baik koordinasi dari kami. Mulai dari rencana penangkapan hingga kembali dilepaskan jika kondisi hewan yang diperkirakan berukuran dua meter tersebut terbilang sehat,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dia berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim dan masyarakat sekitar dapat bekerja sama dan membantu<br />
dalam hal apapun.</p>
<p>Kepala Seksi Pengaman Taman Nasional (SPTN) I Sangatta, Budi mengatakan mereka terus lakukan pantauan. Baginya hal seperti ini harus dipelajari secara terperinci. Tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Menurutnya hewan tersebut tidak akan masuk ke pemukiman jika habitatnya tidak terganggu.</p>
<p>&#8220;Biasanya hewan seperti itu tidak akan masuk ke pemukiman warga jika tempat tinggalnya tidak terusik. Itulah alasan kami harus melalukan investigasi terlebih dahulu dan tidak bisa terburu-buru. Setelah kami pelajari lalu akan dilakukan relokasi ke tempat yang seharusnya&#8221; ujarnya. (*/la)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/balai-tnk-lakukan-pemantauan-orangutan-akan-direlokasi/">Balai TNK Lakukan Pemantauan, Orangutan akan Direlokasi </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Khusus Orangutan, Disediakan Hutan Wehea</title>
		<link>https://bontangpost.id/khusus-orangutan-disediakan-hutan-wehea/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2018 03:04:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=33540</guid>

					<description><![CDATA[<p>SANGATTA &#8211; Kekayaan Kutim akan keanekaragaman hayati perlu dijaga dari oknum tak bertanggung jawab. Masih banyak orangutan maupun bekantan, spesies yang serupa seperti kera dan monyet yang berkeliaran di alam liar Kutim, namun dekat dengan lingkungan warga. Seperti kasus sebelumnya, lima warga yang melakukan penembakan terhadap orangutan di lingkungan TNK kawasan Teluk Pandanpada 5 Februari [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/khusus-orangutan-disediakan-hutan-wehea/">Khusus Orangutan, Disediakan Hutan Wehea</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SANGATTA &#8211; Kekayaan Kutim akan keanekaragaman hayati perlu dijaga dari oknum tak bertanggung jawab. Masih banyak orangutan maupun bekantan, spesies yang serupa seperti kera dan monyet yang berkeliaran di alam liar Kutim, namun dekat dengan lingkungan warga.</p>
<p>Seperti kasus sebelumnya, lima warga yang melakukan penembakan terhadap orangutan di lingkungan TNK kawasan Teluk Pandanpada 5 Februari lalu.</p>
<p>Kini kasus tersebut masih terus diusut oleh Polres Kutim. Sebab, Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan mengaku tidak menutup kemungkinan adanya keterkaitan tersangka dengan pelaku pembunuh orangutan Kaluhara pada Mei 2016 yang belum terpecahkan.</p>
<p>Sementara itu, orangutan lainnya baru saja ditemukan masuk ke lingkungan warga di Jalan Kampung Kajang, Kelurahan Singa Geweh, Kecamatan Sangatta Selatan, Kutim, pada Selasa (6/3).</p>
<p>Meski terdengar aneh, karena kawasan tersebut merupakan eks lokalisasi, namun orangutan tersebut benar beberapa kali sempat berkeliaran di sana.</p>
<p>Kasi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TNK Boedi Isnaini mengatakan orangutan tersebut berkeliaran di luar kawasan TNK. Namun, tetap diperhatikan, karena sempat ada warga yang akan menembaknya, akan tetapi dilarang. Kemudian Orangutan tersebut dibiarkan bebas begitu saja.</p>
<p>&#8220;Sebab Kampung Kajang dekat dengan kawasan hutan,&#8221; ujarnya Rabu (7/3) kemarin.</p>
<p>Sementara di kawasan lainnya, lanjut dia, juga banyak berbagai jenis kera, tak hanya orangutan. Seperti di Tanjung Prancis, Tanjung Bara, Kaliorang, Sangatta Selatan, juga terdapat kera jenis bekantan. Hewan tersebut masih berkeliaran bebas.</p>
<p>&#8220;Kami sudah pelajari bagaimana cara mereka hidup. Bekantan itu tidak hanya bertempat di satu sarang. Ketika mendapat makan di sebuah pohon, maka dia akan bermalam di pohon tersebut. Bergilir ke pohon lainnya pada esoknya, hingga seterusnya,&#8221; ungkap Boedi.</p>
<p>Anggota Komisi D DPRD Kutim Herlang yang mengelola Pulau Tanjung Prancis mengaku banyak hewan liar langka di pulau tersebut. Namun, semua hewan itu dilindungi, sehingga akan diakomodir agar bisa menjadi daya tarik wisata pulau.</p>
<p>&#8220;Tak hanya bekantan, ada juga penyu, babi, buaya, dan berbagai jenis hewan yang langka lainnya. Itu harus dijaga,&#8221; ungkap dia.</p>
<p>Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Sunandar menjelaskan banyak hewan yang dilindungi berada di Kutim, namun berkeliaran secara bebas.</p>
<p>Tak hanya orangutan, buaya pun sangat banyak dijumpai di Kutim. Akan tetapi , buaya sesekali berbahaya bagi keselamatan warga.</p>
<p>&#8220;Untuk orangutan, sudah kami sediakan hutan bebas khusus, di Muara Wahau, hutan Wehea. Itu akan menjadi kawasan khusus untuk hewan liar yang dilindungi seperti orangutan,&#8221; kata dia, belum lama ini. (dy)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/khusus-orangutan-disediakan-hutan-wehea/">Khusus Orangutan, Disediakan Hutan Wehea</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Polres ‘Buka Lagi’ Kasus Pembantaian Orang Utan 2 Tahun Lalu</title>
		<link>https://bontangpost.id/polres-buka-lagi-kasus-pembantaian-orang-utan-2-tahun-lalu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Feb 2018 03:03:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=32581</guid>

					<description><![CDATA[<p>SANGATTA &#8211; Pembunuhan orang utan di Taman Nasional Kutai (TNK)  Kecamatan Teluk Pandan bergulir panjang.  Pasalnya,  Polres Kutim berjanji akan kembali menguak kasus lama pembunuhan orang utan  pada Mei  tahun 2016 silam di TNK. Meskipun sudah lama,  akan tetapi kasusnya belum kedaluwarsa. Masih dapat diselidiki.  Terlebih,  pelaku pembunuh Kaluhara (nama orang utan) belum tertangkap hingga [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/polres-buka-lagi-kasus-pembantaian-orang-utan-2-tahun-lalu/">Polres ‘Buka Lagi’ Kasus Pembantaian Orang Utan 2 Tahun Lalu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SANGATTA &#8211; Pembunuhan orang utan di Taman Nasional Kutai (TNK)  Kecamatan Teluk Pandan bergulir panjang.  Pasalnya,  Polres Kutim berjanji akan kembali menguak kasus lama pembunuhan orang utan  pada Mei  tahun 2016 silam di TNK.</p>
<p>Meskipun sudah lama,  akan tetapi kasusnya belum kedaluwarsa. Masih dapat diselidiki.  Terlebih,  pelaku pembunuh Kaluhara (nama orang utan) belum tertangkap hingga saat ini.</p>
<p>&#8220;Bakal dicoba usut kembali. Meskipun kasus tersebut merupakan kejadian yang sudah lama, namun belum terkuak pelakunya,&#8221; ujar AKBP Teddy Ristiawan.</p>
<p>Teddy pun memerintahkan kepada jajaran satuan reserse kriminal (Satreskrim) untuk mencoba mencari benang merah dalam kasus tersebut.</p>
<p>&#8220;Tidak menutup kemungkinan adanya keterkaitan antara kasus pembunuhan orang utan pada Mei 2016 tersebut dengan kasus kali ini. Apa ada kaitannya para tersangka dengan kasus sebelumnya,  itu yang bakal dicoba telusuri,&#8221; katanya.</p>
<p>Mengenai kasus yang tengah heboh 2018 ini,  pihaknya mengaku proses hukum  terus berlanjut.</p>
<p>Setelah melalui tahapan rekonstruksi, Rabu (21/2), Polres Kutim bakal terus mengungkap lingkaran misteri kasus tersebut.</p>
<p>Setelah rekonstruksi dilaksanakan, hasilnya membuat Polres Kutim ingin melakukan pendalaman lebih lanjut, sembari pemberkasan berjalan. Bahkan, direncanakan akan ada saksi tambahan baru.</p>
<p>Salah satunya ialah istri dari tersangka Muis (55) bakal dijadikan saksi. Tak hanya itu, tetangga lainnya juga akan dijadikan saksi tambahan untuk melengkapi pendalaman kasus.</p>
<p>Istri Muis dijadikan saksi lantaran,  pada saat kejadian penembakan terhadap orangutan pada 3 Februari beberapa pekan lalu, ia sedang berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Bahkan turut menyaksikan jalannya aksi penembakan.</p>
<p>&#8220;Kenapa dijadikan saksi,  karena ada pada saat terjadi penembakan,&#8221; tambah Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Yuliansyah.</p>
<p>Karenanya,  untuk sementara ini baru menjadi saksi. Belum dapat disimpulkan sebagai tersangka.  Meskipun diakui dirinya mengetahui aksi penembakan tersebut.</p>
<p>&#8220;Sebab, para tersangka termasuk istrinya M (Muis) mengaku tidak mengetahui tentang aturan bahwa orangutan merupakan hewan yang dilindungi. Jadi, sementara hanya dijadikan saksi saja istrinya,&#8221; katanya.</p>
<p>Bahkan, lanjut Yuliansyah berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap lima tersangka, mereka baru kali itu melihat langsung orang utan. Meskipun diakui,  sebelumnya mereka pernah menjumpai kebunnya dirusak yang diduga akibat perbuatan orang utan.</p>
<p>&#8220;Mereka (tersangka dan istri Muis) mengaku baru pertama kali melihat dan mendengar suara orangutan,&#8221; katanya.</p>
<p>Disinggung penambahan saksi warga terdekat untuk membuktikan pengakuan tersangka,  pihaknya mengaku akan melakukan  hal tersebut.</p>
<p>&#8220;Untuk sementara, hanya lima tersangka saja untuk kasus ini. Tapi kami akan terus lakukan pendalaman lagi,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebelumnya,  dari hasil rekonstruksi tergambarkan ketika Muis pertama kali menembaki orang utan yang berada di atas pohon di tepi danau.</p>
<p>Hewan tersebut mencoba melawan. Yakni, dengan turun dari pohon lalu datang ke arah Muis. Merasa terancam, dia langsung lari ke arah kediaman Nasir untuk meminta bantuan.</p>
<p>Nasir yang ingin menjaga cucunya He (13) berserta istrinya, dan menantunya yang merupakan anak istri tersangka Andi (37), maka dia turut membawa senapan.</p>
<p>Singkat cerita, ketika Andi dan tersangka Rustam (37) sudah bergabung di TKP ketiga melakukan penambahan ditiga lokasi berbeda.</p>
<p>Akhirnya,  orang utan tersebut dilarikan kerumah sakit.  Dari hasil pemeriksaan,  sedikitnya 130 tembakan  ditemukan di badan dan kepada orang utan. (dy)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/polres-buka-lagi-kasus-pembantaian-orang-utan-2-tahun-lalu/">Polres ‘Buka Lagi’ Kasus Pembantaian Orang Utan 2 Tahun Lalu</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Haru Menghiasi Perpisahan Tersangka dan Keluarga</title>
		<link>https://bontangpost.id/haru-menghiasi-perpisahan-tersangka-dan-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Feb 2018 03:56:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[rekonstruksi]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=32545</guid>

					<description><![CDATA[<p>MESKI sempat dibuat geram dengan perbuatan tersangka yang telah menembak orang utan hingga menyebabkan kematian, keempat tersangka masihlah memiliki hati nurani. Hal itu terbukti ketika keempatnya usai menjalani rekonstruksi penembakkan di lokasi kejadian yang notabene-nya merupakan kebun dan rumah mereka, kemudian berpamitan dengan keluarganya. Tangisan pun pecah dari anak perempuan tersangka Nasir yang baru tiba, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/haru-menghiasi-perpisahan-tersangka-dan-keluarga/">Haru Menghiasi Perpisahan Tersangka dan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>MESKI sempat dibuat geram dengan perbuatan tersangka yang telah menembak orang utan hingga menyebabkan kematian, keempat tersangka masihlah memiliki hati nurani. Hal itu terbukti ketika keempatnya usai menjalani rekonstruksi penembakkan di lokasi kejadian yang notabene-nya merupakan kebun dan rumah mereka, kemudian berpamitan dengan keluarganya.</p>
<p>Tangisan pun pecah dari anak perempuan tersangka Nasir yang baru tiba, usai “diungsikan” sementara agar proses rekonstruksi berjalan lancar. Anak dari Nasir itu merupakan istri dari tersangka Andi. Sambil menggendong anak perempuannya yang baru berusia 8 bulan, wanita yang enggan namanya dikorankan itu memberikan anaknya ke Andi (suaminya) dan langsung memeluk bapaknya yakni tersangka Nasir.</p>
<p>Seketika itu juga, suasana haru menyelimuti halaman kediaman nasir. Hingga para polisi dari satuan Dalmas pun ikut terhanyut di dalamnya. Sementara istri Andi masih menangis di pelukan ayahnya, Nasir. Andi pun dengan sedih menciumi anak perempuannya yang akan dia tinggalkan selama dalam tahanan. Bayi berusia 8 bulan itu seperti kebingungan ayahnya hendak pergi kemana, tak ada wajah ceria di mukanya. Seolah dia mengerti bahwa itu merupakan pelukan dan ciuman perpisahan dari ayahnya untuk sementara.</p>
<p>Kesedihan tidak hanya dialami oleh Nasir dan Andi. Rustam yang saat itu sudah berada dalam mobil polisi juga tak bisa menahan tangisnya. Diam-diam dia menangis yang juga disusul oleh tangisan Muis. Meskipun Muis bukan keluarga dari Nasir, tetapi betapa hancurnya, anggota keluarga laki-laki di rumah Muis harus merasakan dinginnya jeruji besi. Semua itu, karena ketidaktahuan mereka atas perlakuannya terhadap orang utan yang merupakan satwa dilindungi.</p>
<p>Disinggung mengenai penyesalan, Nasir hanya menjawab perbuatannya sudah terlanjur terjadi. “Saya hanya bisa pasrah, mau gimana lagi,” ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, tersangka Muis bercerita bahwa dirinya menembak orang utan karena melampiaskan kekesalannya akibat belum bisa memberikan uang banyak kepada ibunya. Kata dia, ibunya yang datang dari Sulawesi itu meminta terus pulang ke Sulawesi. Namun, dia menahannya karena menunggu panen agar mendapat uang lebih banyak dan bisa memberikan pada ibunya. Tetapi ibunya tak mau menunggu dan ingin segera pulang. Karena kesal, dia pun saat mendengar suara orang utan langsung menembaknya dengan membabi buta. Muis yang baru saja membeli senapan angin memiliki bonus 2 kotak peluru saat membelinya. Satu kotak peluru berisi 50 butir, sedangkan dirinya menghabiskan 1 kotak lebih peluru untuk menembak orang utan. “Saya kesal sendiri karena belum memiliki cukup uang untuk memberi bekal ibu saya, makanya saat ada orang utan saya lampiaskan, itu senapan baru beli, dan baru itu juga saya gunakan,” ungkapnya.</p>
<p>Sebelumnya dirinya belum pernah melihat orang utan, hanya saja di beberapa pohon durian banyak ranting yang dipatahkan. Muis sendiri memiliki lahan sawit seluas 1 hektar dari hasil dari hasil ganti ruginya kepada penggarap sebelumnya sebesar Rp 5 juta.</p>
<p>Terpisah, penasehat hukum atau kuasa hukum dari ke-4 tersangka mengupayakan keringanan hukuman terhadap kliennya. Pasalnya, keempat kliennya tersebut belum pernah dipidana. Sehingga, hal tersebut bisa menjadi pertimbangan hakim saat persidangan nanti. “Pembelaan akan kami susun saat persidangan nanti,” ujar Pengacara Adam Jamaluddin.</p>
<p>Kata dia, para kliennya ini hanya merupakan sebagian masyarakat awam yang tidak mengetahui kalau menembak orang utan itu bisa dipidana. Sehingga pihaknya akan merancang kembali pembelaan saat persidangan. “Karena ada unsur keringanan tuntutan mengingat para tersangka belum pernah dipidana,” tutupnya.(mga)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/haru-menghiasi-perpisahan-tersangka-dan-keluarga/">Haru Menghiasi Perpisahan Tersangka dan Keluarga</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengaku Stres, Tega Tembak Orangutan</title>
		<link>https://bontangpost.id/mengaku-stres-tega-tembak-orangutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Feb 2018 03:06:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=32184</guid>

					<description><![CDATA[<p>SANGATTA &#8211; Tersangka kasus pembunuhan satwa dilindungi (orangutan) di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) telah ditangkap. Lima orang warga Teluk Pandan tersebut telah ditetapkan sejak 16 Februari 2018. Dengan tuntutan hukuman lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah. Kelima tersangka memiliki peranan masing-masing. Tersangka satu, Muis Bin Cebun (36) yang pertama mengetahui adanya orangutan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mengaku-stres-tega-tembak-orangutan/">Mengaku Stres, Tega Tembak Orangutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SANGATTA &#8211; Tersangka kasus pembunuhan satwa dilindungi (orangutan) di kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) telah ditangkap. Lima orang warga Teluk Pandan tersebut telah ditetapkan sejak 16 Februari 2018. Dengan tuntutan hukuman lima tahun penjara dan denda 100 juta rupiah.</p>
<p>Kelima tersangka memiliki peranan masing-masing. Tersangka satu, Muis Bin Cebun (36) yang pertama mengetahui adanya orangutan dikebun nanasnya. Tersangka dua, Nasir (55) bersama cucunya, Tersangka tiga, Hendri (13)  membantu tersangka satu menembak orangutan. Tersangka empat menantu Nasir, Andi (37). Dan tersangka lima, anak Nasir, Rustam (37). Juga membantu menembak orangutan hingga lebih dari 120 tembakan. Dengan barang bukti empat buah senapan angin.</p>
<p>Tersangka satu, Muis menjelaskan alasan dirinya menembak orangutan karena sedang stres. Pasalnya ibunya akan pulang. Dia mengakui kebingungan sehingga melampiaskan perasaannya dengan menembak orangutan tersebut.</p>
<p>&#8220;Saya stres sekali. Pusing ibu saya mau pulang. Kebetulan saya dengar suara orangutan sangat berisik. Bergegas saya mendatangi kebun dengan membawa senapan angin. Lalu saya tembak,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Saat melakukan penembakan,  dirinya melihat orangutan tersebut teriak-teriak. Sehingga ia memutuskan memanggil beberapa temannya untuk membantunya melenyapkan hewan khas Kalimantan tersebut. Dia mengaku tak mengetahui jika binatang tersebut dilindungi.</p>
<p>&#8220;Awalnya saya sendirian. Melihat hewan itu ngamuk, saya panggil H.Nasir. Lalu kami kejar terus ketika orangutannya lari. Saya sama sekali tidak tahu jika binatang itu dilindungi negara,&#8221; paparnya.</p>
<p>Menurutnya kejadian tersebut baru pertama kali mereka lakukan. Perihal ditemuinya sayatan senjata tajam ditubuh orangutan dirinya tidak mengetahuinya.</p>
<p>Ia mengakui hanya menggunakan senapan angin saja. Yang biasa ia gunakan untuk menembak biawak. Tidak ada sajam satupun.</p>
<p>&#8220;Ini pertamakalinya saya melihat orangutan. Baru sekali ini pula kami menembaknya. Saya sama sekali tidak mengetahui adanya sayatan tersebut,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Atas semua perbuatan yang telah dilakukannya, dirinya sangat menyesali atas kejadian tersebut. Dia mengungkapkan jika saja mengetahui orangutan dilindungi, ia tidak akan menembaknya.</p>
<p>&#8220;Saya sangat menyesal sekali telah menembaknya. Semoga hal ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang kembali,&#8221; tutupnya. (*/la)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mengaku-stres-tega-tembak-orangutan/">Mengaku Stres, Tega Tembak Orangutan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lahan Dirusak Orang Utan,  Pemkab Siap Ganti </title>
		<link>https://bontangpost.id/lahan-dirusak-orang-utan-pemkab-siap-ganti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Feb 2018 03:05:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[lahan warga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Utan]]></category>
		<category><![CDATA[warga vs orang utan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=32180</guid>

					<description><![CDATA[<p>SEKDA Irawansyah mewakili Pemkab Kutim cukup geram melihat ulah warga yang membunuh Orang Utan yang terjadi di Taman Nasional Kutai (TNK) Kecamatan Teluk Pandan pekan lalu. Dirinya meminta pelaku dihukum seberat mungkin.  Sesuai dengan perbuatannya masing masing.  Baik yang sudah mengerti maupun tidak tentang larangan membunuh hewan dilindungi. &#8220;Kami sangat apresiasi Polres Kutim karena sudah [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/lahan-dirusak-orang-utan-pemkab-siap-ganti/">Lahan Dirusak Orang Utan,  Pemkab Siap Ganti </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SEKDA Irawansyah mewakili Pemkab Kutim cukup geram melihat ulah warga yang membunuh Orang Utan yang terjadi di Taman Nasional Kutai (TNK) Kecamatan Teluk Pandan pekan lalu.</p>
<p>Dirinya meminta pelaku dihukum seberat mungkin.  Sesuai dengan perbuatannya masing masing.  Baik yang sudah mengerti maupun tidak tentang larangan membunuh hewan dilindungi.</p>
<p>&#8220;Kami sangat apresiasi Polres Kutim karena sudah berhasil menangkap tersangka,&#8221; ujar Sekda Irawansyah.</p>
<p>Saking kesalnya,  dirinya menawarkan para pemilik kebun untuk membuat aduan kerusakan kebun yang disebabkan oleh orang utan.  Pemkab siap untuk  memberikan uang ganti rugi kepada mereka. Asal,  tidak menyakiti orang utan yang berada di sekitar perkebunan.</p>
<p>&#8220;Laporkan kepada pemerintah. Kita siap ganti kerusakan itu. Asal orang utan aman,  tidak dibunuh,  ditembak,  dan lainnya,&#8221; pintanya.</p>
<p>Selain memberikan jaminan tersebut,  pihaknya juga mengaku terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak berbuat buruk kepada hewan dilindungi.</p>
<p>&#8220;Kami berikan penyuluhan kepada pemilik kebun.  Kebun terjaga,  hewan terjaga. Kalau melukai apalagi membunuh,  maka  Ini akan kerugian bagi masyarakat sendiri.  Kan di penjara,&#8221; katanya.</p>
<p>Kedepan,  tak ada lagi kasus serupa yang  merugikan orang utan.  TNK juga diminta tegas terhadap permasalahan ini.  Bagi mereka yang merusak hutan dan mengganggu binatang segera diberikan  teguran keras.</p>
<p>&#8220;TNK dilarang berkebun. Kecuali kawasan enclave. Intinya kami tak ingin  kasus ini terulang kembali,&#8221; katanya. (dy)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/lahan-dirusak-orang-utan-pemkab-siap-ganti/">Lahan Dirusak Orang Utan,  Pemkab Siap Ganti </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
