BONTANGPOST.ID, Bontang – Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Bontang Surya Dwi Saputra, menanggapi sejumlah keluhan terkait program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan ke sekolah-sekolah.
Keluhan yang mencuat antaralain menu yang monoton, kualitas bahan yang kurang layak, hingga kasus makanan basi. Surya menegaskan BGN akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap lima dapur MBG yang ada di Bontang.
“InsyaAllah setiap dapur akan kami evaluasi. Nanti kami rapatkan bersama ahli gizi, mitra, serta kepala SPPG agar menu lebih bervariasi,” ujarnya.
Ia mengakui keterbatasan anggaran menjadi faktor utama. Dari Rp15 ribu per porsi, hanya sekitar Rp10 ribu yang bisa digunakan untuk bahan makanan. Selebihnya dialokasikan untuk biaya operasional seperti gaji, listrik, dan air.
Selain itu, masih banyak dapur yang bergantung pada tenaga masak ibu rumah tangga, sehingga kreativitas dalam mengolah menu belum maksimal.
Terkait temuan makanan basi dan bahkan ulat, Surya menyampaikan permohonan maaf. Menurutnya, bahan seperti buah, sayur, maupun kecambah memang rentan cepat rusak bila tercampur hawa panas dari nasi atau lauk.
“Kami akan evaluasi jam masak dan pengiriman. Ke depan, sistem dua shift masak akan diterapkan agar makanan tetap segar saat tiba di sekolah,” jelasnya.
Jika evaluasi tidak membawa perubahan signifikan, BGN membuka opsi perombakan tenaga dapur maupun sistem pengelolaan.
“Kalau tidak ada perbaikan, bisa jadi kami rombak sistem atau SDM di dapur,” tegasnya. (ak)






