BONTANG – Maraknya penyebaran berita bohong alias hoaks membuat gerah berbagai pihak. Termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang. Khususnya terkait kabar-kabar adanya bencana yang bisa meresahkan masyarakat. Dalam hal ini masyarakat Kota Taman diminta bijak menanggapi kabar-kabar yang beredar di media sosial.
Hal ini diungkapkan Kepala BPBD Bontang, Ahmad Yani. Dia mengimbau masyarakat untuk tidak menerima mentah-mentah informasi terjadinya bencana yang beredar melalui media sosial atau aplikasi pesan seperti Facebook dan WhatsApp (WA). Dalam hal ini, masyarakat diminta menanyakannya kepada pihak berwenang untuk memastikan kevalidan informasi yang beredar.
“Saya sampaikan begini, ketika mendengar seperti itu (kabar bencana, Red.) jangan langsung disampaikan (disebarkan, Red.). Saya sendiri walaupun dikirimi kabar seperti itu tidak langsung percaya,” kata Ahmad Yani saat ditemui Bontang Post beberapa waktu lalu.
Pasalnya, bisa saja kabar yang beredar tersebut merupakan hoaks yang bisa membuat panik dan meresahkan masyarakat. “Kadang-kadang hoaks, jangan disebarkan karena itu membahayakan, itu bikin panik,” imbuhnya.
Di satu sisi, kabar bencana yang sudah dipastikan kebenarannya pun tidak juga berarti aman untuk disebarkan. Dalam hal ini, ada kabar-kabar bencana tertentu yang memang terjadi, namun tidak boleh diungkap ke masyarakat. Hal ini lantaran bencana yang dimaksud tidak membahayakan, namun justru bisa menciptakan kepanikan di masyarakat apabila informasinya disebarluaskan.
“Ada juga memang kejadian, tapi tidak terlalu diekspos. Kejadian itu sebenarnya tidak terlalu besar dampaknya. Tetapi ketika informasinya disebarkan dari ponsel ke ponsel, justru bisa bikin banyak orang panik,” tegas Yani.
Contohnya kejadian gempa dan getaran yang berada di perairan Bontang beberapa waktu lalu. Kejadian tersebut sempat beredar dan viral di media sosial. Padahal menurut Yani, gempa dan getaran yang dimaksud tergolong kejadian yang tidak membahayakan masyarakat. Namun akibat informasi yang terlanjur tersebar luas, sempat menimbulkan pertanyaan di masyarakat.
“Beberapa orang telepon menanyakan kabar yang sudah beredar di WA. Katanya Bontang terkena gempa dan getaran. Orang-orang jadi ribut,” ungkapnya.
BPBD lantas diminta mengonfirmasi kebenaran kabar tersebut. Yani menyatakan, memang gempa dan getaran itu benar terjadi. Namun lokasinya berada sejauh 120 kilometer dari Kota Bontang. Dengan kedalaman 10 kilometer di bawah laut. Sehingga dianggap tidak membahayakan.
“Saya bilang jangan disebarkan. Kalaupun disebarkan, harus ada penjelasan bahwa kejadian itu tidak membahayakan. Tapi kadang-kadang malah disebarkan dengan ditambahi informasi kalau getaran ini ada kaitannya dengan gempa Lombok. Kan kacau itu,” tambahnya.
BPBD sendiri, sebut Yani, selalu menginformasikan kondisi kerawanan Bontang berikut potensi bencana yang mungkin terjadi kepada masyarakat. Salah satunya melalui penggunaan aplikasi pesan WA. Dalam hal ini, dia selalu melaporkan kondisi Bontang terkait potensi bencana melalui grup WA yang beranggotakan para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Bontang.
“Kami dapat informasi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Red.) yang lantas diteruskan ke dalam grup. Sehingga seluruh kepala dinas dan lurah di Bontang tahu. Misalnya ketika ada gelombang tinggi, lurah bisa mengingatkan warganya melalui ketua RT masing-masing. Tapi tergantung lurahnya juga apakah meneruskan informasi itu kepada para ketua RT atau tidak,” beber Yani. (luk)







