• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Breaking News

Dua Bayi di Kutim Idap HIV

by BontangPost
24 Desember 2018, 15:25
in Breaking News
Reading Time: 2 mins read
0
BERI PENJELASAN: Sekretaris KPAD Kutim, Harmadji sedang menjelaskan penanganan bayi pengidap HIV/AIDS.(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)

BERI PENJELASAN: Sekretaris KPAD Kutim, Harmadji sedang menjelaskan penanganan bayi pengidap HIV/AIDS.(LELA RATU SIMI/SANGATTA POST)

Share on FacebookShare on Twitter

SANGATTA – Kasus HIV/AIDS di Kutai Timur (Kutim) semakin memprihatinkan saja. Ironisnya, penanganan terhadap pengidapnya belum maksimal. Terbukti, dua bayi dengan HIV positif yang dilaporkan di 2017, kembali terdeteksi di 2018. Rupanya, kedua bayi ini belum mendapat penanganan yang memadai.

Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kutim, Harmadji Partodarsono menuturkan, dua bayi itu belum ditangani lantaran usianya saat ini masih tergolong rentan untuk diberi pengobatan. “Beberapa bayi yang terlahir, sudah mengidap penyakit ini. Ada beberapa penyebabnya, tapi biasanya karena tertular ibunya. Bisa juga dari ASI atau terjangkit sejak dalam rahim,” kata dia.

Disebutkan, keberadaan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tersebar di 15 kecamatan di Kutim. Sebanyak 133 ODHA bertahan hidup dan beraktivitas sehari-hari. Mayoritas ODHA, yaitu sebanyak 84 persen, berusia rentang 25 sampai 50. Namun ada juga beberapa di antaranya masih bayi.

Baca Juga:  Upaya Pemkot Putus Rantai Penyebaran HIV 

Harmadji menjelaskan, penularan dari ibu ke bayi (PKIB) membutuhkan penanganan khusus. Bayi tidak dapat langsung diberi obat, namun harus ditunggu hingga usianya memenuhi syarat untuk diberi obat. Yakni saat menginjak umur 18 bulan.

“Bayi yang tahun lalu terus dipantau. Hanya saja belum bisa diberi obat. Nanti setelah satu setengah tahun, baru akan dimulai,” bebernya.

Berbeda dengan penanganan orang dewasa yang harus mengonsumsi obat sampai seumur hidup. Dalam menangani anak-anak tidak harus seperti itu. Dalam penanganan kasus ini, anak-anak bebas meminum obat hingga usianya yang ke-10 tahun.

“Kalau anak-anak sampai batas 10 tahun boleh tidak meminum obat lagi. Asal hidup normal tidak stres. Juga gizi dan nutrisi mencukupi,” papar Harmadji.

Kasus seperti ini tidak hanya ditemui di Kutim. Namun kerap terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Sehingga kementerian telah memprogram upaya pencegahan bayi dengan HIV/AIDS. “Program kementerian yang mewajibkan ibu hamil tes HIV, mulai dicetuskan sejak 2016. Kemudian 2017 mulai disosialisasikan. Hingga 2018 dilaksanakan dan mencapai 100 persen,” terangnya.

Baca Juga:  Waspadai Penularan HIV AIDS! 

Katanya, dengan program seperti ini, ibu hamil akan diperlalukan khusus dalam penanganannya. Agar bayi dalam kandungan dapat dicegah sedini mungkin. “Namun jika penanganannya benar seperti di sejumlah negara maju, mereka yang mengidap HIV/Aids sejak bayi, dapat sembuh dan bertahan hidup. Hingga usia mencapai 50 tahun atau lebih,” bebernya.

Harmadji menegaskan, bayi dengan penyakit ini bukan berarti disebabkan oleh perilaku seks orangtua yang menyimpang. Namun bisa jadi karena jarum suntik yang bergantian atau hal lainnya. “Paradigma bahwa bayi ini sakit karena orangtuanya bejat itu belum tentu benar. Tapi masih banyak penyebab tidak disengaja lainnya. Tapi jangan dimusuhi, bawa saja mereka berobat di rumah sakit dan gratis,” pintanya.

Baca Juga:  Penderita HIV/AIDS Sulit Diawasi

Dia mengatakan, ibu dengan HIV/AIDS hanya boleh menyusui jika sel imunitas atau CD4 nya tinggi. Minimal 800 dan virusnya rendah. “Kalau CD4 nya rendah, tidak boleh menyusui. Hingga kembali meninggi dan virusnya hampir tidak ada. Jika memang CD4 nya rendah harus mengonsumsi Anti Retro Viral (ARV),” katanya.

Penyakit ini juga tidak serta merta menular begitu saja. Sehingga ia meminta pada masyarakat agar tidak menjauhi ODHA.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Bahrani mengatakan kejadian seperti ini memang kerap terjadi. Hingga pihaknya memiliki program khusus dalam penanganan. “Masih banyak yang belum terdeteksi. Hal seperti ini akan kami awasi agar dapat ditekan di tahun-tahun mendatang. Mengingat yang terpantau saat ini hanya ujungnya saja, belum terlalu dalam,” paparnya. (*/la)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: Balitahiv aids
Share116TweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Terkait Harga TBS, Petani Sawit Pilih Gerak Sendiri

Next Post

Tegaskan Hanya Boleh Satu KTP-el

Related Posts

Balikpapan Masuk Zona Merah HIV, Homoseks dan Pengguna Narkoba Suntik Kelompok Paling Rentan
Kaltim

Balikpapan Masuk Zona Merah HIV, Homoseks dan Pengguna Narkoba Suntik Kelompok Paling Rentan

10 September 2025, 11:00
Ratusan Mahasiswa Bandung Positif Terinfeksi HIV AIDS
Kesehatan

Ratusan Mahasiswa Bandung Positif Terinfeksi HIV AIDS

26 Agustus 2022, 16:30
Penderita HIV/AIDS Sulit Diawasi
Bontang

Penderita HIV/AIDS Sulit Diawasi

6 Desember 2019, 15:06
Kisah 14 Anak dengan HIV/AIDS Ditolak Bersekolah di Solo
Feature

Kisah 14 Anak dengan HIV/AIDS Ditolak Bersekolah di Solo

19 Februari 2019, 17:00
Rangkaian Bulan K3, Pupuk Kaltim Gelar Sosialisasi HIV/AIDS dan IMS Kepada Masyarakat Buffer Zone
Advertorial

Rangkaian Bulan K3, Pupuk Kaltim Gelar Sosialisasi HIV/AIDS dan IMS Kepada Masyarakat Buffer Zone

15 Januari 2019, 13:40
Pengidap HIV dan AIDS Menurun
Bontang

Pengidap HIV dan AIDS Menurun

20 November 2018, 17:30

Terpopuler

  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekolah Swasta Bontang Tolak Penambahan Kelas di SMA 1 dan 2, Guru Terancam Menganggur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Ringkus Perempuan di Jalan Parikesit Bontang, Sabu Disembunyikan dalam Dompet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UPTD PPA Dampingi Korban Asusila di Bontang Utara, Fokus Pemulihan Psikologis Anak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.