• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Kaltim

Alam Kaltim Kian Terancam, Setelah Batu Bara, Eksploitasi Selanjutnya Nikel

by BontangPost
27 Januari 2021, 15:00
in Kaltim
Reading Time: 3 mins read
0
Batu bara yang ditambang di Kaltim meninggalkan banyak lubang. Habis batu baranya, pengusaha mengincar nikel.

Batu bara yang ditambang di Kaltim meninggalkan banyak lubang. Habis batu baranya, pengusaha mengincar nikel.

Share on FacebookShare on Twitter

bontangpost.id – Dengan 1.735 lubang tambang, Kaltim memulai 2021 dengan pekerjaan rumah berat. Bayang-bayang bakal bebas dari industri ekstraktif cukup sulit. Meskipun energi ramah lingkungan disebut bakal digencarkan pemerintah pusat, seperti mobil listrik, namun ini jadi celah komoditas ekstraktif baru. Yakni nikel. Sementara itu, batu bara masih jadi pemandangan umum untuk dieksplorasi.

Dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim Pradarma Rupang mengatakan, lubang tambang di Kaltim tak jelas penanganannya. Ujung-ujungnya, lubang ini sudah merenggut 39 nyawa orang. “Luas lubang tambang di Kaltim itu 10,43 persen dari luas wilayah Kaltim,” ungkapnya dalam forum “Catatan dan Proyeksi Jatam 2021”  (25/1). Di sisi lain, masih banyak masalah tambang seperti konflik agraria hingga urusan pembayaran jaminan reklamasi (jamrek). Belum kelar urusan tambang sebelumnya, kini Kaltim harus menerima bahwa daerah tak lagi memiliki kuasa untuk mengelola tambangnya sendiri.

Urusan perizinan kini dikelola pusat. Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Nasional (Jatamnas) Merah Johansyah mengatakan, dengan didorongnya energi yang disebut ramah lingkungan seperti penggunaan motor atau mobil listrik, sebenarnya juga akan mendorong produksi batu bara. Sementara Kaltim jadi produsen utama batu bara di Indonesia. Sebanyak 56 proyek dari 131 proyek strategis nasional (PSN) merupakan pembangunan PLTU batu bara dengan total kapasitas yang direncanakan 13.615 megawatt (MW).

Di sisi lain, pertambangan nikel juga dilirik untuk pembuatan baterai listrik. Saat ini berbagai pulau kecil jadi tambang nikel di Indonesia. “Pulau kecil untuk tambang nikel. Pulau besar tambang batu baranya,” kata Merah. Di Kaltim salah satu desa yang pernah hendak dimasuki pertambangan nikel adalah Desa Modang, Paser. Kepala Desa Modang Syahruddin mengatakan, desa ini punya luas lahan hingga 10 ribu hektare. Di desa ini banyak perusahaan sawit dan batu bara yang hendak masuk sejak 2007. Tanah desa yang kaya ini pun disebut mengandung nikel. Namun, upaya perusahaan melakukan penambangan berhasil digagalkan. Desa ini juga memiliki sekitar 1,6 ribu hektare hutan yang masih asli dan belum digarap. Mereka pun mencoba melindungi.

“Dengan komitmen bersama pemangku kepentingan desa,” ujar dia. Ketimbang membiarkan perusahaan masuk mengeruk kekayaan alam, masyarakat desa sudah cukup menjadi petani. Untuk menambah ekonomi, mereka pun berencana mengembangkan pariwisata. Sebab, mereka memiliki sungai dan air terjun yang indah. Keindahan alam ini bisa rusak jika kawasan hulu mereka ditambang.

Baca Juga:  Pemerintah Cabut Empat Izin Usaha Pertambangan di Raja Ampat

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Puguh Harjanto mengatakan, sebenarnya sudah ada perusahaan nikel yang mau masuk di Kaltim. “Hanya, kita enggak bisa kalau hanya mentah,” kata Puguh. Lanjut dia, industri Kaltim ke depan tak bisa mengandalkan industri ekstraktif melulu. Karena itu, harus ada industri hilir. Jangan sampai bahan dijual ke luar, tapi kemudian dibeli kembali ke Indonesia dengan harga berkali-kali lipat.

Namun, saat ini urusan sumber daya mineral, diatur pusat. “Nikel itu baru pengajuan izin. Soal keharusan industri hilir, bisa diatur dengan regulasi. Cuma, sekarang kan semua di pusat. Kalau ada ruangnya untuk celah agar ada regulasi itu, bagus saja,” kata Puguh. Di sisi lain, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Ridwan Djamaluddin dalam webinar pada akhir tahun lalu, hal ini pun disinggung.

Baca Juga:  Pemerintah Cabut Empat Izin Usaha Pertambangan di Raja Ampat

“Di hulu pertambangan itu praktis lebih mudah dilakukan dengan keuntungan yang lebih besar. Namun, ketika tarik di hilir muncul istilah keekonomian bahwa nilai tambah keuntungan tidak seimbang dengan investasi (besar). Inilah sedang kita coba, sehingga keseimbangan itu terjadi,” jelas Ridwan. Aspek keekonomian, sambung Ridwan, merupakan aspek krusial atas keputusan kebijakan hilirisasi nikel di Indonesia.

“Ketika keekonomian itu dikaitkan dengan pohon industrinya atau rantai pasok dari produk-produk hilir belum berjalan sesuai harapan,” ungkapnya. Indonesia telah menempatkan diri sebagai produsen bijih nikel terbesar di dunia pada 2019. Dari 2,67 juta ton produksi nikel di seluruh dunia, Indonesia telah memproduksi 800 ribu ton, jauh mengungguli Filipina (420 ribu ton Ni), Rusia (270 ton Ni), dan Kaledonia Baru (220 ribu ton Ni). (nyc/riz/k16/kpg)

Baca Juga:  Pemerintah Cabut Empat Izin Usaha Pertambangan di Raja Ampat

 

Tags: alam kaltimnikeltambang batubara
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Dandim Jadi Relawan Pertama Divaksin Covid-19

Next Post

Jual Narkoba, Pria Pengangguran Ditangkap

Related Posts

Pemerintah Cabut Empat Izin Usaha Pertambangan di Raja Ampat
Lingkungan

Pemerintah Cabut Empat Izin Usaha Pertambangan di Raja Ampat

10 Juni 2025, 12:46

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Hari Diburu, Maling Motor Petani Marangkayu Ditangkap di Tanjung Laut Indah Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seng Penutup Jalan Gotong Royong Dibongkar Paksa, Wali Kota Neni; Fasilitas Publik Tidak Boleh Ditutup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sudah Puluhan Tahun Berdiri, Perusahaan Daerah Bontang Belum Bisa Kelola Solar Nelayan Sendiri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.