bontangpost.id – Andi Umar Khaidir, Amirul Choliq dan lima rekan Bank Sampah Telihan Recycle lainnya berhasil maju mewakili Bontang dalam teknologi tepat guna (TTG) tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Keterwakilannya dalam ajang tersebut tak lain usai diganjar apresiasi dari Pemkot Bontang atas inovasinya dalam TTG tingkat kota dan menjadi satu – satunya inovasi baling-baling kapal di Kalimantan Timur.
Sore itu, di bibir dermaga Tanjung Limau, Amirul Choliq tampak serius menyimak obrolan seorang nelayan yang asik memperbaiki kapal ketintingnya.
Cholik berkali-kali mengangguk menandakan paham dengan apa yang tengah mereka bahas. Seolah mengiyakan keresahan dari nelayan tersebut.
Rendahnya kualitas baling-baling kapal yang dipasok dari luar daerah ia tangkap sebagai topik utama dalam obrolan singkatnya. Tidak hanya itu, biaya distribusi yang panjang juga mengakibatkan harga baling-baling tiba di Bontang cukup mahal.
Rupanya, obrolan ringan itu terus terngiang di benaknya. Seolah tertantang untuk menjawab keluhan nelayan tersebut. Sebagai seorang lulusan Sarjana Institute Teknologi Kalimantan (ITK) Balikpapan yang fokus pada jurusan Teknik Industri, keluhan nelayan Tanjung Limau soal baling-baling kapal bukanlah hal yang sulit baginya.
Dari sanalah lahir inovasi untuk membuat sebuah produk lokal yang bisa diakses nelayan Bontang dengan harga ekonomis dan kualitas bahan yang apik.
“Dulu waktu kuliah kan ada praktek pembuatan produk industri. Makanya saya coba,” ucap Cholik.
Untuk mendapatkan bahan pembuatan baling-baling tidaklah susah. Cukup memanfaatkan sampah yang ada di masyarakat. Hal itu selaras dengan visi misi komunitas yang dianutnya. Bank Sampah Telihan Recycle.
Umar dan lima rekan lainnya membantu proses pengerjaan. Untuk memulai membuat sebuah produk mereka memesan satu cetakan baling-baling kapal ukuran 9 yang didatangkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Uniknya lagi, untuk menghasilkan satu produk pihaknya hanya membutuhkan dua jenis sampah rumah tangga. Yakni sampah minuman kaleng dan sampah alumunium bengkel. Yang kemudian diramu dan dilebur.
Alasan memilih dua bahan tersebut sebab keduanya memiliki zat yang dibutuhkan pada baling-baling kapal. Kaleng bekas menghasilkan aluminium alloy (keras) dan limbah bengkel menghasilkan alumunium murni (lembek). Justru dengan zat yang ada pada dua sampah itu ketahanan produk jauh lebih unggul dari produk lainnya yang telah komersil.
“Jadi kalau ada alumunium bengkel yang sudah tidak terpakai gitu kami beli untuk jadi bahan utama pembuatan baling-baling kapal. Kalau kaleng minuman mudah saja didapat. Karena kami ambil dari warga sekitar,” tambah Umar.
Sampel produk baling-baling kapal yang telah dicetak dari hasil peleburan setelah rampung digarap, juga dikirim ke Bali dan Donggala untuk diuji para nelayan di sana. Dibantu CSR Badak LNG, produk tersebut dilakukan uji Harnes dan uji Porositas. Hasilnya mengejutkan, dari 3 sampel yang diuji produk ini memiliki kualitas lebih unggul. Pada uji Harnes mendapat nilai 45.1 lebih unggul dari produk yang yang ada dipasaran yang memiliki nilai lebih rendah.
“Kalau produk dari luar daerah hanya ada satu bahan yang dominan. Kadang zat kerasnya kebanyakan sehingga mudah patah. Ada juga yang zat lembeknya yang kebanyakan sehingga tidak bisa digunakan. Kalau punya kami ini imbang,” jabarnya.
Dari sanalah, mereka mencoba mencetak lebih banyak baling-baling kapal. Hasilnya, mereka memproduksi enam jenis baling-baling kapal. Yakni ukuran 5, ukuran 6, ukuran 8, ukuran 9, ukuran 12, dan ukuran turbo. Harganya pun relatif murah. Yakni Rp 12 ribu-Rp 28 ribu.
“Ukuran yang kami buat kami sesuaikan dengan kebutuhan nelayan Bontang. Itu kami lakukan usai survei juga. Dan harganya 50 persen lebih murah jika dibandingkan dari luar daerah,” sambungnya.
Atas keberhasilan itulah, Umar, Choliq dan tim memberanikan diri untuk memproduksi 100 baling-baling kapal dalam setiap harinya. Yang kemudian mulai dipasarkan melalui toko pancing yang ada di Bontang. Bahkan pemasaran baling-baling kapal tembus ke luar daerah. Seperti pesisir Sangatta, Kutai Timur, Muara Badak, Berau, Kutai Kartanegara, hingga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Dari hasil penjualannya itu, rata-rata pekerja aktif di kelompok Telihan ini bisa mendapatkan upah per bulannya sekira Rp 3 juta. Tak hanya itu, untuk limbah hasil peleburan yaitu sisa abu ternyata bisa digunakan sebagai bahan campuran batu bata.
“Dari Bone ada pesanan 150 buah. Ini yang saat ini mau kami proses. Alhamdulillah, kami pribadi senang bisa membantu memberikan solusi untuk nelayan. Dan mereka menyambut baik. Karena produk lebih kuat dan ekonomis,” timpalnya.
Bahkan, atas inovasi tersebut, mereka aktif memberikan sosialisasi dalam acara lingkungan. Baik itu dalam bentuk expo, dan lain-lain. (*)






