SELAIN menggelar Pupuk Kaltim Innovation Award ke-30 tahun 2018, acara tahunan tersebut dirangkai dengan One Day Seminar Facing Disruption Era yang mengusung tema “Biofertilizer: Opportunities and Challenges”, Kamis (22/11).
Masih di tempat yang sama, seminar tersebut dihadiri pakar di bidang biofertilizer serta dari unsur regulator. Dengan maksud untuk meningkatkan awareness karyawan terhadap produk hayati sebagai disruption dalam industri pupuk.
Juga bertujuan untuk knowledge sharing tentang biofertilizer secara umum kepada seluruh karyawan Pupuk Kaltim, serta memberikan gambaran hasil penelitian mengenai biofertilizer dari beberapa lembaga atau universitas. Selain itu juga diharapkan dapat mengetahui kebijakan pemerintah terkait pupuk hayati serta penggunaannya dalam program-program pemerintah.
Direktur Teknik dan Pengembangan, Satriyo Nugroho dalam sambutannya mengatakan biofertilizer mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen. Sebab negara lain pun gencar melakukan penelitian maupun pengembangan biofertilizer. Terutama produk bio tersebut lebih baik kualitasnya.
“Pupuk Kaltim juga akan mengembangkan bisnis biofertilizer yang tentunya dalam pelaksanaannya akan menggandeng lembaga penelitian yang ada. Baik di perguruan tinggi maupun lembaga lainnya,” ucap dia.
Adapun narasumber pagi itu, di antaranya Sumardjo Gatot Irianto membawakan materi terkait Kebijakan Pemerintah terkait Produk Hayati untuk Tanaman Pangan. Yanuar Rizky terkait Disruption Era of Fertilizer Industry. I Nyoman Pugeg Aryantha membawakan tema Seed Coating for Bright Future, sementara Nadra Illiyana Chalid terkait Kebijakan Peningkatan Produksi dan Nilai Tambah Hortikultura secara Ramah Lingkungan. (ra/adv)







