<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Full Day School Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/full-day-school/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/full-day-school/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Sep 2023 13:47:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>Full Day School Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/full-day-school/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>NU Tolak Lima Hari Full Day School dari Pagi sampai Sore</title>
		<link>https://bontangpost.id/nu-tolak-lima-hari-full-day-school-dari-pagi-sampai-sore/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Sep 2023 02:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=119305</guid>

					<description><![CDATA[<p>bontangpost.id &#8211; Forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2023 menolak kebijakan sekolah lima hari yang membuat jam sekolah bertambah hingga sore hari (full day school). &#8220;Rekomendasi kami adalah tidak melaksanakan full day school yang diterjemahkan dari lima hari kerja ini,&#8221; kata Koordinator Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Abdul Ghaffar [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/nu-tolak-lima-hari-full-day-school-dari-pagi-sampai-sore/">NU Tolak Lima Hari Full Day School dari Pagi sampai Sore</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>bontangpost.id &#8211; </strong>Forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2023 menolak kebijakan sekolah lima hari yang membuat jam sekolah bertambah hingga sore hari (<em>full day school</em>).</p>
<p>&#8220;Rekomendasi kami adalah tidak melaksanakan full day school yang diterjemahkan dari lima hari kerja ini,&#8221; kata Koordinator Komisi Bahtsul Masail Qonuniyyah Abdul Ghaffar Rozin.<strong><br />
</strong></p>
<p>Pria yang akrab disapa Gus Rozin ini mengatakan kebijakan penerapan lima hari sekolah ini awalnya mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 21 Tahun 2023 tentang Hari Kerja dan Jam Kerja Instansi Pemerintah dan Pegawai ASN.</p>
<p>Perpres itu mengatur Hari Kerja disebutkan hanya terjadi pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat.</p>
<p>Namun, Gus Rozin menilai aturan ini ditafsir secara liar lantaran kegiatan sekolah dilaksanakan dalam waktu lima hari dengan durasi lebih panjang.</p>
<p>&#8220;Di beberapa tempat diterjemahkan pula lima hari sekolah dan sepanjang hari,&#8221; kata dia.</p>
<p>Gus Rozin lantas menjelaskan terdapat dua alasan menolak aturan lima hari sekolah dari aspek sosiologis dan yuridis.</p>
<p>Alasan sosiologis, ia menilai kebijakan sekolah lima hari mengganggu pengajaran pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan. Pasalnya, kegiatan keagamaan biasanya didapatkan anak-anak saat waktu sore selepas sekolah umum.</p>
<p>&#8220;Nahdlatul Ulama mempunyai sekian banyak madrasah diniyah dan TPQ yang kemudian kalau full day school, lima hari sekolah dan sepanjang hari ini dilaksanakan maka kemudian pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan dasar yang tawasuth i&#8217;tidal moderat akan tidak menjadi maksimal atau terancam,&#8221; kata dia.</p>
<p>Sementara dari aspek yuridis, ia mengatakan sudah ada Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang mencabut Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Lima Hari Kerja. Permendikbud ini dicabut, lanjut dia, dikarenakan Perpres lebih tinggi kedudukannya dan juga mutakhir regulasinya.</p>
<p>&#8220;PBNU pernah melakukan penolakan terhadap Permendikbud tentang hari sekolah yang kemudian direvisi menjadi Perpres Nomor 87 tahun 2017 juga,&#8221; katanya. <strong>(cnn)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/nu-tolak-lima-hari-full-day-school-dari-pagi-sampai-sore/">NU Tolak Lima Hari Full Day School dari Pagi sampai Sore</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terapkan FDS,  Raih Peringkat 2 se-Kutim</title>
		<link>https://bontangpost.id/terapkan-fds-raih-peringkat-2-se-kutim/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Oct 2017 03:00:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=21631</guid>

					<description><![CDATA[<p>SD 01 Muhammadiyah Sangsel TAK banyak di Kutim SD yang menerapkan Full Day School (FDS). Hanya saja, dengan semangat dan tekad untuk meningkatkan mutu pendidikan, SD 01 Muhammadiyah Sangatta Selatan menerapkan hal itu. Ada hikmah dibalik itu semua. Pasalnya, sekolah ini mendapatkan peringkat kedua  terbaik se-Kutim.  Hampir ratusan pesaingnya. &#8220;Alhamdulillah nilai matematika, bahasa Indonesia, dan [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/terapkan-fds-raih-peringkat-2-se-kutim/">Terapkan FDS,  Raih Peringkat 2 se-Kutim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SD 01 Muhammadiyah Sangsel</p>
<p>TAK banyak di Kutim SD yang menerapkan Full Day School (FDS). Hanya saja, dengan semangat dan tekad untuk meningkatkan mutu pendidikan, SD 01 Muhammadiyah Sangatta Selatan menerapkan hal itu.</p>
<p>Ada hikmah dibalik itu semua. Pasalnya, sekolah ini mendapatkan peringkat kedua  terbaik se-Kutim.  Hampir ratusan pesaingnya.</p>
<p>&#8220;<em>Alhamdulillah</em> nilai matematika, bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) setelah direkap mendapatkan peringkat dua. Muara Wahau peringkat satu,&#8221; ujar Didi, Kepsek Muhammadiyah 01 Sangsel.</p>
<p>Tentu saja hal ini merupakan kebanggaan.  Sebab banyak pesaing yang harus di hadapi.  Tentu saja semua hasil kerja keras untuk membentuk anak didik hingga mampu meraih prestasi ini.</p>
<p>&#8220;Saat diumumkan Dinas Pendidikan  (Disdik) Kutim jika kami peringkat dua terbaik se-Kutim, kami sangat senang sekali. <em>Alhamdulillah</em>,&#8221; katanya.</p>
<p>Tentu saja dirinya tidak terlena atas prestasi ini. Ke depan akan terus di tingkatkan hingga menjadi lebih baik. Karena dirinya yakin sekolah lain akan terus berbenah.</p>
<p>&#8220;Sekolah kami biasa saja. Tapi <em>Alhamdulillah</em> anak-anak kami hebat semua. Ini akan terus kami asah. Biar mereka tambah meraih prestasi,&#8221; katanya.</p>
<p>Sementara itu, Kadisdik Kutim, Akhamdi Baharuddin cukup memberikan apresiasi. Dia meminta semua sekolah terus meningkatkan mutu pendidikan.</p>
<p>&#8220;Ini merupakan prestasi. Kami berharap semua anak-anak kita berprestasi dan dapat bersaing. Karena mereka adalah penerus bangsa ini. Dapat menguasai semua bidang,&#8221; kata mantan Kadisbun itu. (dy)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/terapkan-fds-raih-peringkat-2-se-kutim/">Terapkan FDS,  Raih Peringkat 2 se-Kutim</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Full Day School, Yay or Nay?</title>
		<link>https://bontangpost.id/full-day-school-yay-nay/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Sep 2017 03:06:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<category><![CDATA[zetizen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=20828</guid>

					<description><![CDATA[<p>GUYS, Full Day School atau Five Day School (FDS) sudah berjalan sekira 2-3 bulan terakhir. Ternyata, banyak kesan yang didapat dari pelaksanaan program ini baik di kalangan siswa maupun guru. Seperti di SMAN 2 Bontang (Smanda) ini misalnya. Kata Ade, siswi kelas XI IPA 2 ini sampai kesusahan bagi waktu sejak diberlakukannya FDS. “Capek banget [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/full-day-school-yay-nay/">Full Day School, Yay or Nay?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>GUYS</em>, <em>Full Day School</em> atau <em>Five Day School</em> (FDS) sudah berjalan sekira 2-3 bulan terakhir. Ternyata, banyak kesan yang didapat dari pelaksanaan program ini baik di kalangan siswa maupun guru. Seperti di SMAN 2 Bontang (Smanda) ini misalnya. Kata Ade, siswi kelas XI IPA 2 ini sampai kesusahan bagi waktu sejak diberlakukannya FDS. “Capek banget kalau <em>full day</em>, belum lagi tugas-tugasnya. Kadang sampai dimarahi orang tua karena bingung bagi waktunya, jadi jarang bantu orang tua,” ujarnya.</p>
<p>Tak hanya siswa. Pengajar seperti Dian Tari, guru seni di Smanda ini bahkan sampai sering sakit karena FDS. Jika diminta memilih, dirinya lebih menyukai dengan enam hari kerja ketimbang lima hari seperti saat ini.  “Jadi sering sakit, capek juga kan pulang sore. Belum lagi aktivitas lain-lain,” jelasnya.</p>
<p>Meski beberapa siswa dan guru ada yang mengalami penolakan, namun ada pula yang menyatakan persetujuannya, <em>gengs</em>. Sebut saja Catherina. Siswi kelas XI IPA 2 ini mengaku FDS ini seru dan mengasyikkan. “Kan Sabtunya bisa kumpul-kumpul dengan keluarga,” katanya.</p>
<p>Meski begitu, dia menyadari kalau tugas tak bisa lepas dari kewajibannya sebagai murid. Terkadang, sehari dalam 3-4 pelajaran selalu ada tugas. Namun Catherina pun masih menanggapinya dengan santai. Dia pun meminta guru jangan sampai begitu membebani siswa dengan tugas-tugas yang berat. “Ya nikmati aja sih, toh kalau mereka libur di Sabtu juga senang. Walaupun habis capek dengan tugasi di Senin-Jumatnya,” tambahnya.</p>
<p>Senada, Muhaimin yang juga pemain basket Smanda ini setuju dengan diterapkannya FDS. Sebagai pemain basket, dia bisa bermain lebih lama bersama teman-temannya. Walaupun terkadang ada kendala yang dihadapi. “Seperti pas mau latihan basket, pulang sekolah langsung latihan. Apalagi kalau mau ada pertandingan kayak sekarang (DBL, Red.). Belum lagi tugas yang harus diselesaikan,” katanya.</p>
<p>Muhaimin pun mengaku tetap menikmati FDS yang tengah berlangsung saat ini. “Woles saja. Mau kita ngomel, ngoceh kayak apa juga gak bakal besar pengaruhnya. Tapi sebagai pelajar di Indonesia, ya kita harus patuh sama peraturan yang ada,” tutupnya. (*/ans)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/full-day-school-yay-nay/">Full Day School, Yay or Nay?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SD 01 Muhammadiyah Rasakan Manfaat Full Day School </title>
		<link>https://bontangpost.id/sd-01-muhammadiyah-rasakan-manfaat-full-day-school/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 Sep 2017 03:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=19860</guid>

					<description><![CDATA[<p>Perbanyak Kegiatan Keagamaan PENERAPAN Full Day School atau sekolah sepanjang hari ternyata banyak mendatangkan manfaat. Baik untuk guru terlebih siswa. Satu diantara manfaat tersebut ialah luangnya waktu memperbanyak kegiatan keagamaan. Hal inilah yang dirasakan SD  Muhammadiyah 1 Sangatta Selatan. Saat ini pihaknya lebih gencar menanamkan nilai keagamaan pada murid-murid. Mulai dari salat lima waktu berjamaah, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/sd-01-muhammadiyah-rasakan-manfaat-full-day-school/">SD 01 Muhammadiyah Rasakan Manfaat Full Day School </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Perbanyak Kegiatan Keagamaan</p>
<p>PENERAPAN Full Day School atau sekolah sepanjang hari ternyata banyak mendatangkan manfaat. Baik untuk guru terlebih siswa. Satu diantara manfaat tersebut ialah luangnya waktu memperbanyak kegiatan keagamaan.</p>
<p>Hal inilah yang dirasakan SD  Muhammadiyah 1 Sangatta Selatan. Saat ini pihaknya lebih gencar menanamkan nilai keagamaan pada murid-murid.</p>
<p>Mulai dari salat lima waktu berjamaah, salat jumat, salat sunnah duha, baca dan tulis Alquran, menghafal Alquran serta doa pendek.  Ini diwajibkan untuk semua siswa. Khususnya bagi mereka kelas 4 hingga 6.</p>
<p>Sedangkan untuk wanita, ada jadwal tambahan. Diantaranya, belajar masak, mengenal kodrat wanita serta memahami kewanitaan. Seperti haid, cara mandi dan lain-lain.</p>
<p>&#8220;Sangat banyak sekali manfaat. Anak lebih banyak di sekolah. Kami berikan pendidikan yang seimbang. Akan tetapi lebih condong agama. Dengan begitu akan meminimalisir dampak negatif di luar,&#8221; ujar Kepsek SD Muhammadiyah 1 Sangatta Selatan.</p>
<p>Tidak hanya itu, sisa waktu yang diberikan juga dimanfaatkan untuk kegiatan ekstrakurikuler. Seperti pramuka, tapak suci, dan lainnya.</p>
<p>&#8220;Jadi siswa benar-benar terarah. Tepat sasaran dan mengena. Sampai-sampai makanan siswa terjaga. Sebab mereka tidak jajan di luar. Orang tua mereka sangat senang dengan cara ini,&#8221; katanya.</p>
<p>Disinggung masalah lamanya waktu mengajar, dirinya menganggap biasa. Ia mengklaim tak ubahnya dengan pendidikan yang dianut sebelumnya. Hanya selisih beberapa jam.</p>
<p>&#8220;Jadi tidak ada keluhan. Guru cukup senang juga. Selain lebih dekat dengan siswa, gaji juga ikut bertambah. Karena sistem jam yang dipakai. Makin lama ngajar, makin banyak dapat gaji,&#8221; katanya.</p>
<p>Meskipun begitu, dirinya juga berharap dibangunkan fasilitas penunjang pendidikan Full Day School. Seperti gazebo,  taman bermain dan sebagainya.</p>
<p>&#8220;Sehingga anak-anak tidak jenuh juga. Tetapi <em>alhamdulillah</em> mereka cukup menikmati semuanya. Mudahan saja bisa terus kami terapkan metode ini,&#8221; katanya. (dy)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/sd-01-muhammadiyah-rasakan-manfaat-full-day-school/">SD 01 Muhammadiyah Rasakan Manfaat Full Day School </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Full Day School dan Tanggung Jawab Pendidikan</title>
		<link>https://bontangpost.id/full-day-school-dan-tanggung-jawab-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jun 2017 08:46:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=14701</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: Jamaluddin Rosyidi CEO Bimbel ME dan Penggiat Pendidikan Bontang &#160; Bontang Post, minggu, 11 Juni 2017, merilis berita tentang persetujuan PGRI Bontang dan juga tiga kepala sekolah negri di Bontang tentang perubahan sistem sekolah menjadi Full day School (FDS). Meski sampai saat ini masih menunggu juklak/juknis dari dinas terkait. kalau kita tilik dari otonomi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/full-day-school-dan-tanggung-jawab-pendidikan/">Full Day School dan Tanggung Jawab Pendidikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Jamaluddin Rosyidi</p>
<p>CEO Bimbel ME dan Penggiat Pendidikan Bontang</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bontang Post, minggu, 11 Juni 2017, merilis berita tentang persetujuan PGRI Bontang dan juga tiga kepala sekolah negri di Bontang tentang perubahan sistem sekolah menjadi Full day School (FDS).</p>
<p>Meski sampai saat ini masih menunggu juklak/juknis dari dinas terkait. kalau kita tilik dari otonomi pendidikan yang dimiliki daerah dalam undng-undang sistem pendidikan nasional kita seharusnya kita bisa memilih.</p>
<p>Menilik awal wacana Full day School (FDS) yang digulirkan setahun lalu oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Effendy, sebenarnya menemui pro-kontra yang cukup tajam. Banyak pakar pendidikan maupun pemerhati permasalahan sosial menganggap ide penerapan FDS sebagai bagian sistem pendidikan nasional sudah cacat dari awal secara konsep karena tidak memperhatikan realita masyarakat yang beragam.</p>
<p>Terlepas dari pro-kontra tentang rencana penerapan FDS, mari kita tinjau masalah FDS ini dari kacamata tanggung jawab mendidik anak. Pertanyaan terbesarnya adalah siapa yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak? Secara normatif kita akan menjawab orang tua bukan? Pastinya begitu. Tapi praktiknya bagaimana?</p>
<p>Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan dengan beragam bakat bawaannya. Tuhan pasti ‘menitipkan’ anak kepada orang tua yang tepat, dan tidak mungkin salah. Orang tua yang mampu membangun anaknya untuk memenuhi potensi terbaiknya. Tinggal masalahnya sebagai orang tua kita terkadang abai dengan keunikan masing-masing anak sehingga memperlakukan anak sama saja.</p>
<p>Saya yakin semua orang tua mensekolahkan anaknya tentu bertujuan baik agar sang anak mampu menempuh jalan hidup terbaiknya nanti. Banyak orang tua yang kemudian terjebak ‘mewakilkan’ pendidikan anaknya seutuhnya kepada guru sekolah dan kemudian berlepas diri terhadap pendidikan anak.</p>
<p>Padahal sekali lagi kalau ditanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak jawabnya pasti sama, yaitu orang tua! Lantas dimana dan bagaimana  relasi orang tua dan guru seharusnya dalam proses pendidikan anak?</p>
<p>Sebelum menjawab tentang relasi orang tua-guru dalam konteks pendidikan anak, kita harus mencermati dulu sebuah masalah yang lebih mendasar. Apa itu? Hampir sebagian besar -kalau tidak boleh dikatakan semua- orang tua tidak memiliki visi atau gambar besar tentang pendidikan anaknya.</p>
<p>Ketidaktahuan akan bakat unik tiap anak kemudian menjadikan orang tua tidak memiliki visi tentang pendidikan anaknya. Jadilah kemudian mendidik anaknya seperti air mengalir. Waktu umur anak masuk TK dimasukkanlah ke TK, waktu umur cukup masuk SD ya masuk SD. Demikian seterusnya. Bahkan pemilihan sekolah pun jarang sekali mempertimbangkan faktor bakat anak!</p>
<p>Dalam ajaran Islam yang saya yakini -begitu juga saya yakin dalam agama lain- tanggung jawab mendidik anak adalah orang tua. Bukan pihak yang lain. Bahkan guru sekalipun berfungsi hanya ‘membantu’ orang tua untuk memenuhi tanggung jawab mendidikan anaknya.</p>
<p>Masalahnya orang tua terkadang merasa terlalu sibuk atau kurang cakap dalam mendidik anaknya sehingga secara sengaja atau tidak meletakkan tanggung jawab pendidikan kepada guru.</p>
<p>Seharusnya guru ‘hanya’ menjadi mitra bagi orang tua bukan pelaku utama pendidikan anak. Sampai disini saya kira semuanya sepakat. Kendala utama yang selama ini ada adalah kurangnya -kalau tidak mau dikatakan tidak adanya- komunikasi yang intens antara orang tua dan guru sehingga kedua pihak seakan berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p>Secara khusus, masyarakat Bontang dengan kelas pekerjanya yang begitu dominan melahirkan para ayah dengan interaksi yang minim dengan anak. Meski kendala ini harusnya bisa diatasi jika ada kemauan.</p>
<p>Lagi-lagi ini kemudian terbentur dengan habisnya energi orang tua setelah sibuk bekerja. Begitupun dengan sang ibu, kalau tidak berkarier di luar, menjadi ibu rumah tangga pun terhambat dengan bekal ilmu yang minim.</p>
<p>Sehingga kebingungan dalam mendidik anak tampak sekali sering kita lihat. Solusinya sebenarnya sederhana yaitu baik ayah maupun ibu mau belajar. Masalahnya mau kah kita? (Insyaallah tulisan berikutnya akan membahas tentang menjadi orang tua yang belajar).</p>
<p>Dengan peta masyarakat Bontang yang mayoritas pekerja tersebut, penerapan full day school akan semakin meminimkan antara interaksi yang terjadi antara orag tua dan anak. Belum lagi dengan beban pekerjaan rumah dan <em>seabreg</em> tugas yang diterima siswa. Bisa-bisa interaksi yang terjalin antara orang tua dan anak hanya akan sebatas basa-basi tanpa makna. Khawatirnya kemudian anak pada akhirnya akan kehilangan <em>bonding</em> dengan orang tua.</p>
<p>Jangan lupakan pula mitra orang tua dalam membekali anaknya dengan pengetahuan agama baik berupa guru-guru ngaji maupun madrasah-madrasah diniyah (madrasah yang bergerak dalam bidang keagamaan) yang biasanya dilaksanakan sore hari.</p>
<p>Apa yang kemudian kita harapkan dari sekolah yang hanya memberi porsi pelajaran agama dua jam seminggu? Maka peran guru ngaji atau madrasah diniyah menjadi tak dapat dinafikan. Kalau sistem sekolah berubah jadi full day, dimana kita ‘meletakkan’ guru ngaji dan madrasah diniyah.</p>
<p>Kekhawatiran akan pengaruh buruk apabila siswa banyak bergaul di luar sekolah dengan sistem pendidikan model sekarang yang menjadi dasar dari wacana pelaksanaan FDS tidaklah begitu serta merta hilang dengan penerapannya. Ingat pengaruh buruk bagi anak-anak kita tidak hanya melalui pergaulan yang melibatkan kontak fisik, tapi juga media sosial juga sangat berpengaruh. Solusinya satu sebenarnya, jadilah orang tua yang sebenarnya buat anak. Emban tanggung jawab sebagai orang tua. Jangan limpahkan sepenuhnya kepada guru. Kalau belum bisa, maka belajarlah! (**)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/full-day-school-dan-tanggung-jawab-pendidikan/">Full Day School dan Tanggung Jawab Pendidikan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terkait Full Day School, Tiga Kepsek Beri Dukungan</title>
		<link>https://bontangpost.id/terkait-full-day-school-tiga-kepsek-beri-dukungan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jun 2017 04:54:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=14637</guid>

					<description><![CDATA[<p>Konsep full day school  juga mendapat tanggapan dari sebagian sekolah di Bontang. Pada dasarnya, beberapa sekolah mengaku mendukung kebijakan tersebut. Hanya saja, perlunya penyesuaian dari jadwal sebelumnya. Seperti yang diutarakan Titi Wurdiyanti, Kepala SMAN 1 Bontang. Dikatakan Titi, bila memang nantinya diterapkan konsep pembelajaran Senin-Jumat, tentunya ada komitmen bersama dan didukung dengan beberapa infrastruktur seperti [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/terkait-full-day-school-tiga-kepsek-beri-dukungan/">Terkait Full Day School, Tiga Kepsek Beri Dukungan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Konsep <em>full day school </em> juga mendapat tanggapan dari sebagian sekolah di Bontang.</p>
<p>Pada dasarnya, beberapa sekolah mengaku mendukung kebijakan tersebut. Hanya saja, perlunya penyesuaian dari jadwal sebelumnya. Seperti yang diutarakan Titi Wurdiyanti, Kepala SMAN 1 Bontang. Dikatakan Titi, bila memang nantinya diterapkan konsep pembelajaran Senin-Jumat, tentunya ada komitmen bersama dan didukung dengan beberapa infrastruktur seperti kantin dan musala.</p>
<p>Lebih lanjut dia menjelaskan jika <em>full day school </em> diterapkan, diprediksi saat jam istirahat di siang hari, kantin sekolah akan sangat ramai sekali. Mengingat siswa yang ingin makan siang pun juga banyak dan bersamaan. Sementara, kondisi kantin yang ada saat ini masih terlalu kecil untuk menampung banyak siswa.</p>
<p>“Begitu juga dengan musala. Bila <em>full day school </em>, tentu setiap salat zuhur dan asar anak-anak akan berjubel salat di musala. Tidak bisa menampung keeluruhan. Kalaupun dibagi beberapa seksi, tentu akan memkan waktu lagi,” sebutnya.</p>
<p>Untuk itu kata dia, perlunya komunikasi dan komitmen dengan seluruh pihak sekolah. Terutama, sosialisasi ke setiap orang tua atau wali murid siswa. Meski mengaku sudah mendengar wacana ini, namun Titi belum menyampaikannya secara formal ke guru-guru SMAN 1.</p>
<p>“Alasannya, karena saya belum menerima surat resmi terkait hal ini sehingga belum bisa  menyampaikan,” ujarnya.</p>
<p>Nantinya, bila memang jadi diterapkan, tentu akan berpengaruh kepada jam belajar siswa. Titi berujar, karena pulangnya dari senin-jumat sore hari, sehinga kegiatan ekstrakulikuler dilakanakan di hari Sabtu nya.</p>
<p>Terpisah, Kepala SMAN 2 Sumariyah pun juga menuturkan hal yang sama. Dikatakannya, kebijakan ini didukung lantaran sekolah bisa disamakan dengan struktur pemerintahan yang lain dimana sabtu dan minggu libur. Sisi positifnya kata dia, guru nantinya akan lebih fokus dan tidak lagi membawa pekerjaannya ke rumah maupun sebaliknya.</p>
<p>“Sisi positif lainnya, siswa akan lebih banyak waktu dengan keluarga. Bila sabtunya mengikuti ekstrakulikuler pun, hanya sampai pagi saja. Sehingga sore nya bisa kembali ke rumah berkumpul dengan keluarga,” tuturnya.</p>
<p>Hal senada juga diungkapkan Kasman Purba. Kepala SMKN 1 Bontang itu mengaku menyambut positif terkait wacana 5 hari sekolah ini dimana guru diwajibkan 8 jam per hari di sekolah kecuali jumat. Dengan kondisi ini kata Kasman, pemanfaatan waktu yang tersedia menjadi semakin efektif dan hari yakni sabtu dan minggu benar-benar dapat dimanfaatkan sebagai hari untuk keluarga, baik oleh guru maupun siswa. Terkait hal ini, Kasman berujar, SMKN 1 Bontang pun juga sudah mempersiapkan diri dan telah dibahas dalam rapat-rapat bersama bidang kurikulum dan ketua-ketua jurusan beberapa waktu.</p>
<p>“Harapannya secara psikologis, ketika memulai hari belajar mengajar pada hari senin, semua sudah mendapat kesegaran baru dan semangat baru,” harapnya. (bbg)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/terkait-full-day-school-tiga-kepsek-beri-dukungan/">Terkait Full Day School, Tiga Kepsek Beri Dukungan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PGRI Dukung Full Day School, Tinggal Menunggu Aturan dan Izin Disdik</title>
		<link>https://bontangpost.id/pgri-dukung-full-day-school-tinggal-menunggu-aturan-dan-izin-disdik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Jun 2017 04:51:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Full Day School]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=14629</guid>

					<description><![CDATA[<p>BONTANG – Wacana Full Day School (FDS) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendapat tanggapan dari beberapa sekolah, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang. FDS memiliki konsep bahwa waktu belajar-mengajar akan berlangsung selama lima hari, dari Senin hingga Jumat. Ketua PGRI Bontang Dasuki, menyambut baik adanya konsep FDS. Melalui [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/pgri-dukung-full-day-school-tinggal-menunggu-aturan-dan-izin-disdik/">PGRI Dukung Full Day School, Tinggal Menunggu Aturan dan Izin Disdik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>BONTANG – Wacana <em>Full Day School</em> (FDS) yang digulirkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendapat tanggapan dari beberapa sekolah, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan Dinas Pendidikan (Disdik) Bontang. FDS memiliki konsep bahwa waktu belajar-mengajar akan berlangsung selama lima hari, dari Senin hingga Jumat.</p>
<p>Ketua PGRI Bontang Dasuki, menyambut baik adanya konsep FDS. Melalui konsep itu diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan serta pengawasan kepada siswa. “Mungkin yang harus dicarikan solusi ialah bagaimana dengan sekolah yang belum memiliki sarana yang cukup. Bagaimana dengan sekolah yang masih melakukan <em>double shift</em> kegiatan belajar-mengajarnya, ini menjadi pekerjaan rumah Disdik,” ujarnya.</p>
<p>Ia menjamin, adanya FDS tidak mengganggu jumlah jam dari pihak guru. Tentunya hal tersebut akan ada sosialisasi dari Kementrian Pendayagunaan Aperatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) dengan Kemendikbud.</p>
<p>Disdik Bontang menyadari bahwa ada sebagian yang belum bisa menerapkan FDS di tahun ajaran baru ini. Hal tersebut terkait sarana dan prasarana dari masing-masing sekolah yang berbeda-beda. “Saya dengar SMP Negeri 1 Bontang siap menerapkan sistem itu, tetapi saya belum bisa memastikan karena petunjuk dari Kemendikbud belum kami terima,” kata Kasi Kurikulum SMP Saparudin.</p>
<p>Terpisah, Kepala SMP Negeri 1 Bontang Purwanto membenarkan terkait dengan statement dari Kasi Kurikulum SMP Bontang. “Ini masih statement dari Mendikbud. Kami masih menunggu terkait aturan ini apakah menggunakan peraturan menteri atau yang lainnya, kami akan mengkaji terlebih dahulu, tetapi sekolah kami yang didapuk sebagai sekolah <em>piloting </em>selalu siap apabila diizinkan Disdik Bontang. Kesiapan kami baik dari sisi sarana maupun guru,” tandas Purwanto. (*/ak)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/pgri-dukung-full-day-school-tinggal-menunggu-aturan-dan-izin-disdik/">PGRI Dukung Full Day School, Tinggal Menunggu Aturan dan Izin Disdik</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
