• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Opini

Full Day School dan Tanggung Jawab Pendidikan

by M Zulfikar Akbar
12 Juni 2017, 16:46
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
JAMALUDDIN

JAMALUDDIN

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Jamaluddin Rosyidi

CEO Bimbel ME dan Penggiat Pendidikan Bontang

 

Bontang Post, minggu, 11 Juni 2017, merilis berita tentang persetujuan PGRI Bontang dan juga tiga kepala sekolah negri di Bontang tentang perubahan sistem sekolah menjadi Full day School (FDS).

Meski sampai saat ini masih menunggu juklak/juknis dari dinas terkait. kalau kita tilik dari otonomi pendidikan yang dimiliki daerah dalam undng-undang sistem pendidikan nasional kita seharusnya kita bisa memilih.

Menilik awal wacana Full day School (FDS) yang digulirkan setahun lalu oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhadjir Effendy, sebenarnya menemui pro-kontra yang cukup tajam. Banyak pakar pendidikan maupun pemerhati permasalahan sosial menganggap ide penerapan FDS sebagai bagian sistem pendidikan nasional sudah cacat dari awal secara konsep karena tidak memperhatikan realita masyarakat yang beragam.

Terlepas dari pro-kontra tentang rencana penerapan FDS, mari kita tinjau masalah FDS ini dari kacamata tanggung jawab mendidik anak. Pertanyaan terbesarnya adalah siapa yang harus bertanggung jawab terhadap pendidikan anak? Secara normatif kita akan menjawab orang tua bukan? Pastinya begitu. Tapi praktiknya bagaimana?

Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan dengan beragam bakat bawaannya. Tuhan pasti ‘menitipkan’ anak kepada orang tua yang tepat, dan tidak mungkin salah. Orang tua yang mampu membangun anaknya untuk memenuhi potensi terbaiknya. Tinggal masalahnya sebagai orang tua kita terkadang abai dengan keunikan masing-masing anak sehingga memperlakukan anak sama saja.

Baca Juga:  Saat Keperawanan Tak Lagi Punya Arti

Saya yakin semua orang tua mensekolahkan anaknya tentu bertujuan baik agar sang anak mampu menempuh jalan hidup terbaiknya nanti. Banyak orang tua yang kemudian terjebak ‘mewakilkan’ pendidikan anaknya seutuhnya kepada guru sekolah dan kemudian berlepas diri terhadap pendidikan anak.

Padahal sekali lagi kalau ditanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anak jawabnya pasti sama, yaitu orang tua! Lantas dimana dan bagaimana  relasi orang tua dan guru seharusnya dalam proses pendidikan anak?

Sebelum menjawab tentang relasi orang tua-guru dalam konteks pendidikan anak, kita harus mencermati dulu sebuah masalah yang lebih mendasar. Apa itu? Hampir sebagian besar -kalau tidak boleh dikatakan semua- orang tua tidak memiliki visi atau gambar besar tentang pendidikan anaknya.

Ketidaktahuan akan bakat unik tiap anak kemudian menjadikan orang tua tidak memiliki visi tentang pendidikan anaknya. Jadilah kemudian mendidik anaknya seperti air mengalir. Waktu umur anak masuk TK dimasukkanlah ke TK, waktu umur cukup masuk SD ya masuk SD. Demikian seterusnya. Bahkan pemilihan sekolah pun jarang sekali mempertimbangkan faktor bakat anak!

Dalam ajaran Islam yang saya yakini -begitu juga saya yakin dalam agama lain- tanggung jawab mendidik anak adalah orang tua. Bukan pihak yang lain. Bahkan guru sekalipun berfungsi hanya ‘membantu’ orang tua untuk memenuhi tanggung jawab mendidikan anaknya.

Baca Juga:  Ketika Panggilan Berhaji Datangnya Mendadak (1) Dapat Visa Menjelang Bandara Jeddah Tutup

Masalahnya orang tua terkadang merasa terlalu sibuk atau kurang cakap dalam mendidik anaknya sehingga secara sengaja atau tidak meletakkan tanggung jawab pendidikan kepada guru.

Seharusnya guru ‘hanya’ menjadi mitra bagi orang tua bukan pelaku utama pendidikan anak. Sampai disini saya kira semuanya sepakat. Kendala utama yang selama ini ada adalah kurangnya -kalau tidak mau dikatakan tidak adanya- komunikasi yang intens antara orang tua dan guru sehingga kedua pihak seakan berjalan sendiri-sendiri.

Secara khusus, masyarakat Bontang dengan kelas pekerjanya yang begitu dominan melahirkan para ayah dengan interaksi yang minim dengan anak. Meski kendala ini harusnya bisa diatasi jika ada kemauan.

Lagi-lagi ini kemudian terbentur dengan habisnya energi orang tua setelah sibuk bekerja. Begitupun dengan sang ibu, kalau tidak berkarier di luar, menjadi ibu rumah tangga pun terhambat dengan bekal ilmu yang minim.

Sehingga kebingungan dalam mendidik anak tampak sekali sering kita lihat. Solusinya sebenarnya sederhana yaitu baik ayah maupun ibu mau belajar. Masalahnya mau kah kita? (Insyaallah tulisan berikutnya akan membahas tentang menjadi orang tua yang belajar).

Dengan peta masyarakat Bontang yang mayoritas pekerja tersebut, penerapan full day school akan semakin meminimkan antara interaksi yang terjadi antara orag tua dan anak. Belum lagi dengan beban pekerjaan rumah dan seabreg tugas yang diterima siswa. Bisa-bisa interaksi yang terjalin antara orang tua dan anak hanya akan sebatas basa-basi tanpa makna. Khawatirnya kemudian anak pada akhirnya akan kehilangan bonding dengan orang tua.

Baca Juga:  Ramadan dan Sense of Crisis

Jangan lupakan pula mitra orang tua dalam membekali anaknya dengan pengetahuan agama baik berupa guru-guru ngaji maupun madrasah-madrasah diniyah (madrasah yang bergerak dalam bidang keagamaan) yang biasanya dilaksanakan sore hari.

Apa yang kemudian kita harapkan dari sekolah yang hanya memberi porsi pelajaran agama dua jam seminggu? Maka peran guru ngaji atau madrasah diniyah menjadi tak dapat dinafikan. Kalau sistem sekolah berubah jadi full day, dimana kita ‘meletakkan’ guru ngaji dan madrasah diniyah.

Kekhawatiran akan pengaruh buruk apabila siswa banyak bergaul di luar sekolah dengan sistem pendidikan model sekarang yang menjadi dasar dari wacana pelaksanaan FDS tidaklah begitu serta merta hilang dengan penerapannya. Ingat pengaruh buruk bagi anak-anak kita tidak hanya melalui pergaulan yang melibatkan kontak fisik, tapi juga media sosial juga sangat berpengaruh. Solusinya satu sebenarnya, jadilah orang tua yang sebenarnya buat anak. Emban tanggung jawab sebagai orang tua. Jangan limpahkan sepenuhnya kepada guru. Kalau belum bisa, maka belajarlah! (**)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: catatanFull Day School
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Perizinan Via Online, Minimalisir Calo

Next Post

ZAKAT RUKO WARISAN

Related Posts

Maafkanlah Gubernur
Opini

Maafkanlah Gubernur

13 April 2026, 18:21
Kotak Kosong, Pesta para Oligarki
Opini

Kotak Kosong, Pesta para Oligarki

21 Juli 2024, 13:20
Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar
Opini

Brigadir Jenderal Dendi Suryadi: Setelah 30 Tahun, Memilih Jalan Sipil di Kukar

21 Juli 2024, 12:19
Merokok Bikin Kekasih Cacat
Catatan

Merokok Bikin Kekasih Cacat

16 Desember 2023, 11:27
NU Tolak Lima Hari Full Day School dari Pagi sampai Sore
Nasional

NU Tolak Lima Hari Full Day School dari Pagi sampai Sore

21 September 2023, 10:00
Kursi vs Nurani
Opini

Kursi vs Nurani

3 Juni 2023, 13:08

Terpopuler

  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Ringkus Perempuan di Jalan Parikesit Bontang, Sabu Disembunyikan dalam Dompet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekolah Swasta Bontang Tolak Penambahan Kelas di SMA 1 dan 2, Guru Terancam Menganggur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.