<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>mahasiswa bontang Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/mahasiswa-bontang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/mahasiswa-bontang/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 May 2020 01:33:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>mahasiswa bontang Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/mahasiswa-bontang/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Curhat Mahasiswa Bontang di Luar Negeri Selama Puasa dan Pandemi (2-Habis): Berdiam Diri di Kamar, Terbiasa Puasa Selama 20 Jam</title>
		<link>https://bontangpost.id/curhat-mahasiswa-bontang-di-luar-negeri-selama-puasa-dan-pandemi-2-habis-berdiam-diri-di-kamar-terbiasa-puasa-selama-20-jam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2020 01:33:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa bontang]]></category>
		<category><![CDATA[rusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=76321</guid>

					<description><![CDATA[<p>Di Saint Petersburg puasa bisa sampai 21 jam. Hanya punya waktu tiga jam untuk buka puasa sekaligus sahur. Hal itu dijalani Hendra Reimon Pangemanan, mahasiswa Bontang yang menempuh pendidikan di Negeri Beruang Merah. SUDAH hampir enam tahun saya menempuh pendidikan di Petersburg State Transport University, jurusan Lokomotif Kereta Api. Salah satu kampus di Saint Petersburg, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/curhat-mahasiswa-bontang-di-luar-negeri-selama-puasa-dan-pandemi-2-habis-berdiam-diri-di-kamar-terbiasa-puasa-selama-20-jam/">Curhat Mahasiswa Bontang di Luar Negeri Selama Puasa dan Pandemi (2-Habis): Berdiam Diri di Kamar, Terbiasa Puasa Selama 20 Jam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Di Saint Petersburg puasa bisa sampai 21 jam. Hanya punya waktu tiga jam untuk buka puasa sekaligus sahur. Hal itu dijalani Hendra Reimon Pangemanan, mahasiswa Bontang yang menempuh pendidikan di Negeri Beruang Merah.</p>
</div>
<p>SUDAH hampir enam tahun saya menempuh pendidikan di Petersburg State Transport University, jurusan Lokomotif Kereta Api. Salah satu kampus di Saint Petersburg, Rusia. Saban tahun menjalankan puasa dengan durasi lebih lama dibanding di Indonesia. Mulai kurang lebih 20 sampai 21 jam. Tergantung Ramadan jatuh pada musim apa.</p>
<p>Saya sudah terbiasa dengan durasi yang panjang itu. Kiat-kiat untuk bisa menahan lapar dan dahaga terus saya terapkan. Buka puasa dengan makanan ringan, lalu beberapa jam kemudian baru melahap nasi. Itu sudah sekaligus sahur. Karena memang jarak antara buka puasa dan imsak yang pendek. Plus mengkonsumsi vitamin.</p>
<p>Namun tahun ini, tantangan berpuasa bukan hanya dari durasi yang panjang. Tapi gerak yang terbatas. Rusia telah memberlakukan <em>lockdown</em> sejak 30 Maret lalu. Presiden memerintahkan untuk bekerja dari rumah. Selain supermarket dan apotek, dilarang buka.</p>
<p>Moda transportasi berhenti operasi sementara waktu. Pusat hiburan tutup. Masyarakat dilarang keluar rumah kecuali untuk hal mendesak. Dan itupun harus menjaga protap Covid-19 yang sudah ditetapkan. Yakni mengenakan masker dan sarung tangan. Itu wajib.</p>
<p>Yang terpaksa keluar juga mesti memakai jaket. Selain cuaca memang lagi dingin, juga untuk minimalisir penyebaran Covid-19.</p>
<p>Beberapa kota, pun seperti di Moskow harus mengantongi izin yang didapat secara <em>online</em> jika ingin keluar rumah. Hingga Sabtu, (16/5/2020) jumlah kasus positif Corona di Rusia mencapai 272.043. Terbanyak kedua di dunia, di bawah Amerika Serikat.</p>
<p>Rusia sangat aktif untuk melakukan tes corona kepada warganya. Jumlah sekitar 6,9 juta orang. Masyarakat umumnya mematuhi imbauan pemerintah untuk berdiam diri di rumah. Walau beberapa masih ada yang keluar tidak menggunakan masker.</p>
<p>Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri berkata bahwa Rusia belum memasuki puncak pandemi ini. Semoga ini cepat berlalu dan kita semua bisa kembali hidup normal seperti biasanya.</p>
<p>Praktis saya banyak berdiam diri di kamar. Namun, saya memiliki waktu lebih untuk mengerjakan tugas akhir. Bermain <em>game</em>. Dan masak. Jika tidak ada kendala, Juli saya berencana kembali ke Bontang. Setelah menyelesaikan kuliah di sini. Tapi itu semua tergantung kondisi. Semoga corona bisa segera mereda.</p>
<p>Di asrama saya pun peraturannya lebih ketat. Apalagi setelah salah satu mahasiswa positif corona empat hari lalu. Keluar asrama hanya untuk membuang sampah atau ke supermarket. Jaraknya pun tidak boleh jauh-jauh. Mengingat kota tempat saya belajar merupakan kota ketiga terbanyak yang terinfeksi corona. Di bawah Kota Moskow dan Moscow Region. Tapi kami di asrama belum menjalani tes massal.</p>
<p>Sebagai gambaran, asrama kami mirip apartemen. Satu kamar diisi tiga orang. Dilengkapi dapur, kamar mandi, dan WC.</p>
<p>Kegiatan agama tidak bisa dilakukan di masjid. Semua tempat ibadah ditutup. Kami melakukan Salat Tarawih bersama di kamar. Jika keadaan normal, kami biasa salat di Masjid Saint Petersburg. Dikenal juga sebagai Masjid Soekarno. Masjid itu memang erat kaitannya dengan Presiden Soekarno.</p>
<p>Ketika masih dalam kekuasaan Uni Soviet, masjid ini tidak difungsikan. Dijadikan gudang. Saat berkunjung ke Saint Petersburg pada 1956, Presiden Soekarno yang melihat kemegahan masjid itu meminta kepada pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev agar masjid ini difungsikan kembali. Permintaan itu pun dipenuhi. (edw)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/curhat-mahasiswa-bontang-di-luar-negeri-selama-puasa-dan-pandemi-2-habis-berdiam-diri-di-kamar-terbiasa-puasa-selama-20-jam/">Curhat Mahasiswa Bontang di Luar Negeri Selama Puasa dan Pandemi (2-Habis): Berdiam Diri di Kamar, Terbiasa Puasa Selama 20 Jam</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Curhat Mahasiswa Bontang di Luar Negeri Selama Puasa dan Pandemi (1): Terkurung di Kamar, Tiap Pagi Dicek Suhu Tubuh</title>
		<link>https://bontangpost.id/curhat-mahasiswa-bontang-di-luar-negeri-selama-puasa-dan-pandemi-terkurung-di-kamar-tiap-pagi-dicek-suhu-tubuh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi Bontang Post]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2020 10:30:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa bontang]]></category>
		<category><![CDATA[rusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=76131</guid>

					<description><![CDATA[<p>Setiap pagi, kamar kami diketuk. Untuk mengecek suhu tubuh. Kami sebut itu gedoran cinta. Petugas akan menggedor pintu sampai semuanya bangun.</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/curhat-mahasiswa-bontang-di-luar-negeri-selama-puasa-dan-pandemi-terkurung-di-kamar-tiap-pagi-dicek-suhu-tubuh/">Curhat Mahasiswa Bontang di Luar Negeri Selama Puasa dan Pandemi (1): Terkurung di Kamar, Tiap Pagi Dicek Suhu Tubuh</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="intro-text">
<p>Ramadan di negeri orang selalu menyisakan cerita. Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini. <em>Bontangpost.id</em> akan membagi cerita para mahasiswa dari Bontang selama berpuasa di tanah rantau. Dimulai dengan pengalaman Intan Eka Puspa Sari, yang menempuh pendidikan di Russian University of Transport.</p>
</div>
<p><strong>SUDAH </strong>dua pekan saya di kamar saja. Di ruangan sekitar 6 x 8 meter. Dilengkapi dua kamar, satu WC, dan satu kamar mandi.  Dihuni lima orang.</p>
<p>Keadaan yang benar-benar, tidak terbayangkan sebelumnya. Ketika Covid-19 mulai menyebar, saya merasa biasa saja. Waktu kuliah diliburkan, saya masih berpikir positif. Tapi semenjak asrama ditutup karena ada mahasiswa yang positif corona, saya tidak tenang. Pikiran ke mana-mana. Kami harus di kamar selama dua pekan.</p>
<p>Sekarang di setiap lantai ada penjaganya. Mereka memakai seragam. Kami tidak boleh keluar kamar, kecuali mengambil makanan pembagian dan buang sampah setiap pukul 20.00-20.30.</p>
<p>Kesempatan itu jadi ajang <em>refreshing</em> buat saya bisa keluar kamar meskipun hanya di koridor. Keadaannya tidak menyenangkan, bukan karena teman-teman yang tidak asyik, tapi karena kami mulai jenuh hanya di dalam kamar.</p>
<p>Bayangkan, di ruangan itu, selama 24 jam tidak ketemu orang lain. Sebagai hiburan, saya menelepon keluarga di rumah. Cerita tentang puasa di Indonesia. Sebenernya ada sedikit iri, sedikit rasa pengin balik ke Indonesia, tapi karena merasa tidak aman untuk orang-orang rumah mendingan saya di sini saja. Ibu juga bilang seperti itu waktu saya komunikasi pada Februari lalu. Dia khawatir saya malah tertular di jalan.</p>
<p>Setiap pagi, kamar kami diketuk. Untuk mengecek suhu tubuh. Kami sebut itu gedoran cinta. Petugas akan menggedor pintu sampai semuanya bangun. Pintu kami juga digedor seperti itu kalau ada pembagian makanan. Rasanya sudah seperti tahanan.</p>
<p>Sebenarnya, untuk pengukuran suhu itu sudah dilakukan sebelum kami diisolasi. Dari awal kampus diliburkan kami sudah rutin cek suhu tubuh. Mulai dari dokter dan perawat yang memakai baju dinas biasa. Sampai sekarang mereka ngecek kami pakai APD.  Saya merasa seperti virus. <em>Ha ha ha</em>. Tetapi tidak apa, asramaku soalnya sudah zona merah.</p>
<p>Kalau makanan pembagian jangan ditanya <em>gimana</em> rasanya. Hambar <em>Ha ha ha</em>.  Banyak mahasiswa asing yang protes. Apalagi di asrama ini banyak muslim yang puasa. Jadi ingin makanan halal. Dekan kampus sampai meyakinkan lewat grup <em>WhatsApp</em> kalau makanan yang dikasih itu halal. Dan mereka tahu kalau kami tidak boleh makan babi.</p>
<p>Persoalan makanan tidak selesai sampai halal dan haram saja. Ada saja tuntutan mahasiswa. Ini mungkin karena kami tidak boleh keluar. Belum lagi kami tidak boleh mengunakan dapur. Dapur ditutup. Dapur cuma ada satu di setiap lantai. Jadi kalau mau masak, ya, kami ke dapur buat nyiapin makanan buka puasa.</p>
<p>Tapi, Ramadan kali ini kami tidak bisa menggunakan dapur. Walhasil kami buka dan sahur dengan makanan pembagian dari asrama, yang kemarin membuat saya tiba-tiba bolak-balik WC karena salah makan.</p>
<p>Saya memang sedikit susah terkait makanan. Karena terkadang laukmya ikan. Sedangkan saya tidak bisa makan ikan. Alhamdulillah saya sudah stok sosis. Kami juga menyimpan risoles dan sosis Solo di pendingin, lalu digoreng saat buka puasa.</p>
<p>Satu yang saya syukuri, kami masih bisa buka puasa bareng. Meski cuma berlima, terpenting tidak sendirian. Masih tetep ada rasa kekeluargaannya. Puasa di sini lebih lama. Sahur pukul 01.30 dan buka puasa pukul 20.30. Meski Muslim di Rusia minoritas, penduduknya tetap menghargai kami yang berpuasa.</p>
<p>Di Rusia, tidak ada libur Ramadan dan Lebaran. Tahun lalu, selesai Salat Idulfitri  di KBRI saya langsung ke kampus, karena ada jam kuliah. Tahun ini KBRI sudah mengumumkan bahwa tidah ada Salat Idulfitri. Sedih sekali baca surat pengumumannya. Tapi mau bagaimana lagi, pandemi ini benar-benar bikin semuanya berantakan.</p>
<p>Harusnya bisa <em>ngerasain</em> rendang, sate, dan bakso. Nostalgia makanan khas Indonesia di KBRI. Satu kebiasaan rutin, kami anak-anak Kaltim lakukan ketika Ramadan. Biasanya kami melakukan buka bersama dengan mahasiswa Indonesia seasrama, sekalian Salat Tarawih. Sedih <em>sih</em> kalau diingat.</p>
<p>Oia, satu lagi. Puasa kali ini tidak ada kurma sama sekali. Puasa tanpa kurma itu tidak enak. Semoga Ramadan tahun depan bisa makan kurma sepuasanya. Puasa kali ini tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dan sekarang ditambah 2 minggu ke depan karena makin banyak anak asrama yang terpapar covid-19. <strong>(edw)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/curhat-mahasiswa-bontang-di-luar-negeri-selama-puasa-dan-pandemi-terkurung-di-kamar-tiap-pagi-dicek-suhu-tubuh/">Curhat Mahasiswa Bontang di Luar Negeri Selama Puasa dan Pandemi (1): Terkurung di Kamar, Tiap Pagi Dicek Suhu Tubuh</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Asal Bontang Olah Cangkang Kepiting Jadi Penyedap Rasa</title>
		<link>https://bontangpost.id/mahasiswa-asal-bontang-olah-cangkang-kepiting-jadi-penyedap-rasa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M Zulfikar Akbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Aug 2019 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bontang]]></category>
		<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[braco]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa bontang]]></category>
		<category><![CDATA[penyedap rasa kepiting]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=64474</guid>

					<description><![CDATA[<p>Siapa menyangka cangkang kepiting bisa diolah kembali menjadi penyedap rasa? Di tangan mahasiswa asal Bontang ini, hal tersebut bisa terwujud. Produknya pun kini laris keras di pasaran. RATUSAN cangkang kepiting hanya dibiarkan menumpuk, layaknya sebuah gunung di sudut meja sebuah rumah pedaging di kawasan Manggar, Balikpapan. Setelah para pekerja berhasil mengeluarkan daging hewan bercapit ini, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mahasiswa-asal-bontang-olah-cangkang-kepiting-jadi-penyedap-rasa/">Mahasiswa Asal Bontang Olah Cangkang Kepiting Jadi Penyedap Rasa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Siapa menyangka cangkang kepiting bisa diolah kembali menjadi penyedap rasa? Di tangan mahasiswa asal Bontang ini, hal tersebut bisa terwujud. Produknya pun kini laris keras di pasaran.</strong></p>
<p>RATUSAN cangkang kepiting hanya dibiarkan menumpuk, layaknya sebuah gunung di sudut meja sebuah rumah pedaging di kawasan Manggar, Balikpapan. Setelah para pekerja berhasil mengeluarkan daging hewan bercapit ini, yang akan dikirim ke beberapa daerah di Indonesia dan ke luar negeri.</p>
<p>Zulfadli, warga RT 14 Gang Tower, Kelurahan Tanjung Laut Indah ini melihat peluang. Dari tertumpuknya rumah kepiting yang tak terpakai itu. Pun setelah mendengar keluh kesah para pengusaha pengolah produk makanan berbahan dasar kepiting, yang kesusahan mencari racikan bumbu yang pas. Bersama ketiga rekannya, Yosuda Tuwaidan, Fitriani Cangi, dan Ine Nisrina Nurfauz, jiwa kreativitasnya muncul. Cangkang kepiting tersebut, diteliti untuk diikutkan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.</p>
<p>“Para pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah) ini rasa kepitingnya pake daging. Nah karena daging kepiting ini mahal, jadi ada beban <em>cost</em> produksi. Selain itu kalau dagingnya ditambah banyak, tekstur makanan akan jadi keras,” ungkap Ketua Tim Braco, Zulfadli.</p>
<p>Fadli –sapaan akrabnya- merasa ada potensi bisnis yang harus dikembangkan untuk menunjang permintaan pasar ini, dan bahan baku yang tersedia itu. Ia bersama kawannya tersebut langsung membuat penyedap rasa dari ekstrak cangkang kepiting. “Namanya Braco,” katanya.</p>
<p>Setelah diperkenalkan, produk anak bangsa ini laris di pasaran, baik itu permintaan dari UKM maupun ibu rumah tangga. Bahkan katanya, peminatnya itu tidak hanya wilayah Kalimantan saja. UKM dari luar provinsi yakni Sumatra dan Jawa juga memesan jumlah yang banyak.</p>
<p>“Laris, karena mereka merasa ada rasa baru juga,” ucapnya.</p>
<figure id="attachment_64475" aria-describedby="caption-attachment-64475" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2019/08/braco-kepiting1.jpeg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-64475" src="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2019/08/braco-kepiting1.jpeg" alt="" width="1280" height="960" srcset="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2019/08/braco-kepiting1.jpeg 1024w, https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2019/08/braco-kepiting1-768x576.jpeg 768w" sizes="(max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></a><figcaption id="caption-attachment-64475" class="wp-caption-text">Penyedap rasa dari ekstrak cangkang kepiting, Braco. (istimewa)</figcaption></figure>
<p>Permintaan yang tinggi tersebut tampaknya tidak membuat para mahasiswa ini gembira. Melainkan merasa kesulitan untuk pemenuhan. Hal ini dipengaruhi dari proses produksi yang masih menggunakan alat manual, seperti wajan dan alat dapur lainnya. Sehingga hasil yang didapatkan sedikit, dalam sehari hanya mendapatkan 400 gram. Sedangkan permintaan satu UKM mencapai 2 kilogram (Kg).</p>
<p>“Berbeda jika menggunakan mesin ekstrak, kapasitas 25 liter bahan baku bisa menghasilkan dalam sehari 2-3 kg, tapi harganya mesin mahal, sampai Rp 25 juta,” ucapnya.</p>
<p>Selain itu, mereka juga belum memiliki legalitas, terkait sertifikasi komposisi produk tersebut. Karena dalam pembuatan itu membutuhkan biaya yang besar. Namun untuk izin produk industri rumah tangga (PIRT) dan izin UMKM telah dimiliki.</p>
<p>“Sertifikasi itu seperti kalau dilihat di bungkus susu itu, ada komposisinya protein berapa, dan sebagainya. Itu buatnya di Sucofindo Surabaya, satu label  Rp 1,5 juta,” paparnya.</p>
<p>Oleh sebab itu, lantaran hanya merupakan mahasiswa, pihaknya membutuhkan suntikan modal yang besar untuk pemenuhan itu semua. Agar ke depannya dapat memenuhi permintaan konsumen yang besar dan dapat membayar gaji para karyawannya. (Zaenul)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/mahasiswa-asal-bontang-olah-cangkang-kepiting-jadi-penyedap-rasa/">Mahasiswa Asal Bontang Olah Cangkang Kepiting Jadi Penyedap Rasa</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
