<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ramadan di Hongkong Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/ramadan-di-hongkong/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/ramadan-di-hongkong/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 May 2018 14:20:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>ramadan di Hongkong Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/ramadan-di-hongkong/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Breakpoint Diaspora Indonesia di Hongkong</title>
		<link>https://bontangpost.id/breakpoint-diaspora-indonesia-di-hongkong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 May 2018 03:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan di Hongkong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=40417</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I Sabtu dan Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para buruh migran Indonesia atau disingkat BMI yang ada di Hongkong. Karena di dua hari ini mereka banyak yang libur bekerja. Dan kesempatan di dua hari ini mereka gunakan untuk kumpul-kumpul bersama teman-teman seperjuangan, istilah agamanya adalah silaturahim. Tempat titik kumpul [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/breakpoint-diaspora-indonesia-di-hongkong/">Breakpoint Diaspora Indonesia di Hongkong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I</p>
<p>Sabtu dan Minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para buruh migran Indonesia atau disingkat BMI yang ada di Hongkong. Karena di dua hari ini mereka banyak yang libur bekerja. Dan kesempatan di dua hari ini mereka gunakan untuk kumpul-kumpul bersama teman-teman seperjuangan, istilah agamanya adalah silaturahim. Tempat titik kumpul mereka pun sederhana saja, tidak muluk-muluk. Tidak harus mahal ke gedung. Tidak menyewa pendopo atau memboking hotel. Simpel dan fleksibel, yaitu hanya menggelar tikar di bawah jembatan atau tangga penyeberangan orang yang kosong, sudah jadi. Inilah <em>breakpoint</em> ala Diaspora Indonesia. Tempat titik kumpulnya orang-orang Indonesia dari berbagai daerah.</p>
<p>Kumpul-kumpul mereka pun bermacam-macam tujuan. Ada yang main arisan, paguyuban, kesenian, keterampilan, bahkan pengajian. Jangan salah sangka, kalau di Hongkong itu enggak ada pengajian, buktinya di sini banyak majelis taklim dan komunitas muslimah. Ternyata  di sini ada BMI bisa belajar ngaji Alquran, menambah wawasan dengan berbagai macam keterampilan, serta bergabung dengan himpunan atau perkumpulan yang santun dan membentangkan kebaikan. Menjalankan ibadah puasa pun tidak ada hambatan.</p>
<p>Jumlah Buruh migran Indonesia di Hongkong lebih dari 140.000, ungkap Muhammad Ilham – General Manager Dompet Dhuafa Hongkong &#8211;  didominasi oleh kalangan perempuan. Sedikit  sekali yang saya temui dari kalangan laki-laki. Di sinilah dibutuhkan pencerahan dan motivasi kebaikan untuk buruh migran. Terutama di bulan Ramadan ini, sangat dibutuhkan pencerahan dari para ustadz dan ustadzah, agar mereka diingatkan untuk selalu beramal soleh dan menjaga  iman.</p>
<p>Di Bulan Ramadan ini, untuk Hongkong kedatangan banyak ustaz juga ustazah dari Indonesia, bukan hanya dari Dompet Dhuafa, tetapi juga ada dari PCINU, dan lembaga-lembaga keagamaan lain di Indonesia.</p>
<p>Ustaz  dan ustazah yang didatangkan itu juga harus mumpuni keilmuannya. Fasih membaca Alquran. Hafal Alquran minimal 10 juz. Mahir berbahasa Arab dan Inggris.  Dapat menyampaikan pesan kebaikan dengan penuh hikmah. Karena setiap selesai pengajian akan ada sesi tanya jawab. Meskipun terkadang dalam tanya jawab itu ada pertanyaan-pertanyaan dari para buruh migran yang sedikit di luar dari apa yang dibayangkan sebelumnya. Mungkin tidak pernah mendengarnya ketika belajar di pesantren. Mungkin ustadz atau ustadzah akan kaget ketika mendapatkan pertanyaan, dan ternyata pertanyaan itu kasusnya hanya ada di Hongkong. Oleh karena itu dibutuhkan pengetahuan dan juga keilmuan yang mumpuni dari ustaz dan Ustazah, tidak asal menjawab, tidak juga asal menghalalkan dan memudahkan sehingga mereka menjadi kebingungan, tidak punya pedoman.</p>
<p>Mudah-mudahan<em>,   breakpoint</em> atau tempat kumpul-kumpulnya diaspora Indonesia yang ada di Hongkong dapat menambah keakraban dan cinta tanah air. Semoga mereka diberikan kemudahan untuk menjalankan ibadah pada Bulan Ramadan dan mendapatkan ridho dari Allah <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em> serta diberikan kebebasan menjalankan ibadahnya oleh majikan masing-masing. <em>Amin ya robbal alamin</em>.(***)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/breakpoint-diaspora-indonesia-di-hongkong/">Breakpoint Diaspora Indonesia di Hongkong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelar Pengajian di Kolong Jembatan Taipo &#8211; Hongkong</title>
		<link>https://bontangpost.id/gelar-pengajian-di-kolong-jembatan-taipo-hongkong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 May 2018 03:50:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[ramadan di Hongkong]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=40237</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I Teman  saya, yang juga seorang Dai Ambassador pada tahun 2017 lalu di Hongkong, ketika melihat postingan foto pengajian di kolong jembatan di Taipo, ia mengatakan sepertinya pernah ke sini yang dekat Terminal apa ya tadz? tanya teman saya, Muhandis az-zuhri – seorang  dosen di IAIN Pekalongan Jawa Tengah. Tampaknya [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/gelar-pengajian-di-kolong-jembatan-taipo-hongkong/">Gelar Pengajian di Kolong Jembatan Taipo &#8211; Hongkong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: H. Khumaini Rosadi, SQ, M.Pd.I</p>
<p>Teman  saya, yang juga seorang Dai Ambassador pada tahun 2017 lalu di Hongkong, ketika melihat postingan foto pengajian di kolong jembatan di Taipo, ia mengatakan sepertinya pernah ke sini yang dekat Terminal apa ya tadz? tanya teman saya, Muhandis az-zuhri – seorang  dosen di IAIN Pekalongan Jawa Tengah. Tampaknya memang beliau sangat terkesan sekali dengan model pengajian buruh migran Indonesia yang ada di Hongkong. Unik. Memang sangat mengesankan mengaji di bawah kolong jembatan.</p>
<p>Sementara ada juga teman saya yang mengatakan miris dan prihatin melihat postingan saya itu. Mungkin dia melihat dari sudut pandang yang berbeda, karena memang setiap isi kepala manusia pendapatnya pasti berbeda-beda. Beliau mengatakan apa enggak bising di bawah jembatan pengajiannya? Lho kok nggak di masjid atau di rumah atau di gedung-gedung nya yang menjulang tinggi sampai langit? Menyedihkan. Mengaji kok di kolong jembatan! gimana ceritanya nih? ini salah satu pendapat jamaah saya yang tidak perlu saya sebutkan namanya.</p>
<p>Inilah bukti, bahwa dalam segala sesuatu hal yang menurut kita sendiri itu baik, belum tentu menurut orang lain baik. Tentunya harus bijaksana dalam menyikapi segala perbedaan itu. Seperti orang buta yang mengatakan gajah itu lebar karena memegang kupingnya gajah. ada yang mengatakan gajah itu panjang karena memegang belalainya. Ada yang mengatakan gajah itu tajam karena memegang ujung gadingnya. Ada yang mengatakan gajah itu besar karena memegang perutnya. Ada yang mengatakan gajah itu keras karena memegang kakinya gajah. Ada juga yang mengatakan gajah itu berbulu karena memegang buntunya gajah.</p>
<p>Harus bisa shalawatan jika mau memberikan ceramah di hadapan ibu-ibu majelis taklim di Hongkong. Terutama majlis taklim al-Muhajiroh Taipo – Majelis taklim yang setiap hari sabtu berkumpul dan menggelar tikar di bawah kolong Jembatan Taipo. Ibu-ibunya pandai bermain rebana dan bersenandung shalawat. Saya pun di daulat untuk bersholawat. Untungnya saya Ustadz kekinian. Ustadz Gaul yang kata orang wajah saya mirip dengan Kim Jong Un. Hehe. Tawaran itu pun saya sambut dengan baik, dan melantunkan ya habibal qolbi yang sedang viral saat ini. Inilah  pentingnya metode dakwah. Berdakwah dengan santun, berdakwah menyesuaikan dengan mad’u nya. Sehingga dakwah yang disampaikan dapat diterima dan mudah untuk diamalkan.</p>
<p>Di sinilah letak uniknya pengajian di kolong jembatan di Hongkong, mengaji sambil hiburan. Sesekali orang lalu lalang mereka ada yang penasaran, bahkan ada yang sampai mendekati sambal mendengarkan, mendokumentasikannya dengan memotret, merekam video bahkan ikut menikmati sambal memberikan jempol goodnya. Bisa jadi, ini merupakan salah satu bentuk hidayah buat mereka. Amin.</p>
<p>Berbeda dengan di Macau, ungkap Rusmini – salah satu Volunteer Dompet Dhuafa Hongkong. Kalau  Macau pengajian biasanya digelar di malam hari, pagi sampai siang istirahat. Kalau di Hongkong pengajian digelar siang sampai sore hari. Dan kebanyakan umumnya pengajian itu dilakukan pada hari libur, yaitu sabtu dan minggu.</p>
<p>Jarak tempuh tempat pengajian kurang lebih sekitar 1 jam perjalanan bis bertingkat dua, antara causeway Bay ke Taipo, dan itu pun harus menunggu agak lama. Setiap jurusan ada nomornya, untuk jurusan causeway bay (dekat Victoria Park – salah satu destinasi tempat kumpul dan pengajian BMI) – Taipo bernomor 370.</p>
<p>Manfaat  pengajian di Hongkong, mereka bisa sambil liburan juga, sambil bertemu dengan teman-teman, cerita-cerita sesame buruh migran, mereka bisa menceritakan segala masalahnya, dan curhatnya ke teman-teman.</p>
<p>Kondisi ,masyarakat di Hongkong itu memang semuanya menggunakan transportasi umum, jarang mereka menggunakan transportasi pribadi karena mahal.  Belum untuk biaya parkirnya, biaya per km nya pun itu diperhatikan bahkan dihitung. Tidak sembarangan memakai jalan umum, semua ada beayanya. Makanya di sini jarang macet dan orangnya juga sehat-sehat karena banyak yang jalan kaki, lalu lalang menyeberangi jalanan. (***)</p>
<p>Tentang Penulis</p>
<ul>
<li>Corps Dai Ambassador Dompet Dhuafa (CORDOFA)</li>
<li>Tim Inti Dai Internasional dan Multimedia (TIDIM) LDNU</li>
<li>Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STITSYAM) Bontang</li>
<li>Guru SMA YPK Bontang</li>
<li>Imam Besar Masjid Agung Al-Hijrah Kota Bontang</li>
<li>Penulis Buku: Fathul Khoir – Memahami Tajwid dengan 300 bait Syair, Perjalanan Dakwah di Eropa, Al-Ma’shumi – Metode mudah belajar Alquran, Pengantar Mata Kuliah Praktek Keterampilan Ibadah, Fiqih al-Hijrah – Kumpulan Tanya Jawab Fiqih di al-Hijrah.</li>
</ul>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/gelar-pengajian-di-kolong-jembatan-taipo-hongkong/">Gelar Pengajian di Kolong Jembatan Taipo &#8211; Hongkong</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
