Kisah Inspiratif Warga Bontang: Kamaluddin (147)
Budaya Jepang menjadi inspirasi tersendiri bagi Kamaluddin. Kegemarannya menyaksikan film-film bertema samurai khas negara matahari terbit mengilhaminya untuk menjadi guru bahasa Jepang. Bukan sekadar guru, pria yang akrab dipanggil Kamal ini juga sukses membawa anak-anak didiknya meraih prestasi.
LUKMAN MAULANA, Bontang
Semangat dan prinsip hidup para kesatria samurai menjadi inspirasi tersendiri bagi Kamal. Film-film bertema samurai yang disaksikannya sejak remaja, memunculkan kecintaan terhadap budaya Jepang. Menurutnya, budaya Jepang telah menginspirasi hidupnya. Kata dia, film-film samurai tersebut menunjukkan semangat positif orang Jepang. Di antaranya semangat bertindak dan semangat mengejar impian.
“Dari situ saya tertarik untuk bisa menginjakkan kaki di Jepang. Untuk melengkapi spirit hidup, saya tekadkan untuk bisa pergi ke Jepang. Melihat sendiri bagaimana praktik budaya mereka di sana,” kisah Kamal.
Prinsip hidup samurai inilah yang kemudian diterapkan oleh Kamal dalam menjalani hidupnya. Yaitu prinsip gigih, pantang menyerah, dan penuh semangat. Dengan keinginan kuat untuk bisa ke Jepang, Kamal lantas mengambil jurusan sastra Jepang di Universitas Hasanuddin, Makassar di tahun 2001. Harapannya dengan mempelajari bahasa Jepang, dia bisa pergi ke Jepang melalui berbagai program pemerintah yang ada waktu itu.
“Sebelum saya kuliah, sedang marak program pengiriman peserta magang ke Jepang. Nah, saya ambil jalur pendidikan agar bisa terpilih dalam program itu. Tapi dalam perjalanannya tidak mulus, tidak semudah yang saya bayangkan,” ungkapnya.
Berbagai seleksi untuk bisa ke Jepang diikuti Kamal selama menjadi mahasiswa. Mulai dari pertukaran pelajar hingga lomba mahasiswa teladan. Salah satunya melalui keikutsertaannya pada lomba pidato bahasa Jepang. Berbagai prestasi diraihnya dalam lomba-lomba bahasa Jepang yang diikutinya tersebut. Mulai dari juara tingkat provinsi, daerah, hingga tingkat nasional.
Keberhasilannya menjadi juara ketiga lomba pidato bahasa Jepang tingkat nasional tahun 2004 akhirnya membawa Kamal terbang ke Jepang. Namun kunjungannya dalam sepekan itu rupanya belum memuaskannya. Karena kala itu dia tidak bisa mengabadikan momen-momen saat dia berada di Jepang.
“Saat itu saya belum punya kamera atau ponsel berkamera, jadi tidak bisa mengabadikannya. Kalaupun ada fotonya, dipotret sama dosen. Itupun fotonya di bandara dan di hotel,” tambah Kamal.
Tidak memiliki bukti valid pernah menginjakkan kaki di Jepang membuat Kamal bertekad bisa kembali mengunjungi Jepang. Apalagi selepas lulus kuliah tahun 2006, dia melakoni profesi sebagai guru Bahasa Jepang di Bontang. Dalam mengajar murid-muridnya, Kamal kerap menceritakan tentang budaya dan kehidupan di Jepang. Namun karena ketiadaan bukti foto-foto perjalanannya ke Jepang, dia kesulitan untuk memberikan lebih banyak motivasi kepada anak-anak didiknya.
Baru kemudian di tahun 2015 dia bisa kembali menjejakkan kaki di Jepang melalui studi banding guru-guru bahasa Jepang se-Indonesia. Kebetulan dia yang terpilih mewakili Kaltim. Momen kali kedua ini pun dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengabadikan perjalanannya di negeri asal bunga sakura tersebut.
“Pada kunjungan kedua, saya sudah punya ponsel berkamera. Jadi saya ambil foto banyak-banyak. Sehingga ketika nanti murid-murid saya bertanya tentang Jepang, saya bisa memberikan gambaran yang jelas berikut foto-foto kunjungan saya ke sana,” urainya.
Karier Kamal sebagai guru sendiri bermula di SMK Putra Bangsa. Kala itu setelah lulus kuliah, dia diminta mengajar di sana sebagai guru bahasa Jepang. Selama enam tahun di Putra Bangsa, dia berhasil mendidik para murid mencetak sembilan prestasi dalam lomba bahasa Jepang. Baik di tingkat Bontang maupun tingkat provinsi.
Ketika di 2012 dia pindah mengajar ke SMP dan SMK YKPP Bontang, lebih banyak lagi prestasi yang lahir lewat tangan dinginnya. Tercatat hingga 2016, para pelajar SMP dan SMK YKPP meraih 32 prestasi. Termasuk di antaranya juara lima besar dalam lomba bahasa Jepang garapan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.
“Rasanya bahagia dan ada kebanggaan tersendiri bisa membawa anak-anak menjadi juara. Hal ini juga tidak terlepas dari peran dan dukungan sekolah yang mendukung penuh, baik secara morel dan dana,” jelas Kamal.
Menurut anak ketiga dari empat bersaudara ini, bahasa Jepang penting untuk diajarkan kepada anak-anak Indonesia. Karena dalam bahasa Jepang, tersirat prinsip-prinsip hidup yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung, mempelajari bahasa Jepang juga akan sekaligus mempelajari kebudayaan Jepang.
“Prinsip-prinsip yang bisa ditiru di antaranya tentang disiplin hidup, loyalitas, dan juga totalitas. Kalau diterapkan dalam kehidupan pelajar tentu sangat positif,” ujar pehobi melukis ini.
Memang, yang diajarkan Kamal bukan melulu tentang tulisan dan tata bahasa dalam bahasa Jepang. Melainkan juga terkait masyarakat dan budaya orang Jepang. Setelah mengunjungi Jepang secara langsung, Kamal bisa menyimpulkan budaya-budaya ini masih melekat erat dalam kehidupan masyarakat Jepang.
“Misalnya untuk seragam sekolah yang digunakan para pelajar di sana, cenderung sopan dan tidak seperti yang digambarkan dalam berbagai media hiburan saat ini. Anak-anak dan remaja di sana juga sopan-sopan,” cerita Kamal.
Bagi Kamal pribadi, bahasa Jepang memiliki ciri khas yang menarik untuk dipelajari. Tulisan Jepang yang terdiri dari tiga jenis huruf menurutnya memberikan tantangan tersendiri untuk dipelajari. Sementara logatnya, disebut Kamal, memengaruhi terhadap karakteristik orang Jepang. Apabila bahasa yang digunakan bersifat tegas, maka logatnya akan terdengar begitu tegas. Pun bila bahasa yang digunakan bersifat lembut, logatnya pun terdengar begitu lembut.
“Pada dasarnya bahasa Jepang bisa ikut menunjang masa depan anak-anak. Dengan keahlian berbahasa Jepang, mereka bisa mengajarkannya kembali misalnya dengan membuka kursus. Termasuk juga di perusahaan yang ada di Bontang, yang berhubungan juga dengan orang-orang Jepang,” sebut pria yang telah menerbitkan buku berjudul “Spirit of Samurai” ini.
Sebagai profesi pertama yang digelutinya, Kamal kini merasa nyaman menjadi seorang guru. Dia merasa hidupnya menjadi lebih berarti. Karena dia bisa ikut mendidik dan memajukan anak bangsa. Bukan hanya bahasa Jepang, Kamal juga pernah mengajar bahasa lainnya yaitu Inggris dan Korea. Namun sekarang ini dia fokus mengajar bahasa Jepang. Di luar pelajaran bahasa, dia juga menjadi guru seni dan budaya.
“Dari kecil saya memang suka melukis dan membuat patung. Bisa dibilang bakat dari lahir. Karena itu ketika dibutuhkan, saya juga menjadi guru untuk pelajaran seni dan budaya,” kata dia.
Diakui Kamal, mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak bukan hal yang mudah. Karena bisa dipastikan tidak semua anak menyukai pelajaran yang diberikannya. Meski begitu, dia tetap harus mengajar bahasa Jepang kepada anak-anak. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, anak-anak tetap mendapat pelajaran tersebut selama pelajaran ini ada di sekolah. Dalam hal ini, Kamal turut memperhatikan anak-anak yang memiliki minat lebih terhadap bahasa Jepang.
“Untuk itu di luar jam pelajaran di sekolah, saya membuka ekstrakurikuler bahasa Jepang sepekan tiga kali. Bagi mereka yang betul-betul memiliki minat terhadap bahasa Jepang. Walaupun saat ini dana pembinaannya tidak ada, tapi tetap saya usahakan agar ekstrakurikuler ini tetap berjalan,” jelas Kamal yang kini mengajar di enam kelas.
Agar anak-anak tertarik mempelajari bahasa Jepang, Kamal bisanya menceritakan keunggulan-keunggulan yang dimiliki bangsa Jepang. Dia memperlihatkan gambaran bangsa Jepang secara umum. Termasuk memberitahukan bahwa bahasa Jepang tidaklah sulit untuk dipelajari. Selama inti bahasa tersebut telah dipahami, belajar bahasa asing manapun akan terasa mudah.
Meski sudah lama menjadi guru, namun Kamal mengaku masih kesulitan dalam mengajar anak-anak. Khususnya saat menghadapi mereka yang kurang peduli terhadap pelajaran yang diajarkannya. Meski begitu sebagai seorang guru, dia dituntut untuk selalu sabar. Ada kalanya dia merasa bahagia ketika menyaksikan anak-anak didiknya berminat dengan ilmu yang diajarkannya. Apalagi bila berhasil membawa mereka memenangkan suatu lomba.
“Di situlah tolok ukur keberhasilan sebagai guru. Ketika anak-anak didik saya berhasil mencetak prestasi yang membanggakan,” ungkapnya.
Meski sudah dua kali pergi ke Jepang, Kamal mengaku masih ingin kembali lagi mengunjungi negerinya Doraemon tersebut. Alasannya, dia ingin merasakan berada di Jepang dalam musim yang berbeda. Dalam kunjungan terakhirnya, Jepang tengah memasuki musim semi. Harapannya dalam kunjungan berikutnya ke Jepang, dia bisa merasakan musim gugur di sana.
“Kalau prinsip saya sih, jangan mempersulit diri sendiri. Kalau saya bisa ya saya lakukan. Tapi kalau tidak sanggup ya jangan dipaksakan,” tandas lajang kelahiran Jayapura, 34 tahun lalu ini. (bersambung)
Nama: Kamaluddin, SS
TTL: Jayapura, 29 April 1982
Ortu: Andi Baharuddin (ayah), Andi Rukiah (ibu)
Pendidikan:
- SD 009 Bontang Selatan (lulus 1995)
- SMP YPPI Bontang (lulus 1998)
- SMKN 1 Bontang (lulus 2001)
- S1 Universitas Hasanuddin Makassar (lulus 2006)
Alamat: Jalan KS Tubun Nomor 29 RT 28 Tanjung Laut Indah







