Punya 57 Musala, Ingin Bangun Masjid
Haji, selain sebagai momentum beribadah menjalankan Rukun Islam yang kelima, sebagian jemaah juga memanfaatkan untuk menjalin silaturahmi dengan jemaah lainnya.
WUQUF di Maktab 96 Arafah, Kamis (31/8) lalu, ada satu rombongan jemaah haji berbendera Korea dan Jepang. Tas cangklong mereka, yang diselempangkan di pakaian ihram, juga ada bendera Korea-nya.
Mereka para lelaki yang kulitnya tidak kuning, sebagaimana lazimnya lelaki Korea. Kulit mereka agak gelap. Wajah mereka seperti kebanyakan wajah pemuda Indonesia.
Ketika didekati, mereka ternyata berbahasa Jawa. Ketika diajak kenalan, mereka mengaku bernama Agus (35) asal Madiun, sudah 4,5 tahun bekerja di pabrik pulpen di Seoul. Ada juga Heru Vinun (37) asal Trenggalek, sudah 10 tahun bekerja di perakitan mesin di Seoul. Hamid Maulana Yusuf (39) asal Lampung, sudah 12 tahun berprofesi sebagai welder (ahli las) di Seoul, dan Nurcholis ponorogo (39) sudah 4 tahun bekerja di pabrik makanan, juga di Seoul.
Menurut mereka, ada 20 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berhaji bersama rombongan mereka. Mereka berhaji menggunakan jasa ONH Plus Golden Bridge, milik wanita asal Jogja yang sudah sejak 10 tahun lalu mengelola ONH Plus di Seoul, Korsel.
Ongkos yang harus mereka bayar berhaji ONH Plus dari Seoul, untuk satu orang 4,5 juta Won, setara Rp 50 juta. Bahkan, di Maktab 96 itu juga ada rombongan ONH Plus asal Indonesia, yang biayanya satu orang sekitar Rp 225 juta.
Menurut Agus, semangat beragama kebanyakan TKI di Korsel sangat tinggi. Terbukti sudah ada 57 musala didirikan oleh para TKI di seluruh Korsel. 50 buah musala masih sewa dan 7 musala dari gedung yang mereka beli. Di antara 7 gedung itu ada yang berharga 600 juta Won, setara Rp 6 miliar lebih.
Musala yang dibeli seharga 600 juta Won itu bangunan berlantai lima, yang sekarang digunakan untuk bermacam kegiatan keislaman. Ada ruang untuk belajar kajian Islam. “Kami sekarang sedang akan membangun Masjid Indonesia di Seoul, di dekat Central Station Seoul,” kata Agus.
Masjid itu diperkirakan bisa digunakan pada tahun 2020. “Sekarang kami masih terus menghimpun dana dari para TKI di Korsel,” ujar Agus.
Untuk menghimpun dana, dirasa tidak sulit. Menurut Agus, para TKI di Korsel bergaji dikisaran Rp15 juta sampai Rp 20 juta. Biaya hidup mereka rata-rata setiap bulan di kisaran Rp 5 juta. “Kami semua keluarga muslim di Korsel kebanyakan masak sendiri di rumah, untuk menjaga kehalalannya. Kalaupun sesekali makan di luar, kami pilih makan di restoran Indonesia, karena sudah kenal,” kata Agus.
Sementara itu dalam beribadah sehari-hari, dikatakan Heru Vinun, hampir tidak ada kendala. “Kecuali salat Jumat, kami hanya bisa jika sedang kerja malam atau libur,” kata Heru Vinun.
Tapi ada juga perusahaan yang membolehkan karyawan yang muslim untuk salat Jumat di hari kerja. “Saya bisa salat Jumat seperti di Indonesia. Tidak ada masalah,” sambung Hamid Maulana Yusuf. (zam)







