bontangpost.id – Dinas Kesehatan akan kembali melakukan penyebaran ember telur Wolbachia. Khususnya di Kecamatan Bontang Barat dan Selatan. Plt Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diskes Nur Ilham mengatakan terdapat 3.031 ember yang akan ditempatkan di dua kecamatan tersebut.
“Rinciannya untuk Bontang Barat 1.226 ember dan Bontang Selatan 1.805 ember,” kata Ilham.
Jumlah ember terbanyak menyasar Kelurahan belimbing dengan 696. Kelurahan ini memiliki luas wilayah 959 hektare. Sebagian besar berupa area padat permukiman. Adapun ember tersedikit dari dua kecamatan itu ialah Berbas Pantai. Hanya 96 ember yang akan disebar.
Sementara untuk tanggal penyebaran masih belum dipastikan. Semula Diskes menjadwalkan pada 4 Desember. Namun kemungkinan akan diundur karena saat ini masih fokus pendataan hingga sosialisasi ke masyarakat. Pendataan yang dimaksud menyangkut pemilik hunian yang akan dititip ember.
“Tujuannya untuk mudah dalam melakukan pengawasan,” ucapnya.
Menyangkut skema sosialisasi juga diubah. Bila sebelumnya Diskes hanya menyasar kelurahan dengan undangan ketua RT. Kali ini jika ada permintaan warga yang membutuhkan penjelasan terkait Wolbachia, baik dari Diskes maupun Puskesmas langsung turun tangan.
“Skema diubah karena tingkat penyerapan pengetahuan warga itu tidak sama,” tutur dia.
Apalagi setelah menyeruak kabar penundaan penyebaran telur Wolbachia di Denpasar, Bontang juga terkena imbasnya. Sosialisasi ini gencar dilakukan untuk memberikan pemahaman terkait Wolbachia ke masyarakat. Agar kondisi serupa tidak terjadi di Kota Taman.
Jumlah kader yang telah mengikuti pembekalan yakni Bontang Selatan 29 dan Bontang Barat 21. Mereka juga akan turun lapangan sehubungan pemberian edukasi langsung. Satu kader bertugas memantau 50-60 ember. Angka ini di luar area perusahaan.
Tiap jarak satu titik ke lainnya radius 75 meter. Mengingat radius terbang nyamuk maksimal ialah 100 meter. Sebelumnya di Bontang Utara terdapat 1.880 titik. Jumlah telur terbanyak yang disebar di Kelurahan Gunung Elai. Angkanya mencapai 378 ember. Dengan luasan wilayah yakni 502 hektare. Disusul Api-Api 375 ember. Paling sedikit Kelurahan Bontang Baru dengan 254 ember. Ia menjelaskan, Guntung memiliki kawasan yang luas yaitu 1.135 hektare. Tetapi jumlah ember yang disebar hanya 260 ember.
Diketahui, Bontang merupakan daerah kedua yang merilis pelaksanaan kegiatan nyamuk ber-wolbachia setelah Semarang. Kegiatan itu dilaksanakan awal September lalu. Kepala Diskes drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, efektivitas penurunan melalui nyamuk wolbachia telah diteliti sejak 2011 lalu di wilayah lain.
“Persentase penurunan saat uji coba di Yogyakarta sekitar 77 persen,” katanya.
Adapun dari hasil penelitian terbukti aman. Bahkan, lanjutnya, pada 2021 lalu World Health Organization (WHO) telah mengakui dan menganjurkan penggunaannya. “Efektivitas penurunannya juga telah dilakukan di 13 negara lain,” ujar dia.
Lebih lanjut, hal ini sekaligus membantah isu miring mengenai dampak pelepasan nyamuk wolbachia. Kata dia, dalam kurun 30 tahun ke depan, implikasi yang tidak diinginkan terhadap keselamatan manusia dan lingkungan pun sangat rendah.
“Bahkan bisa diabaikan. Hal itu berdasarkan hasil kajian risiko 2016 lalu,”imbuhnya.
Artinya, tidak ada rekayasa genetik dalam teknologi wolbachia. Penyebaran nyamuk yang dilakukan saat ini pun merupakan implementasi, bukan lagi uji coba.
“Uji coba sudah dilakukan. Saat ini penerapannya dilakukan di lima kota yakni Jakarta Barat, Bandung, Kupang, Semarang, dan Bontang,” terangnya.
Diketahui sebelumnya, penyebaran nyamuk wolbachia sempat menimbulkan kontroversi di Bali. Tersebab beredarnya informasi mengenai dampak buruk untuk kesehatan manusia, meski tidak disebutkan secara spesifik dampak yang dimaksud. Selain itu, penundaan penyebaran nyamuk wolbachia karena ada pihak-pihak yang belum mendapatkan informasi secara jelas terkait manfaat inovasi wolbachia. (ak)






