BONTANGPOST.ID, Bontang – Upaya digitalisasi arsip oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Program pengelolaan arsip berbasis digital melalui Sistem Informasi Kearsipan Nasional dan Jaringan Informasi Kearsipan Nasional (SIKN-JIKN) sejatinya dirancang untuk memudahkan pengelolaan serta akses arsip statis oleh masyarakat secara luas.
Namun dalam pelaksanaannya, Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti, mengungkapkan bahwa kesadaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terhadap pentingnya arsip masih tergolong rendah.
“Masih ada OPD yang belum menjadikan arsip sebagai prioritas dalam tata kelola administrasi,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPK Bontang, Selasa (21/4/2026).
Selain itu, kendala lain yang dihadapi adalah minimnya pemahaman OPD terkait proses dan jenis arsip yang harus diinput ke dalam sistem SIKN-JIKN. Kondisi ini menyebabkan proses digitalisasi berjalan lambat dan belum maksimal.
“Akibatnya, pengumpulan dan pengelolaan arsip menjadi terhambat,” tambahnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, DPK terus melakukan berbagai upaya, salah satunya melalui pelatihan dan pendampingan kepada arsiparis di masing-masing OPD. Pada kesempatan terbaru, DPK menggelar diskusi dengan melibatkan 30 OPD di lingkungan Pemkot Bontang untuk membahas tata cara penginputan arsip secara digital melalui sistem SIKN-JIKN.
Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia sekaligus memastikan setiap OPD memahami standar pengelolaan arsip yang baik dan benar.
DPK optimistis digitalisasi arsip dapat berjalan lebih optimal ke depan, terlebih program ini menjadi salah satu indikator penting dalam pencapaian predikat AA (sangat memuaskan) pada indeks kearsipan daerah. (*)







