BONTANGPOST.ID – Kondisi urine ternyata dapat memberikan petunjuk mengenai kesehatan ginjal. Perubahan warna, bau, hingga frekuensi buang air kecil bisa menjadi tanda adanya gangguan pada organ yang berfungsi menyaring darah dan membuang limbah metabolisme tersebut.
Ginjal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Ketika fungsinya terganggu, proses penyaringan zat sisa metabolisme juga dapat mengalami masalah.
Di Indonesia, persoalan penyakit ginjal menjadi perhatian serius. Data yang dikutip dalam laporan kesehatan menunjukkan lebih dari 1,5 juta penduduk Indonesia mengalami gagal ginjal pada 2023, dengan beban pembiayaan kesehatan mencapai Rp2,92 triliun.
Salah satu cara mengenali kemungkinan gangguan ginjal adalah memperhatikan perubahan pada urine. Dalam kondisi normal, urine umumnya berwarna kuning pucat hingga kuning tua, bergantung pada tingkat kecukupan cairan tubuh.
Berikut empat perubahan urine yang perlu diperhatikan:
Urine Berbusa dan Sulit Hilang
Urine yang sesekali berbusa belum tentu menandakan penyakit ginjal. Namun, busa yang muncul berulang kali, tampak tebal, dan sulit menghilang perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan proteinuria, yakni adanya kandungan protein berlebih dalam urine. Hal ini dapat terjadi ketika penyaring ginjal atau glomeruli mengalami kerusakan sehingga protein yang seharusnya tetap berada dalam darah justru keluar bersama urine.
Warna Urine Berubah
Perubahan warna urine juga dapat menjadi petunjuk adanya masalah kesehatan. Urine berwarna merah muda, merah, atau kecokelatan bisa menandakan adanya darah atau hematuria.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan infeksi saluran kemih, batu ginjal, maupun gangguan pada ginjal. Sementara urine berwarna cokelat gelap seperti teh juga perlu diperiksa karena dapat disebabkan oleh darah atau gangguan kesehatan lainnya.
Urine yang tampak keruh juga bisa berkaitan dengan infeksi maupun keberadaan zat tertentu dalam saluran kemih.
Frekuensi Buang Air Kecil Berubah
Perubahan pola buang air kecil patut diperhatikan, baik ketika frekuensinya meningkat maupun menurun secara drastis.
Penurunan produksi urine dapat terjadi pada gangguan ginjal akut. Pada kondisi tertentu, jumlah urine bahkan bisa sangat sedikit atau berhenti sama sekali.
Sebaliknya, sering buang air kecil pada malam hari atau nokturia juga dapat ditemukan pada penderita gangguan ginjal. Meski demikian, kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan kerusakan ginjal karena bisa dipengaruhi faktor lain, seperti konsumsi cairan dan gangguan kesehatan tertentu.
Bau Urine Berubah Menjadi Menyengat
Urine yang memiliki bau lebih tajam dari biasanya juga perlu diperhatikan. Namun, perubahan bau tidak secara khusus menunjukkan kerusakan ginjal.
Bau menyengat dapat dipengaruhi kurangnya asupan cairan, makanan tertentu, obat-obatan, hingga infeksi saluran kemih. Pada kondisi tertentu, gangguan metabolisme juga bisa memengaruhi aroma urine.
Karena itu, perubahan bau yang berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai keluhan lain, sebaiknya diperiksakan ke tenaga medis.
Perlu diingat, perubahan urine tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit ginjal. Namun, jika terjadi berulang atau disertai pembengkakan tubuh, nyeri, demam, maupun penurunan jumlah urine secara drastis, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Pemeriksaan urine dan fungsi ginjal melalui tes darah dapat membantu memastikan kondisi kesehatan organ tersebut. (KP)

