Diserahkan ke TNK, Dilepas di Hutan Teluk Pandan
BONTANG – Fenomena ular memasuki pemukiman warga kembali terjadi, ular sepanjang 4,6 meter dengan berat lebih dari 30 kilogram melingkar di bawah kursi teras rumah Jumair warga jalan Selayar RT 38 Lengkol Tanjung Laut, Bontang Selatan. Ular berjenis Sanca (Phyton reticulatus) ditemukan pukul 05.00 Wita oleh Budi.
“Saudara Budi inilah yang menginformasikan bahwa ada ular besar di teras rumah pak Jumair, selanjutnya warga berkumpul untuk menangkap ular tersebut secara bersama sama,” terang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pertama Taman Nasional Kutai (TNK), Sugianur.
Proses penangkapan reptil ini dilakukan secara manual. Ular tersebut ditutup bagian mulutnya menggunakan lakban. Setelelah berhasil diikat mulutnya lalu dimasukan karung. Selanjutnya warga berinisiatif menyerahkan ke kantor Balai TNK, hewan tersebut diantar oleh saudara Eko Selamet Yulianto, Sudarmaji dan Kasturi menggunakan mobil pick-up.
Ular diterima di halaman kantor Balai TNK oleh KSBTU Siswadi. Setelah diterima tim penanganan satwa liar, pihaknya langsung mengamati dan menganalisa perilaku ular tersebut guna menentukan tindakan selanjutnya. Pilihannnya dirawat terlebih dahulu atau langsung dilepasliarkan ke hutan.
Setelah pengamatan disimpulkan ular tersebut masih sehat dan siap dilepasliar, lokasi yang dipilih ialah blok hutan Resort Teluk Pandan TNK. Pelaksanaan lepasliarnya berjalan aman terkendali. Ular yang dilepas langsung meninggalkan lokasi lepas liar masuk ke semak-belukar dan pepohonan.
“Satwa tersebut adalah satwa liar, riwayatnya tidak dipelihara oleh manusia sehingga tidak mesti harus direhabilitasi,” paparnya.
Kondisi satwa tersebut tampak segar dan sehat, sehingga melalui alasan tersebut diputuskan secepat mungkin dilakukan pelepasliaran tujuannya untuk mengurangi tingkat stress ular. Bilamana ular mengalami stress maka akan bertambah ganas. Situasi lain, ular tersebut dapat mengalami gangguan kesehatan bahkan hingga kematian.
Keberadaan ular yang sering ditangkap warga dikarenakan aksesnya yang mudah yakni melalui arus sungai. Fenomena kerusakan hutan sebagai habitat, penyedia pakan, dan tempat berkembang biak satwa liar sudah mulai tidak berfungsi. Situasi ini menyebabkan satwa liar baik ular maupun satwa liar lainnya keluar dari habitat menuju pemukimam untuk mencari pakan. (*/ak)







