BONTANG –Sebanyak tiga komoditi yang masuk sembilan bahan pokok yakni telur ayam ras, ayam potong, dan daging sapi mengalami kenaikan hingga belasan ribu. Kenaikan tersebut disebabkan karena beberapa alasan, salah satunya stok barang yang dikirim dari Pulau Jawa.
Hal ini diketahui setelah Satgas Pangan gabungan dari Polres Bontang, Disperindagkop Bontang, serta DKPPP Bontang melakukan monitoring harga bahan pokok di 16 titik. Mulai dari 3 pasar hingga para distributor barang dan beberapa toko modern, Kamis (14/12) kemarin.
Kapolres Bontang, AKBP Dedi Agustono melalui Kasat Reskrim Polres Bontang Iptu Rihard Nixon mengatakan, pihaknya melaksanakan pemantauan harga sembako juga stok sembako jelang Natal dan Tahun Baru 2018. “Apakah di pasar ada kelangkaan komoditi atau ada kenaikkan harga, makanya hari ini Satgas Pangan Polres Bontang melakukan monitoring harga,” jelas Rihard, usai monitoring harga dan stok di Polres Bontang, Kamis (14/12) kemarin.
Hasil monitoring pun, didapatkan 3 komoditi yang mengalami kenaikan harga. Dimulai dari telur ayam ras yang harga sebelumnya Rp 36 ribu per piring, saat ini naik menjadi Rp 48 ribu. Sehingga ada kenaikan sebesar Rp 12 ribu per piringnya. Kemudian daging sapi, yang sebelumnya dijual pedagang seharga Rp 130 ribu, hasil pengecekan naik menjadi Rp 135 ribu per kilogram. Artinya kenaikan daging sebesar Rp 5 ribu. Dan yang terakhir yakni ayam potong yang sebelumnya harga Rp 40 ribu per ekor, hasil pengecekan naik menjadi Rp 55 ribu perkilogram, sehingga kenaikannya mencapai Rp 15 ribu per kilogram. “Sedangkan untuk sembako lainnya masih normal, seperti gula, tepung, bawang merah, bawang putih,” ungkapnya.
Penyebab kenaikan pun diklaim pedagang dikarenakan barang yang berasal dari Pulau Jawa, sementara untuk stok masih terbilang aman. Meski demikian, Rihard mengaku akan berkoordinasi lagi dengan Pemkot Bontang, apakah perlu dilakukan operasi pasar atau tidak. “Itu (operasi pasar, Red.) ranahnya pemkot, karena ini juga berkaitan dengan anggaran,” terang dia.
Rihard mengatakan, pihaknya akan mengingatkan pasar agar mereka kembali kepada harga eceran tertinggi (het) yang mengacu pada Permendagri nomor 27. Tetapi memang, pihaknya akan melakukan dengan cara persuasif dulu. “Hal ini dilakukan agar tidak ada spekulan yang menaikkan harga sendiri. Jadi HET yang telah diatur itu harus diikuti oleh mereka,” ujarnya.
Kata dia, pengecekan atau monitoring harga dan stok dilakukan secara berkala. Disebutkan sejak Hari Raya Idul Fitri beberapa waktu lalu, Satgas Pangan tetap melakukan monitoring harga sembako. “Namun ini juga diantisipasi mengingat sudah dekatnya momen Natal dan akhir tahun. Karena disinilah biasanya para spekulan mencoba menaikkan harga bahan pokok. Makanya ini kami pantau, harapannya agar jangan sampai ada yang menaikkan harga dan kelangkaan pangan di lapangan,” pungkasnya. (mga)







