SANGATTA – Maraknya penyebaran penyakit Demam Berdarah (DBD) di kawasan Kutim, khususnya Sangatta Utara dan Sangatta Selatan menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan (Diskes) Kutim. Sekretaris Diskes Kutim, Haryati menyatakan, kasus DBD masih merebak di Kutim. Namun begitu, pihaknya mengaku tak bisa berbuat banyak untuk melakukan pencegahan.
Hal ini dikarenakan minimnya anggaran yang menjadi salah satu kendala dalam pencegahan. “Kami tidak ada anggaran untuk fogging, tapi kami sudah meminjam. Jika ada anggaran bisa diprioritaskan pada kami untuk mengganti,” ujarnya dalam coffee morning, Senin (27/8).
Haryati mengaku akan terus berupaya untuk melakukan upaya yang bisa dilakukan untuk masyarakat. Seperti halnya tetap menyosialisasikan agar tidak ada penyebaran lebih luas. Kata dia, menjaga lingkungan merupakan salah satu cara untuk terhindar dari tumbuhnya sarang nyamuk.
“Saya imbau pada masyarakat agar tidak menumpuk sampah yang berpotensi menimbulkan genangan air. Supaya tidak ada nyamuk berkembang biak,” umbau Haryati.
Sementara itu Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Diskes Kutim, Yuwana Sri mengatakan, penyakit DBD merupakan hal yang kerap terjadi di manapun dan kapanpun. Bukan hanya di Kutim dan juga tidak mengenal waktu. “Kalau (karena) musim juga tidak. Memang DBD kan hampir setiap saat ada walaupun biasanya naik pasa Desember sampai April,” katanya.
Maraknya DBD ini rupanya dikeluhkan oleh warga. Dalam hal ini, warga meminta pemkab bisa turun untuk melakukan fogging demi mencegah terjangkitnya DBD.
Salah seorang warga Kabo Jaya, Idha Niaty (49) mengeluhkan banyaknya sarang nyamuk di kawasan rumahnya kerap membuat khawatir. Terlebih dia memiliki bayi berusia tujuh bulan yang sangat rentan tertular penyakit. “Coba saja ada fogging, masa setiap hari saya semprot pakai anti serangga,” keluh Idha. (*/la)







