Seiring berjalannya waktu, banyak budaya yang mulai punah, sama halnya dengan cemilan khas Kutim, yakni gula gait.
——-LELA RATU SIMI, Sangatta——-
Meski memiliki persamaan nama, namun gait tidak seperti gula pada umumnya, makanan satu ini bukan untuk menjadi olahan lain. Melainkan cemilan layaknya permen.
Makanan yang sempat tenar pada masanya, yaitu di era 90 an. Biasa disebut gula gait si hitam manis dari Kecamatan Sangkulirang.
Seperti dikatakan seorang staf Kecamatan Sangkulirang, Saiful, saat disambangi di stand ekspo hut Kutim. Dirinya menjelaskan semua tentang kriteria kudapan khas daerahnya. Ia menerangkan, bahwa bahan baku untuk membuat gula merah dan gula gait tergolong sama, yakni bersumber dari aren. Hanya saja mekanisme pengolahan dan hasil akhir yang membuatnya berbeda.
Jika gula merah hanya dicetak, gula gait harus melalui proses lebih panjang. Kemudian hasilnya pun berbeda. Bilamana gula merah bisa untuk membuat konsumsi lain, si manis gait hanya untuk dicemil saja.

Produk tersebut saat ini mulai sulit ditemui. Bahkan di Sangkulirang sendiri hanya tersisa dua orang wanita penggiat. Tidak hanya itu, produksi olahan pangan inipun dibina langsung oleh PKK kecamatan.
“Sekarang mulai meredup eksistensinya. Terlebih jaman dimana memiliki sajian pangan yang serba instan. Hingga mampu melengserkan makanan tradisional daerah,” terangnya.
Lebih lanjut, ia membeberkan tujuan masih adanya pembuatan kudapan tersebut sebagai upaya untuk mempertahankan dan melestarikan jajanan itu. Nampaknya di daerah lain juga ada yang memproduksi, hanya saja berbeda rasa.
“Tidak hanya di Kutim, Banjarmasin atau daerah lain juga pasti ada yang seperti ini, hanya beda pembuat beda rasa,” katanya.
Secara rinci, ia memaparkan tentang Nani, salah satu pembuat gula gait. Menurutnya, perempuan itu telah kembali menggeluti usahanya sekira dua tahun lamanya. Ia juga seorang perempuan yang ingin melestarikan makanan khas dan budaya yang tersisa di kabupaten ini.
“Bu Nani itu giat mengolah bahan baku yang ia cairkan, kemudian dengan semangat dirinya menarik-narik untuk membuat bentuk yang sempurna, sehingga menyerupai kayu. Ciri khasnya memang seperti itu. Kalau sudah keras, barulah esoknya bisa langsung dimakan layaknya permen,” bebernya.
Dengan hanya merogoh kocek Rp 1000 ribu saja, pelanggan sudah bisa mencoba rasa manis gait. Tak ayal gula ini sangat digemari di kalangan anak-anak hingga dewasa.
“Rasanya hampir semua kalangan menyukainya. Bahkan daya minat terbilang tinggi. Makanan ini sudah dikenalkan kemana-mana, ke kabupaten, provinsi, malah paling jauh sudah sampai di Makkah,” pungkasnya.
Dibalik suksesnya suatu produk, ia menjelaskan sejumlah kendala. Terlebih saat musim kemarau. Menurutnya sedikit menyulitkan, mengingat hasil air dari pohon aren juga berkurang. “Kalau musim hujan baru airnya banyak, jadi meningkat pula hasilnya,” tuturnya.
Ia berharap agar pelaku usaha menengah seperti ini mendapat perhatian lebih. Mengingat minimnya hasil yang dibuat. (*)






