BONTANG – Merebaknya isu hotel ramai pada saat malam perayaan valentine, ini tidak berpengaruh pada peningkatan jumlah hunian hotel di Bontang. Hal ini diakui sejumlah pemilik hotel di Kota Taman, Senin (13/2) kemarin.
Seperti Hotel Bintang Sintuk misalnya. Direktur Komersil dan Operasional Hotel Bintang Sintuk, Sutikno menjelaskan, rata-rata penghuni hotelnya saat ini berasal dari kalangan pebisnis. Sehingga hingga Minggu kedua Februari atau menjelang 14 Februari, tak ada kenaikan tingkat hunian hotel. “Sama sekali tak ada pengaruhnya (dari Valentine, Red.),” ujarnya, Senin (13/2) kemarin.
Baginya, kenaikan tingkat hunian hotel di Bontang saat ini lebih dipengaruhi faktor ekonomi, bukan lagi dari momen seperti Hari Valentine yang jatuh hari ini. Justru, naiknya tingkat hunian saat momen Hari Valentine pernah terjadi saat tujuh tahun lalu. “Kalau 2010 pernah ada kenaikan, karena ekonomi daerah juga lagi baik, program promo pun kami berikan. Kalau sekarang, program promo itu tidak ada,” katanya.
Program promo yang dilakukan saat itu, lanjut Sutikno juga terbuka untuk semua usia. Namun untuk promo menginap, dikhususkan bagi pasangan yang sudah menikah. Hal tersebut juga dibuktikan dengan kartu identitas dan beberapa surat yang menyatakan jika pengunjung merupakan suami-istri. “Kalau untuk makan-makan saja, romantic dinner, siapa saja boleh mulai remaja sampai dewasa,” ujarnya.
Namun di tahun ini, promo tersebut ditiadakan mengingat kondisi ekonomi yang tengah lesu. Daya beli yang rendah di masyarakat membuat pihaknya berpikir dua kali jika ingin membuka promo serupa. Jika ekonomi membaik, bukan tak mungkin pihaknya akan membuka promo tersebut. “Bisa saja, untuk pasangan suami-istri dapat paket menginap dan makan di dalam kamar. Namun sekali lagi, tahun ini Hari Valentine tidak berimbas kepada tingkat hunian hotel,” jelas Sutikno.
Sementara itu, Akbar Hotel mengalami hal yang serupa di hari valentine. Pasalnya hotel yang berada di Jalan Imam Bonjol ini tidak membuat promo khusus di hari tersebut. Pun begitu, tingkat hunian juga tidak ada perubahan berarti dibandingkan hari-hari biasanya.
“Biasa saja, tidak ada acara khusus di sini. Jumlah tamu juga tidak banyak berubah. Apalagi dalam kondisi ekonomi seperti ini,” kata Muliadi Toho, salah seorang owner Akbar Hotel.
Ditanya tentang potensi pasangan di luar nikah yang menginap secara khusus di hari valentine, Muliadi menyebut hal itu bisa saja terjadi. Namun dari pihak hotel telah melakukan langkah preventif dengan menanyakan apakah pasangan yang menginap tersebut suami istri atau bukan. Antisipasi yang dilakukan sebatas pertanyaan seperti itu karena dalam pembuktian awal memang sulit dilakukan.
“Pasangan suami istri yang membawa buku nikah itu kan langka. Jadi sulit mendeteksinya. Tapi tetap prosedur check-in itu mesti dengan KTP. Dengan konsep syariat, kami jelas tidak membolehkan pasangan yang bukan suami istri menginap,” jelasnya.
Mendeteksi praktik mesum di hotel bukanlah hal yang mudah. Khususnya bila awalnya tamu hotel datang seorang diri. Kurangnya personel membuat pihak hotel tidak bisa mengetahui secara pasti apabila kemudian datang pasangannya menyusul ke kamar. Biasanya, manajemen hotel mengetahui adanya perbuatan haram ini melalui laporan dari pihak luar.
“Misalnya ada keluarganya yang datang dan mencari tamu tersebut. Ada pula laporan dari kepolisian yang menginformasikan ada pasangan mesum menginap di hotel. Dari situ lantas kami lakukan pengecekan. Bila memang terbukti, maka kami persilakan untuk segera keluar dari hotel,” terang Muliadi.
Begitu pun Suryani, Pemilik Hotel Surya Raya ini memaparkan, terkait malam valentine diakuinya tidak ada peningkatan khusus pada jumlah penyewa di malam tersebut. Pasalnya, kondisi hotel saat ini begitu sepi dari pengunjung sejak akhir 2015 lalu hingga saat ini.
“Kami tidak merayakan valentine, jadi tidak ada harga khusus di malam tersebut,” ungkapnya.
Saat ditanya mengenai maraknya pemuda yang menyewa hotel miliknya, dia mengaku jarang yang beridentitas dari Bontang. kebanyakan dari luar Bontang yang berkunjung karena sedang berlibur. Namun dikatakannya yang paling banyak menghuni hotelnya saat ini adalah sales dari luar Bontang. Yang menyewa hotel dari Senin-Sabtu lalu Minggu-nya pulang.
“Tidak ada penyewa yang asal kami terima di sini, karena kami sangat selektif bila memilih penyewa,” jelasnya.
Terkait ada yang menyewa dengan membawa pasangan, ia tidak menerapkan harus membuktikkannya dengan buku nikah. Ditakutkan bila diterapkan hal tersebut, takutnya pengunjung dari luar memiliki kesan buruk terhadap hotelnya. Namun demi menjaga baik nama hotelnya ia pun hanya meminta identitas berupa KTP asli dari penyewa.
“Bila ada yang kami ketahui tidak melakukan hal yang tidak-tidak, kami mempertegas orang tersebut dengan tidak memperpanjang sewa hotelnya,” tegasnya. (bbg/ver/luk/zul)







