BONTANG –Ketua RT 25 Satimpo Aji Said M Mahdi mempertanyakan pemanfaatan peningkatan saluran drainase di Jalan HM Ardans. Pasalnya, titik pengerjaan ini tak sesuai yang diusulkan warga sebelumnya.
Aji mengatakan, usulan warga sebelumnya yakni normalisasi parit dihungkan ke arah jalan tembus. Ada pun titiknya sejajar dengan lampu merah menuju pisangan. Akan tetapi, kontraktor justru membuka galian menghubungkan parit Satimpo dan Tanjung Laut.
“Kami tidak pernah mengusulkan seperti itu. Sangat jauh dari usulan awal,” jelasnya.
Ia mengaku merasa kesal terhadap pekerjaan ini, betapa tidak kontraktor bekerja tanpa permisi atau melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada warga atau RT setempat.
Usulan warga untuk normalisasi itu karena selama ini selalu menjadi genangan air. Jika melihat peningkatan saluran drainase oleh kontraktor, Aji mengaku bingung dan masih bertanya-tanya.
“Gunanya apa. Kalau pun itu tempat penampungan air, berapa kubik sih yang bisa ditampung,” sebutnya.
Tidak hanya titik penggalian yang menurutnya salah. Parit kiri kanan Jalan HM Ardans juga dibuatkan penutup dari beton. Aji mengatakan, sebelum ditutup, harusnya dilakukan pengerukan terlebih dulu sehingga tak terjadi pendangkalan.
“Kalau sudah ditutup begitu siapa yang keruk lagi. Paritnya itu butuh pengerukan,” tuturnya.
Jika dari arah Pisangan, sebelum lampu merah terdapat penutup parit kiri dan kanan sudah terpasang. Hal ini pun juga dipertanyakan Aji, dalam usulan awal, warga hanya mengusulkan bagian kiri saja. Sementara bagian kanan merupakan wilayah Tanjung Laut, bukan Satimpo. “Yang jelas hanya mengusulkan di wilayah kami sendiri,” ucapnya.
Ditambahkan Aji, bantuan pemerintah kepada warga dalam menanggulangi banjir tentu sangat dibutuhkan. Namun harus sesuai dengan usulan, bukan justru memperparah keadaan.
Sebelumnya, keluhan warga terus menjadi-jadi terhadap pengangkatan saluran drainase di Jalan HM Ardans, Pisangan. Sekira 25 warga yang terkena dampak aktivitas tersebut mengadu ke Kantor Lurah Satimpo, Kecamatan Bontang Selatan. Warga menyampaikan sejumlah keluhan, salah satunya mengenai kerugian yang dialami lantaran tak bisa berjualan.
Asih sebagai penjual pakaian mengatakan dagangannya lumpuh total. Betapa tidak, tempat jualannya terisolasi dan tak lagi dilalui pengendara karena musti memutar arah. Diakui kerugian yang dialami mencapai 100 persen.
“Paling sedikit biasanya 2 juta sebulan hasil jualan, sekarang benar-benar mogok,” ujarnya kepada awak Kaltim Post (induk Bontangpost.id).
Warga bahkan mengancam untuk melakukan aksi demo jika kontraktor tak memberikan kepastian kapan pekerjaan itu rampung. Sementara warga semakin resah akibat penutupan jalan tersebut.
“Kami sudah sepakat untuk demo. Gimana mau selesai pekerjaan, pekerjanya saja jarang ada di lokasi,” tuturnya. (prokal)







