• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Bontang

Kisah Guru Penggerak di Loktunggul Bontang; Tempuh 32 Km, Berpacu dengan Jam Kerja PLTU

by BontangPost
25 November 2020, 21:47
in Bontang
Reading Time: 2 mins read
0
Masitah saat menyambut murid-muridnya. (Fitri Wahyuningsih/bontangpost.id)

Masitah saat menyambut murid-muridnya. (Fitri Wahyuningsih/bontangpost.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Lepas salat subuh Masitah bersiap ke sekolah. Semburat matahari belum terlihat di angkasa tapi dia sudah harus bergegas. Sebab bila tidak, bisa lambat dia mengajar. Di SD 014 Loktunggul, Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Masitah didaulat kepala sekolah. Merangkap guru.

FITRI WAHYUNINGSIH, Bontang

Pukul 06.15 Wita Masitah mulai menggeber kendaraannya. Dari kediamannya di Gunung Sari, hingga ke sekolah, memakan waktu sekitar 50 menit. Untuk perjalanan sejauh 32 kilometer. Ini dengan catatan, kalau di jalan tidak ada kendala.

“Harus cepat saya. Biar kalau mau lewat PLTU bisa langsung. Enggak terjebak jam masuk kerjanya pekerja di PLTU,” beber Masitah ketika disambangi di SD 014 Loktunggul belum lama ini.

Dikatakan Masitah, surat keterangan (SK) mengabdi di Loktunggul diterbitkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang per 1 November 2019. Menurutnya, mengabdi di Loktunggul memang cukup menantang. Awalnya dia bahkan bertanya, mengapa di tempatkan di daerah ini. Tak mengherankan, mengingat Loktunggul jauh dari pusat kota.

Baca Juga:  Potret Pendidikan di Ujung Bontang; Dihuni 32 Murid, Kombinasikan Sistem Pembelajaran

Ketika tiba pertama kali, Masitah menyaksikan bagaimana kondisi SDN 014 cukup memprihatinkan. Baik dari sisi infrastruktur di sekolah. Hingga kondisi sosial masyarakat setempat.

Bangunan di SD 014 ada yang kayu, ada yang beton. Meski kini telah didominasi beton. Tapi halaman sekolah masih berupa tanah lapang. Jadi ketika hujan, sudah pasti becek.

Masitah mengenang, pernah satu waktu ketika upacara, jumlah murid justru lebih sedikit ketimbang jumlah ayam yang ikut menghambur tatkala kegiatan itu berlangsung. Maklum saja, kala itu, sekolah yang sederhana tersebut belum memiliki pagar. Sementara lokasi sekolah berada tepat di tengah permukiman warga.

“Tapi alhamdullilah sekarang sudah tidak lagi. Pemerintah mulai bangun dan tambah fasilitas. Pagar juga sudah ada,” ujar perempuan yang akrab disapa Ibu Ita ini.

Juga soal upaya Masitah dan guru-guru yang menyambangi kediaman rumah warga satu per satu. Untuk mengajak anak-anak warga bersekolah. Memberi pemahaman bila pendidikan adalah investasi terbaik yang mampu orangtua berikan kepada anak-anak mereka.

Baca Juga:  SD 014 Loktunggul Direnovasi

“Karena ada juga masalah sosial di sini, anak-anak yang menikah dini,” ungkap perempuan ramah senyum ini.

https://www.instagram.com/p/CH_3V_mBWDj/?igshid=vy2i2pugd9to

Melihat kondisi sosial ekonomi yang terjadi di Loktunggul, sebisa mungkin dirinya yang dibantu 12 guru lainnya menyuntik semangat. Kepada 32 anak didik. Mencerdaskan mereka adalah tugas penting. Namun ada hal penting yang juga dia tekankan, anak-anak didik harus punya mimpi. Tidak ada mimpi yang terlampau besar. Yang membedakan pemimpi ialah bagaimana mereka berjuang untuk memewujudkan itu.

“Di kelas kami taruh pohon harapan. Biar anak-anak kami semakin semangat belajar,” ungkapnya.

Selama pandemi ini, sekolah di pindah ke rumah. SD 014 juga menerapkan pendidikan jarak jauh (PJJ). Dia bersyukur, meski masuk daerah terluar Bontang, tapi anak didik bisa ikut PJJ. Pasalnya sekolah punya jaringan nirkabel (WiFi) sendiri. Cakupannya cukup luas, sehingga anak didik yang sebagian besar bermukim di RT 15 Loktunggul bisa menikmati fasilitas itu.

“Kami kombinasikan juga. Kalau ada kendala sama anak-anak, kami datangi lagi rumahnya satu-satu,” beber Masitah.

Baca Juga:  Hilangnya Permukiman Loktunggul dari Peta Amdal PT GPK Diklaim Persoalan Teknis

Meski masih jauh dari sekolah yang ada di kota, kondisi SD 014 mulai membaik. Dua gedung beton telah direnovasi pemerintah melalui Disdikbud. Atap yang sedianya bocor sudah diperbaiki. Cat sekolah yang dulunya terlihat muram, kini cerah dengan dominasi warna hijau. Jaringan nirkabel (WiFi), perpustakaan, ruang kelas yang representatif tersedia. Ada memang gedung sekolah yang masih berupa kayu. Kata Masitah, Disdikbud janji membangun sekolah beton seutuhnya bila pembebasan lahan telah rampung.

“Takut ada persoalan hukum. Jadi kami sembari melobi pemilik lahan, biar dihibahkan. Kan ini bukan untuk siapa, tapi untuk kepentingan bersama,” beber perempuan yang sudah menjadi pendidik sejak 1989 silam.

Kini, guru penggerak yang awalnya dilanda kegalauan ketika harus mengabdi di SN 014, jadi bangga. Di tengah keterbatasan, anak didik terus semangat belajar.Semangat mendidik, keceriaan ketika berjumpa anak didik. Hingga optimisme bahwa mereka kelak menjadi orang-orang hebat, menjadi suntikan semangat. (*)

Tags: loktunggulSD Loktunggul
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Gerakan Tolak Politik Uang Meluas, Pemuda Pesisir dan Gapter Nyatakan Sikap

Next Post

Si “Tangan Tuhan” Diego Maradona Meninggal

Related Posts

Hilangnya Permukiman Loktunggul dari Peta Amdal PT GPK Diklaim Persoalan Teknis
Bontang

Hilangnya Permukiman Loktunggul dari Peta Amdal PT GPK Diklaim Persoalan Teknis

7 November 2023, 20:28
Andal ala PLTU Teluk Kadere, Hilangkan Permukiman Dulu
Bontang

Soal Permukiman Loktunggul yang Hilang dalam Amdal, AH; Idealnya Direlokasi

1 November 2023, 13:00
SD 014 Loktunggul Direnovasi
Bontang

SD 014 Loktunggul Direnovasi

16 November 2020, 18:23
Potret Pendidikan di Ujung Bontang; Dihuni 32 Murid, Kombinasikan Sistem Pembelajaran
Bontang

Potret Pendidikan di Ujung Bontang; Dihuni 32 Murid, Kombinasikan Sistem Pembelajaran

12 November 2020, 10:30

Terpopuler

  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.