YUSUF akhirnya hanya bisa pasrah. Menenangkan istrinya yang menangis sampai subuh, di beranda Masjid Al Falah, di puncak bukit tanjakan Gunung Tangga, jalan poros Samarinda-Bontang.
Gigitan nyamuk, jalanan macet tak bergerak di sepanjang jalan di hadapan masjid itu tak mengusiknya lagi. Hujan turun pelan, air mata Jannah terus mengalir. Seperti ada sesuatu yang menghujam jantung Yusuf, rasa sakit karena tak berdaya.
Bersama hujan deras yang turun sore itu, sebuah kabar mengejutkan tiba. Tak ada kabar sakit sebelumnya, tiba-tiba ibu mertuanya dikabarkan meninggal dunia, di kampungnya di Loa Kulu. Yusuf dan Jannah yang membuka usaha warung sudah tiga setengah tahun ini di Desa Gas Alam, Muara Badak. Mereka bergegas, menutup warung kecil itu, kemas-kemas dan berangkat. Jannah sempat menangis histeris. Pingsan sebentar. Yusuf sebisa-bisa menenangkan.
Hujan masih turun. Sepasang suami istri itu tetap berangkat. Macet panjang di sepanjang Tanah Datar. Paduan jalan rusak parah, parit yang rata dengan jalanan, dan air yang meluap sebab limpahan dari lahan tambang terang-terangan di kiri-kanan jalan.
Megapro tua Yusuf harus menyempil di sela-sela kendaraan besar di jalan rusak itu. Di balik jas hujan, Jannah terus menangis. Yusuf mengusap-ngusap wajahnya yang basah kuyup, agar tetap bisa melihat jelas, sembari mengendalikan motornya. Menerabas banjir yang menutupi lubang jalan yang dalam. Beberapa kali mereka hampir terjatuh.
Magrib baru mereka bisa menerobos macet panjang. Kendaraan masih mengular dari Tanah Datar sampai Bandara APT Pranoto. Namun, apalah daya sebisa-bisa ia mencari jalan, hujan deras yang mengguyur menyebabkan banjir parah di Samarinda. Begitu akan turun menuju simpang Lempake, seluruh permukaan jalan sudah berubah jadi sungai. Air di mana-mana.
Beberapa motor mogok, terendam sampai ke jok. Motor didorong pemiliknya. Kendaraan-kendaraan yang berbaris terkunci di tengah jalan, tak bisa bergerak. Suara aneka klakson, serapah bersahutan, dan suara sirene ambulans yang meminta prioritas jalan tak bisa berkutik. Turut terjebak dalam barisan panjang kemacetan.
“Kayak apa ini, Bang? Mamakku, Bang, mamakku, Bang?” Jannah merengek di punggung Yusuf. Yusuf menahan-nahan diri untuk tidak menangis.
“Kita salat dulu, doakan aja, Dik. Mau gimana lagi. Kita berdoa saja. Kita doa buat mamak. Juga supaya banjir cepat surut.”
Yusuf memutar balik motornya, menuju masjid hijau di atas tanjakan jalan itu. Di teras dan halaman masjid sudah ramai orang-orang senasib terjebak dan menunggui banjir reda.
Tak khusuk Yusuf sembahyang, gelisah memikirkan keadaan mereka. Begitu usai salat, bergegas ia mencari-cari truk atau pickup yang siapa tau mau ditumpangi mengangkut mereka.
“Wah masih gak berani mas, banjirnya dalam betul di depan sana? Lagian ini macet panjang mana bisa lewat,” kata seorang sopir menolak tawaran Yusuf yang meski sudah memelas, serta mau membayar sekalipun. Kota Tepian sudah berubah jadi tengah lautan. Sopir-sopir bergeming.
Ia kembali ke masjid. Menemui istrinya yang masih menangis. Di sebelahnya seorang ibu-ibu yang juga menangis. Baju ibu itu basah sehabis kehujanan, sebab sama seperti Yusuf, ia sempat mencari-cari tumpangan. Ibu itu dari Sangatta, akan naik pesawat dari Balikpapan ke Yogyakarta. Menemui anaknya yang sudah dua tahun ditinggalkan di kampungnya di Jawa.
Tiket sudah terbeli dari uang yang susah payah dikumpulkan. Ibu itu menangis sebab tiket itu terancam hangus. Travel yang membawanya tak bisa mengantar sampai ke Balikpapan, hanya bisa paling jauh di masjid itu, akibat banjir yang melanda Samarinda. Kota yang tak hanya sebuah kota, tapi ibu kota sebuah provinsi yang jadi jalur perlintasan antar-kabupaten kota lain.
Yusuf mengambil sarung dari buntalan pakaian yang ia bawa, untuk dijadikan handuk wajah oleh ibu itu. Sembari menceritakan nestapa yang juga mereka alami.
“Selama ini kenak tipu kita. Milih wali kota, milih gubernur cuma untuk punya-punyaan saja. Sekadar ada, tapi gak bisa kerja. Masalah nyata depan mata gini bertahun-tahun kok gak bisa ngatasi. Makin parah,” terdengar suara sopir truk marah-marah di jalanan.
Di teras masjid, Yusuf merangkul pundak Jannah. Disabar-sabarkannya hati istri yang sangat di sayanginya itu. Tapi ia sendiri tak kuasa menahan tangis. Hujan turun pelan, mereka berjaga sepanjang malam. Laron-laron mengitari lampu-lampu.
Tak ada tanda-tanda banjir surut sampai subuh. Mobil-mobil masih tak bergerak. Ambulans tadi juga, sirenenya saja tak lagi berbunyi. Entah pasien di mobil itu sakaratul maut, mau melahirkan atau apa saja yang darurat, pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah.
Tangis Jannah tak lagi bersuara, hanya air matanya masih mengalir. Dengan suara bergetar, ia menelpon dan memberi kabar kakak dan adik-adiknya di Loa Kulu.
“Kakak minta ampun dek. Segerakan saja, kuburkan mamak pagi ini. Tak usah lagi menunggu kakak,” katanya sembari menangis putus asa.
Yusuf memeluk istrinya itu erat-erat. Tangis itu terbenam di tubuhnya. Air mata mengalir. Menghujam jantungnya. Tak berdaya.
Hujan kembali deras. Banjir dan duka makin dalam.
——–
Penulis: Chai Siswandi
Petani. Tinggal di Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara.
bontangpost.id menerima kiriman cerpen dan resensi buku. Karya bisa dikirim ke redaksi@bontangpost.id. Sertakan biodata singkat dan foto penulis. Untuk resensi, lampirkan foto cover buku. Panjang naskah cerpen 900 kata dan resensi 500 kata





