bontangpost.id – Beredarnya penjual daging sapi frozen alias beku membuat sejumlah pedagang daging sapi di pasar tradisional Kota Bontang resah.
Bagaimana tidak, jumlah pembeli daging sapi segar menurun drastis lantaran pembeli lebih memilih daging beku dengan alasan lebih higienis dan lebih murah.
Hal itu turut dirasakan salah seorang pedagang daging sapi Pasar Taman Rawa Indah Sukimun. Saat dijumpai, Sukimun menuturkan bahwa kondisi tersebut sudah terjadi sejak awal tahun. Namun, kondisi makin parah dalam dua bulan terakhir.
Imbas yang ia rasakan ialah jumlah pelanggan tetap hingga pendapatan ikut menurun lantaran daging sapi yang ia jajakan berkurang dari sebelum maraknya daging beku.
Dalam sehari biasanya Sukimun mampu menjual 30 kilogram daging sapi. Namun, saat ini hanya mampu menjual 14 kilogram daging sapi segar saja. Itupun bisa habis dalam waktu sepekan.
Kata Sukimun, biasanya pelanggan tetapnya membeli belasan kilo daging sapi. Namun, sekarang hanya satu sampai tiga kilo saja. Itupun daging sapi segar dibeli sebagai bahan campuran daging beku agar bakso yang dibuat bisa sempurna.
“Sekarang saya hanya bisa jual seperempatnya saja. Apa enggak sakit kepala saya. Mana anak saya banyak,” keluhnya, Jumat (23/6/2023).
Tak hanya itu, kata Sukimun maraknya daging beku berimbas pada menurunnya jumlah sapi yang dieksekusi di rumah potong hewan (RPH). Dalam sehari biasanya RPH mampu memproduksi 9 sampai 10 ekor sapi. Namun, saat ini hanya bekisar 4 sampai 5 ekor sapi saja.
“Ya enggak bisa kita paksakan juga. Kalau motong sapi banyak siapa yang mau ambil dagingnya dalam jumlah banyak. Soalnya sekarang trennya lebih suka daging beku,” bebernya.
Jika terus dibiarkan seperti ini, Sukimun bilang lambat laun perekonomian penjual daging sapi akan mati. Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah untuk mengambil tindakan. Ia mengusulkan, jumlah daging beku yang masuk ke Bontang dibatasi. Agar perekonomian berjalan berdampingan tanpa ada yang dirugikan.
“Tolong lah kami ini. Kami enggak masalah adanya daging beku. Tapi jumlah produksinya harus sama seperti daging segar. Jangan lebih dari itu. Lama-lama usaha kami bangkrut kalau begini terus,” tandasnya. (*)


