JAMBI – Aksi yang dilakukan oleh siswa-siswi MAN Model, Senin (23/1) lalu berujung pada penonaktifan Kepala MAN Model (Jamilah). Kini MAN Model dijabat oleh Pelaksana tugas (Plt). Hal ini diungkapkan oleh Iqbal, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Jambi. Penonaktifan itu berdasarkan keputusan langsung yang ditandatangani oleh Kakanwil Provinsi Jambi.
“Sementara ini ibu Jamilah tidak berada ditempat dan posisinya diganti oleh pelaksana tugas (plt). Ini hanya bersifat sementara menjelang ada langkah selanjutnya. Suratnya langsung ditandatangani oleh pak Kakanwil Provinsi Jambi,” bebernya.
Dijelaskannya, bahwa pihaknya tidak bisa mengambil langkah sendiri. Karena keputusam ada di Kakanwil Agama Provinsi Jambi. Untuk itu saat ini sedang dilakukan tindaklanjut dari aksi demo yang dilakukan oleh siswa.
“Tentu kita harus menelusuri hal ini. Memberhentikan kepala sekolah itu gampang. Namun kita juga harus memperhatikan yang bersangkutan. Kalau dikembalikan menjadi guru, tentu kita harus mencari sekolah yang membutuhkan tenaganya. Juga harus diperhatikan jam mengajarnya yang 24 jam jika sertifikasi. Ini semua harus dipertimbangkan agar tidak ada masalah kedepannya,” bebernya.
Menurut Iqbal, pihaknya terus melakukan pendalaman, bahwa jika memang kepsek dianggap sering mengeluarkan kata kata tidak senonoh, maka pihaknya akan memanggil orang orang yang berada dilingkungan sekitar kepala sekolah. “Semua sedang diproses. Kalau kata kata kotor itukan kita tidak mendengarkan secara langsung. Makanya aakn dipanggil orang-orang yang pernah mendengarkan hal tersebut. Untuk urusan transparansi dana BOS dan Komite, kita akan periksa pembukuan dan keuangannya. Dari sana nanti bisa kita pelajari,” tegasnya.
Afrizal, Ketua Komisi IV DPRD Kota Jambi mengaku mendukung penuh langkah Kemenag menonaktifkan Kepala Sekola MAN Model. “Kalau perlu segera diganti. Jangan sampai para siswa menjadi korban, kasian siswa yang belajarnya terganggu,” imbuhnya.
Ia juga mendukung penuh langkah Kemenag untuk mengusut tuntas persoalan ini. Ia berharap ada evaluasi. “Kalau tidak seperti itu, proses belajar siswa jadi terganggu,” imbuhnya. (hfz)




