• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Feature

Kisah Penyelamatan Bayi Usia 5 dan 10 Bulan: Gendong Anak Berkejaran dengan Air Bah

by M Zulfikar Akbar
18 Maret 2019, 20:00
in Feature
Reading Time: 3 mins read
0
Kris Rumyak saat menggendong anaknya Rafa (10 bulan) di tempat pengungsian kantor Satpol PP Kabupaten Jayapura, Minggu (17/3). Rafa berhasil selamat dari terjangan banjir bandang di Doyo, Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (16/3) malam. (Robert Mboik/Cepos)

Kris Rumyak saat menggendong anaknya Rafa (10 bulan) di tempat pengungsian kantor Satpol PP Kabupaten Jayapura, Minggu (17/3). Rafa berhasil selamat dari terjangan banjir bandang di Doyo, Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (16/3) malam. (Robert Mboik/Cepos)

Share on FacebookShare on Twitter

Di Doyo, Kris Rumyak menyelamatkan bayinya dengan membungkusnya dengan kantong plastik. Di Sentani, Prada Syahril dan rekan melepaskan bayi yang terjepit kayu selama berjam-jam.

ROBERT MBOIK-ELFIRA, Jayapura

Sabtu Malam (16/3), Lewat Pukul 22.00 WIT

MATA Kris Rumyak terbelalak. Di malam yang telah larut itu, air sudah tinggi sekali. Menenggelamkan seluruh badan jalan raya di hadapannya.

Tanpa berpikir panjang, Kris langsung balik badan. Lari ke rumahnya di kawasan Doyo, Kabupaten Jayapura. Ada istri dan anak-anaknya di sana.

Air bah terus mengejar.

Kris harus beradu cepat. Pintu rumah setengah didobrak. Sembari meminta istrinya bergegas, dia menggendong bayinya yang baru berusia 10 bulan.

Diambilnya kantong plastik. Dibungkusnya si bayi dengan kantong tersebut. Itu satu-satunya cara mengamankan si kecil yang terpikir olehnya. Mereka harus dengan segera meninggalkan rumah. Menuju tempat pengungsian.

Tapi, di sekitar rumah, air sudah semakin tinggi…

Di Tempat Lain, 10 Jam Berselang

Sayup suara tangisan bayi terdengar oleh Prada Syahril. Di tengah suara tempias air. Dan, teriakan sejumlah orang di sana-sini.

Pada kemarin pagi (17/3) itu, Kampung Taruna, Sentani, Kabupaten Jayapura, masih berselimut banjir. Bersama Sertu Hanafi, Seru Samsi, Prada Yacob, dan Prada Yusril, Syahril jadi bagian tim penyisir dari Yonif RK 751/VJS untuk membantu proses evakuasi.

Syahril pun mencari sumber suara tangis bayi itu. Menajamkan telinga sembari matanya mengawasi kanan kiri.

Ternyata suara tersebut berasal sebuah rumah kayu yang sudah runtuh. Dan, bayi malang itu ada di kolong. Terjepit di antara reruntuhan kayu…

Bermula dari Hujan Deras

Malam yang jatuh pada Sabtu lalu itu mendatangkan kecemasan pada Kris. Hujan deras yang tak kunjung reda yang jadi penyebab.

”Awalnya saya lihat air tiba-tiba masuk ke rumah. Biasanya kalau hujan turun tidak bisa saja terjadi seperti itu,” ungkapnya dengan nada terbata-bata kepada Cenderawasih Pos.

Merasa ada yang janggal, dia pun memutuskan keluar rumah untuk memperhatikan kondisi yang terjadi di luar. Tapi, sebelumnya dia berpesan ke istri dan anak-anak agar tidak meninggalkan kediaman mereka.

”Saya juga pesan, apa pun kondisinya, jangan sampai panik,” katanya.

Berjalanlah Kris menuju jalan raya. Tak begitu jauh sebelumnya. Tapi, gelapnya malam menghalangi pandangannya.

Benar saja, air deras menerjang dari aliran sungai di balik permukiman padat penduduk di sekitar Perumahan BTN Nauli Advent Doyo.

”Saya pun langsung berbalik arah menuju rumah,” jelasnya.

Air bah itu pun meluluhlantakkan ratusan rumah, termasuk milik Kris. Menghanyutkan apa saja, berbagai barang dan sejumlah orang. Doyo memang salah satu titik terparah dalam musibah banjir bandang di Kabupaten Jayapura kali ini.

Beruntung, Kris dan keluarga selamat dari maut. Termasuk anaknya yang baru berusia 10 bulan yang dibungkusnya dengan kantong plastik.

Mereka, bersama sekitar 4 ribu pengungsi lain, kini berlindung

di posko utama yang sudah disiapkan pemerintah. Yang berlokasi di sekitar kompleks kantor bupati Kabupaten Jayapura.

Mereka akan bertahan di sana sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan. Sebab, hingga kemarin tim evakuasi masih mencari korban yang masih hilang.

Gergaji, Motor, Ambulans

Syahril dan rekan-rekannya harus berpikir secepat-cepatnya untuk menyelamatkan si bayi yang terjepit kayu. Didapatlah dua gergaji yang langsung digunakan untuk memotong kayu tersebut.

Begitu si bayi sudah terbebas dari jepitan, Syahril langsung menggendongnya. Membawa sepeda motor, bayi yang diperkirakan telah terjebak berjam-jam itu segera dilarikan ke puskesmas terdekat. Tapi, di tengah jalan berpapasan dengan ambulans.

”Si bayi pun berhasil dievakuasi ke Puskesmas Sentani dengan menggunakan ambulans,” terang Kapendam XVII/Cenderawasih Kol Inf Muhammad Aidi.

Hingga tengah malam kemarin waktu setempat, belum diketahui orang tua si bayi berparas Papua yang diperkirakan baru berusia 5 bulan itu. Bahkan, belum bisa dipastikan apakah orang tua bayi tersebut selamat dari terjangan banjir.

Masih Ada Harapan

Sepanjang ingatan Kris selama tinggal di Doyo, memang sudah beberapa kali banjir melanda. Tapi, tak pernah seperti sekarang ini.

”Banjir kali ini merupakan yang terparah dari peristiwa-peristiwa yang sudah pernah terjadi sebelumnya,” paparnya.

Harta bendanya kini lenyap sudah. Bahkan, untuk kembali ke tempat tinggalnya, dia belum sepenuhnya yakin. Khawatir banjir seperti sekarang ini, atau bahkan lebih parah, terjadi lagi.

Hari-hari ke depan memang terasa gelap bagi Kris. Namun, masih ada yang terus dia syukuri tak henti-henti.

”Harta benda sudah habis. Tapi, saya masih punya harapan karena keluarga saya selamat dari bahaya ini,” katanya. (*/c10/ttg/jpg)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: banjir papua
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Ekspor Batu Bara, India Berpotensi Jadi Pasar Terbesar

Next Post

50 Peserta DWP Bontang Ikut Pelatihan Menjahit di Pupuk Kaltim

Related Posts

No Content Available

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Modus Bujuk Rayu hingga Pemaksaan, Residivis Pelecehan Anak di Bontang Utara Akui Ada 4 Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuota Produksi Dibatasi, 102 Pekerja Tambang di Bontang Kena PHK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.