Ketua Harian DPD Golkar Kaltim Makmur HAPK mengaku belum tahu. Namun, bila benar informasi tersebut, Makmur mengatakan, itu merupakan hak pribadi masing-masing. Bukan berarti tak kehilangan, tapi Golkar begitu pengalaman ditinggalkan para kadernya. “Menyayangkan juga kalau keluar. Punya andil membesarkan partai. Kalau sudah begini kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa memaksa bertahan,” ucap dia.
Dengan keluarnya Mukmin, praktis personel dewan Sesepuh Golkar Kaltim tak lagi ada. Sebab, anggota lain, Faroek, telah lebih dulu mundur. Mantan bupati Berau dua periode itu menerangkan, dewan sesepuh tetap ada. Sekalipun, pengisinya tanpa surat keputusan.
Ditengarai kekecewaan Mukmin sama dengan yang dirasakan Faroek. Yakni, dewan sesepuh yang baru terbentuk dalam kepengurusan DPD Golkar Kaltim 2016–2020, tidak jelas tugas dan perannya. “Itu tak jauh berbeda dengan dewan pertimbangan (wantim). Sama-sama memberikan saran, masukan, atau pendapat agar partai semakin lebih baik. Bukan berarti sesepuh tidak dibutuhkan lagi,” papar Makmur.
Apa tidak mengkhawatirkan Golkar mulai ditinggalkan para tokoh? “Kami tidak bisa melarang. Mudah-mudahan ini menjadi motivasi supaya Golkar makin giat mendekatkan diri ke masyarakat. Ini regenerasi juga, biar kader muda yang tampil,” jelas dia.
Sementara, Pengamat politik lokal dari Universitas Mulawarman Samarinda Lutfi Wahyudi menuturkan, penyebab utama Mukmin hengkang dari Golkar sama alasannya seperti Faroek. Keduanya, sama kecewa ditempatkan di dewan sesepuh. Posisi tersebut terhormat dalam sebutan, tapi tidak demikian dalam kekuasaan. “Jabatan tidak usah ngapa-ngapain lagi. Mereka dipereteli secara kekuasaan,” terang Lutfi.
Setelah Faroek keluar dan ditampung NasDem, Mukmin juga berhitung. Dengan pertimbangan, sekaliber Faroek saja memilih keluar, terlebih dirinya. Jejak politik yang ditempuh wagub tersebut untuk mencari nuansa yang masih bisa memberikan kehormatan sekaligus kekuasaan. “Politikus gaek itu tidak mau disingkirkan begitu saja. Dia mau membuktikan bisa berbuat lebih ketimbang di dewan sesepuh,” katanya.
Pilihan paling mungkin dan bisa memberikan harapan, yakni di Hanura. Apalagi, kepengurusan pusat partai tersebut masih baru. Di samping itu, tak banyak tokoh senior yang menonjol di Hanura. Jauh berbeda dengan partai lain yang sudah memiliki figur tokoh tertentu. Bila memilih masuk NasDem, tentu kalah bersinar dengan koleganya di pemerintahan, Faroek. “Hanura pilihan paling menguntungkan,” imbuhnya.
Bagi Hanura, kehadiran Mukmin ibarat ketiban durian runtuh. Bagaimanapun, pemilihan legislatif 2019 sudah mepet. Cara instan bagi partai untuk mendongkrak elektabilitas dan popularitas partai, yakni dengan merekrut politikus yang punya nama. “Ini jadi masa konsolidasi untuk mendapat modal politik yang kuat. Mukmin punya finansial yang cukup dan ketokohan,” ucap dia. (kpg)







