Diisukan Loncat ke Hanura, Sudah Bertemu Ketua Umum di Jakarta
SAMARINDA – Satu demi satu kader Partai Golkar hengkang. Di Kaltim, setelah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak (AFI) mengakhiri kebersamaan, kini Mukmin Faisyal dikabarkan mengikuti jejak tersebut.
Bedanya, Faroek ke Partai Nasional Demokrat (NasDem), sedangkan wakil gubernur (wagub) Kaltim disebut-sebut menambatkan pilihan ke Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).
Di partai yang didirikan Wiranto itu, mantan ketua DPD Golkar Kaltim 2010-2015, bakal menempati posisi ketua Dewan Penasihat DPD Hanura Kaltim.
Sekretaris DPD Hanura Kaltim Tamrin tak membenarkan sepenuhnya kabar tersebut. Sebab, sampai sekarang, secara resmi Mukmin belum tercatat sebagai anggota dan pengurus partai.
Hanya, dia memastikan bahwa yang bersangkutan memang ada bertemu Oesman Sapta Odang (OSO), ketua umum (ketum) Hanura, di Jakarta, Selasa (31/1). “Ketua DPD (Herwan Susanto) juga ada ditelepon ketum. Beliau minta Pak Mukmin dimasukkan sebagai ketua dewan penasihat,” terang dia, kemarin (2/2).
Dalam rapat pengurus harian DPD Hanura Kaltim, Rabu (1/2), hal tersebut salah satu yang menjadi perbincangan. Prinsipnya, ketika ada seseorang hendak bergabung, Hanura dengan tangan terbuka menerima. Namun, tetap mesti mengikuti mekanisme partai.
Adapun itu, mengisi formulir anggota dan menyatakan kesediaan bergabung. “Kami tidak ingin kepedean juga. Mengkroscek kebenaran, dalam waktu dekat mau menanyakan langsung ke beliau (Mukmin). Benar bersedia atau tidak bergabung?” ujarnya. “Ketua DPD sedang mengatur jadwalnya. Segera mungkin bertemu,” lanjutnya.
Dikatakan, sejauh ini tak sama sekali ada pengurus partai level Kaltim yang diajak komunikasi oleh Mukmin. Kembali Tamrin menegaskan, kabar tersebut justru diterima dari pengurus pusat. Seyogianya, memang, terlebih dulu berkomunikasi dengan pengurus di daerah. “Tidak ada yang melarang. Tapi, yang jelas perintah pusat akan kami tindak lanjuti. Mungkin beliau punya jalur tol,” ucap dia.
Diketahui, jabatan ketua Dewan Penasihat DPD Hanura Kaltim bukan tanpa pengisi. Sekarang diduduki Dayang Hariyati. Bagaimana dengan kehadiran Mukmin? “Teknisnya, nanti ada rapat pleno pengurus harian untuk menentukan. Kebetulan dalam waktu dekat akan ada reshuffle struktur kepengurusan,” katanya.
Dia lekas-lekas membantah ada reshuffle bersifat mendadak. Dia menyatakan, itu dilakukan menyikapi ada pengurus yang meninggal dunia atau menduduki posisi di DPC. Dengan bergabungnya Mukmin, tentu membawa dampak positif. Minimal, terang dia, ada penambahan anggota. “Beliau punya nama besar, pasti ada pengaruh. Ada pengikut setia yang kemungkinan ikut bergabung,” sebut dia.
MUKMIN HANYA BERI ISYARAT
Sebelumnya, ketika Faroek memutuskan keluar dari Partai Golkar, Mukmin Faisyal ikut angkat bicara. Ia mengatakan, langkah yang dipilih politikus senior itu tentu telah melalui pertimbangan matang. Menurutnya, pilihan itu merupakan urusan pribadi yang menjadi hak asasi kader. Mukmin menyebut, pada waktunya juga akan menentukan langkah.
Akan mengikuti jejak Faroek? “Kalau sekarang ‘kan, nanti dianggap ikut-ikutan. Enggak ‘lah. Masih menimbang-nimbang. Tidak boleh sembarangan,” kata wakil gubernur Kaltim beberapa waktu lalu.
Mukmin memahami luapan kekecewaan Faroek hingga bermuara memilih keluar dari partai berlambang beringin. Sebagai pemimpin pemerintahan di Kaltim, wajar keputusan itu diambil. Dewan sesepuh yang baru terbentuk dalam kepengurusan DPD Golkar Kaltim 2016–2020, tidak jelas tugas dan perannya.
Memang benar, terang dia, saat pelantikan kepengurusan baru di Pantai Manggar, kader yang duduk di dewan sesepuh dibacakan. Namun, tindak lanjut dari itu, dia mengaku belum menerima surat keputusan. Diajak berbicara oleh pengurus pun belum pernah bahwa akan ditempatkan sebagai dewan sesepuh.
“Kami ini orang tua, mau apalagi? Kalau pengurus bertemu ‘kan enak kalau dijelaskan (tugas dan peran dewan sepuh). Beda dengan dewan pertimbangan. Sesepuh ini mungkin pensiunan,” kata dia lantas tertawa. “Umur saya 66 tahun. Pak Awang 68 tahun,” sambungnya. (ril/far/k8/kpg)







