bontangpost.id – Suara langkah kaki terdengar menggema. Pertanda ada yang datang. Kala itu pukul 03.00 dini hari. Para penjaga menajamkan telinga. Raut wajahnya datar dan menatap sekitar.
Mata Arifin menangkap dua mobil mewah yang terparkir rapi dalam gelap, namun tak ada penumpang di sana. Tak lama, suara bariton terdengar lirih, bersamaan dengan bunyi grasah-grusuh seseorang seperti akan melompat pagar.
Arifin menggeram agak keras. Berharap mereka yang hendak memanjat mengurungkan niatnya dan segera pergi.
“Biar ketakutan, karena mengira suara saya setan,” kelakarnya.
Peristiwa sekitar setahun lalu itu adalah salah satu dari sekian banyak kejadian di stadion. Sejauh ini memang tidak ada yang hilang dari bangunan itu. Fasilitasnya masih lengkap.
Hanya segelintir pemuda-pemudi yang kerap ditemui dan diduga ingin mengonsumsi barang haram. Tak jarang pula Arifin menemukan plastik hitam berisi kemasan obat batuk. Isinya sudah kosong.
Tidak seperti gelanggang olahraga yang berada di seberangnya, Stadion Taman Prestasi tak dapat sepenuhnya dikatakan mangkrak. Masih ada aktivitas di sana, sebab ruangan yang digunakan penjaga pun berada di bangunan tersebut.
Belasan tahun sudah Arifin menjaga bangunan tinggi menjulang dengan rerumputan terhampar luas dan tiang lampu sorot berdiri kokoh di sudut lapangan.
Tribun bukan sekadar ornamen pemanis, tapi jadi saksi bisu ribuan insan yang bersorak melihat pertandingan yang sama, mendukung klub jagoannya. Stadion Taman Prestasi namanya.
Rumput liar yang tumbuh di lapangan utama dipangkas dua kali setahun dua. Beberapa ruangan juga kadang dibersihkan, sisanya dibiarkan berdebu dan kusam.
“Sulit menjangkaunya, luas sekali stadion ini. Kami bersihkan ruangan yang paling sering digunakan saja,” tutur Arifin.
Namun lagi-lagi, minimnya penerangan menjadi persoalan. Lampu yang tersedia memang ada dan masih menyala, tetapi harus disambungkan dengan genset.
“Ada beberapa yang mati. Lampu juga hanya dinyalakan ketika ada kegiatan,” terang dia.
Ia pun tak dapat berbuat banyak. Perihal penerangan sudah sering diajukan. Akhirnya ia berhenti bersuara, sebab selalu berujung kecewa.
“Sudah sering diusulkan, bosan,” ujarnya.

Baca juga; Nasib Fasilitas Olahraga Peninggalan PON 2008; GOR Taman Prestasi (1)
Stadion ini masuk dalam jajaran lokasi yang digunakan saat perhelatan PON XVII pada 2008 silam, yakni cabang olahraga sepak bola.
Wali Kota Cup 2022 pun tercatat sebagai event besar terakhir yang diselenggarakan di sana. Itu juga karena Stadion Bessai Berinta sedang digunakan untuk pemusatan latihan anggota paskibra.
Setelahnya, hanya klub bola lokal dan beberapa OPD yang memanfaatkannya untuk latihan maupun pertandingan gabungan.
Kendati begitu, sejak ia bekerja 2009 silam, pengecatan gedung stadion baru dilakukan dua kali, sehingga warnanya sudah memudar.
Arifin memutar kembali ingatannya. Wali Kota yang menjabat saat itu datang langsung untuk meninjau. Meminta pemeliharaan aset stadion dilakukan.
“Kepala daerah sendiri yang minta kembali dicat. Saya ingat betul,” akunya.
Kini, deretan kursi penonton sudah lapuk dan berlumut. Bahkan bangku di pinggir lapangan telah rapuh dan patah. Penyebabnya karena terpaan sinar matahari dan air hujan silih berganti.
Atap berbahan plastik fiber berwarna biru itupun tak mampu menahannya lagi. Ada lubang melintang panjang dan beberapa sisi yang terkoyak seolah tidak layak.
Diketahui, pada 2009 hingga 2010, stadion berkapasitas 25.000 penonton ini dikelola oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bontang. Kemudian dilanjutkan oleh pemerintah kota.
“Iya, sekarang Dispopar (Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata) Bontang,” ucapnya.
Arifin dapat memaklumi bila masyarakat jarang berkunjung ke stadion ini. Mengingat lokasinya yang jauh dari hiruk pikuk kota, bahkan memerlukan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di sana.
“Memang sangat disayangkan, tapi mau bagaimana lagi. Beginilah kondisinya sekarang,” tandasnya. (*)

