bontangpost.id – Neni Moernaeni besar kemungkinan akan maju dalam pilwali Bontang, tahun ini. Selain karena sudah mendapatkan surat tugas dari DPP, istri dari Andi Sofyan Hasdam ini juga sudah melakukan kunjungan ke masyarakat. Serta menyampaikan program yang akan dijalankan. Namun demikian, hingga saat ini pasangannya belum diputuskan.
Ketua DPD II Golkar Bontang Andi Faizal Sofyan Hasdam mengatakan pasangan itu akan diumumkan bulan depan. Saat ini, komunikasi politik masih terus berjalan. “Kami masih berkomunikasi intensif sembari mencari chemistry,” kata Andi Faiz.
Proses komunikasi itu ditujukan kepada delapan nama yang sudah mendaftar saat penjaringan Golkar. Terkait peluang semua masih memiliki kans yang sama. Baik itu dari internal Golkar maupun eksternal. Sehubungan dengan program yang sudah dipaparkan terlebih dahulu, menurutnya itu merupakan gagasan calon kepala daerah.
Terkait apa ada potensi nama baru, itu bergantung kepada keputusan dari DPP maupun DPD I Kaltim. Jika DPP dan DPD I Kaltim meminta membuka kembali penjaringan maka DPD II akan tunduk. Tetapi menurutnya sejauh ini belum ada arahan untuk itu.
Sementara pengamat politik Universitas Mulawarman Budiman menjelaskan ada beberapa kemungkinan Golkar belum menentukan pasangannya. Pertama, jika rekomendasi kemarin ada dua mana yakni Andi Faiz dan Shemmy Permatasari. Golkar juga dinilai blunder jika tetap mendorong Andi Faiz.
“Sementara ada tarik ulur di internal Golkar sendiri. DPP sudah merilis nama. Tetapi hasil survei tinggi bu Neni,” terangnya.
Selanjutnya ini terkait sejarah. Ada dua momentum Neni mengalami kekalahan di pilkada. Pada 2010 ketika Neni menggaet Irwan Arbain justru kalah dengan Almarhum Adi Darma-Isro Umarghani. Kemudian di 2020 lalu Neni-Joni juga harus takluk dari Basri Rase-Najirah.
“Artinya dengan kinerja yang bagus tidak bisa disangkal. Ternyata Neni bisa kalah di dua kompetisi karena salah pasangan. Tentu ini juga dilihat,” sebutnya.
Patut diidentifikasi untuk pasangan ke depan. Jangan sampai pasangan yang dipilih justru melemahkan elektabilitas dari Neni. Sementara Bontang secara cakupan wilayah kecil. Menurutnya Golkar harus memperhatikan aspek pasangan yang dipilih berupa kemampuan ekonomi dan pertimbangan geopolitik.
Satu lagi, kemungkinan juga Golkar sudah melihat sisi lain. Apakah untuk kemenangan jangka pendek atau program kaderisasi jangka panjang. Jika jangka pendek otomatis mencari figure dengan elektabilitas tinggi.
Tetapi bila program kaderisasi jangka panjang maka wakil yang akan dipilih dipandang tidak bersinar dari pada Andi Faiz. Sehingga pada 2029 nanti sang anak ini sudah disiapkan untuk pertarungan berikutnya.
“Memang ada beberapa kemungkinan. Tinggal Golkar seperti apa. Tetapi kalau figure kuat bisa jadi pasangan sama Najirah. Otomatis bungkus sudah ini,” pungkasnya. (ak)







