bontangpost.id – Kebutuhan bahan pokok di Bontang sepekan jelang bulan suci Ramadan dipastikan aman kendati harganya bergejolak. Ini diketahui usai Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang melakukan monitoring pasokan dan harga di Pasar Taman Rawa Indah Bontang, Senin (5/4/2021) pagi.
Ada sebelas bahan pokok yang dipantau. Meliputi beras medium, gula pasir, minyak goreng, kacang tanah. Kemudian jagung pipil, kedelai, bawang merah, cabai rawit, dan cabai besar. Pun daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih.
Kabid Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani menegaskan ke-11 bahan pokok tersebut aman jelang Ramadan. DKP3 tidak hanya melakukan pemantauan di Pasar Tamrin, tim lain ikut disebar ke pasar tradisional lainnya yakni Pasar Telihan dan Pasar Citra Mas Loktuan.
”Pemantauan juga dilakukan di sejumlah agen. Itu lebih ke Diskop-UKMP. Tapi data hariannya dari mereka juga kami pegang,” beber Debora kepada media usai monitoring.
Dari ke-11 bahan pokok tersebut, 9 di antaranya mengalami kenaikan. Tapi stoknya masih terjaga. Yang mengalami gejolak cukup tinggi ialah minyak goreng, kedelai, bawang merah, cabai rawit dan bawang putih. Harga beras medium mulai merangkak naik. Meski tidak signifikan. Harga acuan beras dipatok Rp 11.028 per kilogram. Hasil monitoring menunjukkan kenaikan menjadi Rp 11.067 per kilogram. Atau mengalami gejolak 0,35 persen.
Hal sama juga berlaku untuk cabai rawit. Harga acuan cabai rawit dipatok Rp 80.044 per kilogram. Kini melonjak jadi Rp 103.333 per kilogram. Mengalami gejolak 29,10 persen.
Debora bilang cabai rawit meroket karena stok dari petani juga terbatas. Gejolak harga terjadi lantaran banyaknya gagal panen di daerah penghasil cabai. Seperti di Sulawesi dan Jawa. Karena musim hujan, sehingga cabai diserang hama penyakit dan gagal pangen.
Sementara untuk cabai kecil reguler, justru mengalami penurunan. Usai bertahan di angka Rp 100-110 ribu per kilogram sepanjang Maret 2021, kini harga mulai merosot jadi Rp 85 ribu per kilo. Harga ini masih kurang dijangkau konsumen. Sebab sebelum melambung, harga cabai terpantau Rp 50-60 per kilo. Itu di awal 2021 lalu. Sebabnya, pembukaan Pelabuhan Loktuan diharapkan dapat menekan harga cabai yang harganya terlampau ”pedas” sepanjang Maret lalu.
”Jadi kalau lewat pelabuhan biaya pengiriman cabai dari Pare-Pare (Sulsel) bisa ditekan. Enggak mesti lewat Samarinda lagi,” harapnya.
Dikatakan Debora, kebutuhan pangan di Bontang sangat tergatung dari pengiriman luar daerah. Dengan persentase 90 persen dari luar, dan 10 persennya ditalangi petani lokal. Seperti sayuran hijau dan cabai lokal.
”Bontang kan bukan daerah penghasil. Jadi sebagian besar memang ya bergantung pengiriman dari luar,” ungkapnya.
Dia menegaskan, monitoring harga dan pasokan seperti ini dilakukan DKP3 Bontang saban hari. Tapi untuk monitoring gabungan yang melibatkan personel gabungan TNI dan Polri melihat momen penting. Misal jelang hari besar keagamaan, atau jelang akhir tahun.
”Nanti kami monitoring gabungan seperti ini beberapa hari sebelum Ramadan,” tandasnya. (*)




