BONTANGPOST.ID, Bontang – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang akhirnya mendapatkan faktor utama terjadi perubahan warna air Sungai Bontang, Sabtu (23/8/2025).
Kepala DLH Bontang, Heru Triatmojo, menjelaskan hasil tinjauan lapangan oleh pihaknya, sumber perubahan warna disebabkan oleh kegiatan pembersihan tangki clarifier yang dilakukan PDAM Tirta Taman Bontang.
Air sludge (endapan lumpur) dari hasil pembersihan itu dibuang ke saluran pembuangan yang mengarah ke Sungai Bontang.
“Kegiatan maintenance dilaksanakan jam 7 pagi oleh pihak PDAM dan pelepasan air sludge dibuang jam 8,” ungkapnya
DLH mengambil dua sampel air di lokasi berbeda. Sampel pertama diambil dari area PDAM dengan hasil pH 7,4, suhu 25°C, dan warna air keruh cokelat kemerahan.
Sedangkan sampel kedua diambil di area jembatan, dekat simpang Kaltim Pos
“Hasil pertama dan kedua sama meski pH nya berbeda yakni 7,07, suhu 28,2°C, tapi kondisi air keruh berwarna serupa sama,” ungkapnya.
Heru tegaskan PDAM wajib menjalankan prosedur operasional standar (SOP) pembersihan sludge sesuai ketentuan yang ada.
“Agar ini tidak menimbulkan pencemaran air di wilayah sekitar khususnya sungai,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bontang tengah menyelidiki penyebab perubahan warna air di aliran sungai yang mendadak berubah menjadi oranye pekat pada Sabtu (23/08/2025) siang.
Pantauan lanjutan dilakukan di aliran sungai yang berada di bawah Jembatan Simon Tampubolon, dekat Cafe Heartbone. Hasil pengamatan menunjukkan air dalam kondisi normal, tanpa perubahan warna.
Padahal, aliran ini masih satu jalur dengan sungai di kawasan Jalan Paprika, Kelurahan Gunung Elai, RT 14 lokasi awal ditemukannya perubahan warna air sekitar pukul 14.00.
Kepala DLH Bontang Heru Triatmojo, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab perubahan warna tersebut. Saat ini, tim pengawas dari DLH sedang melakukan penelusuran dan survei di lapangan.
“Teman-teman pengawas LH sedang melakukan survei,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi. (Dwi Kurniawan Nugroho)



