bontangpost.id – Pandemi Covid-19 memang membatasi ruang gerak manusia. Namun ia tidak membatasi ruang kreativitas manusia. Segenap keterbatasan akibat pandemi tak jarang semakin mengasah daya kreativitas.
Seperti yang terjadi di SDN 004 Bontang Barat. Keterbatasan lantaran pandemi justru menjadi cikal bakal lahirnya program Tahfiz Alquran. Meski hasilnya belum sempurna, namun untuk sebuah program “dadakan” hasilnya cukup memuaskan. Ini terlihat dari catatan 25 anak yang berhasil menoreh nilai plus soal hafalan dan kemampuan baca Alquran.
Kepala SDN 004 Bontang Barat, Suhartiningsih menjelaskan, program ini lahir karena “kepepet”. Sekolah tiba-tiba dipindah ke rumah karena pandemi. Sementara guru tetap memiliki tanggung jawab penuh terhadap perkembangan anak didiknya.
Selain itu, pihak sekolah pun dihadapkan pada tantangan agar anak-anak tetap produktif kendati pembelajaran dilakukan jarak jauh. Dari rumah, tidak tatap langsung.
“Karena waktu itu pas juga bulan Ramadan, terpikir di kami, kenapa tidak buat program Tahfiz Alquran. Anak-anak bisa produktif di rumah, jiwa religius mereka juga terasah,” urai Suhartiningsih disela-sela penganugerahan apresiasi Tahfiz Alquran di SDN 004, Senin (29/6/2020) pagi.
Lebih jauh, program Tahfiz Alquran ini dibagi dalam dua klaster berdasar tingkatan kelas. Klaster pertama diisi kelas bawah, 1-3. Klaster dua diisi kelas atas, 4-5. Pembedaan ini dilakukan agar penilaian dapat lebih adil. Mengingat kemampuan murid kelas atas dan kelas bawah tentu berbeda. Kemudian penilaian terdiri atas 3 indikator. Yakni jumlah hafalan, tajwid, dan fasohah. Sementara ketua tim penilai dipimpin guru agama.
Nah, untuk menilai jumlah hafalan surah dan kefasihan membaca tajwid yang benar yang agak menantang. Sebab guru tidak mungkin menyambangi rumah anak didik satu per satu untuk setor hapalan. Sebabnya, anak-anak kadang diminta mengirim catatan suara (voice note) melalui WhatsApp (WA). Kadang pula, menyetor hapalan melalui panggilan video (video call) sembari mata ditutup kain. Cara ini dinilai cukup adil untuk melakukan penilaian.
“Ya, sebisa mungkin kami manfaatkan teknologi yang ada,” ungkap perempuan berkacamata ini.
Adapun dalam apresiasi Tahfiz Alquran tahun perdana ini, total ada 25 anak mendapat penghargaan dari sekolah. Dengan rincian, 15 anak tahfiz, dan 15 lainnya mendapat anugerah karena ibadah rutin (salat 5 waktu dan puasa) tidak ada bolong.
“Kami beri apresiasi agar anak-anak makin semangat baca Alquran, semakin semangat ibadah, juga makin semangat belajar,” beber Suhartiningsih bersemangat.
Kendati ini kali perdana digelar, pihaknya berencana menjadikan program Tahfiz Alquran ini masuk dalam kegiatan tahunan. Dan tentu, akan ada penyempurnaan.
“Insyaallah bakal jadi kegiatan tahunan kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang, Saparuddin kala ditemui usai penganugerahan ikut mendorong ini jadi kegiatan rutin. Menurutnya anak-anak berprestasi memang harus didukung penuh, terlebih jika ia berprestasi.
” Saya berharap tiap sekolah punya cirinya masing-masing. Misal punya program unggulan tertentu,” tantangnya. (*)

