bontangpost.id – Jumlah populasi nyamuk wolbachia di tiga kecamatan masih jauh dari target yang ditetapkan.
Siti Rahimah, Penanggung Jawab DBD Diskes, mengungkapkan bahwa manfaat wolbachia, seperti yang telah terbukti di Jogjakarta, baru akan terasa saat populasi mencapai 60 persen. Saat ini, proses pengambilan sampel masih berlangsung.
“Di Bontang Utara yang melakukan peluncuran awal pada November 2023, baru mencapai 36 persen,” kata Imah.
Sementara itu, untuk Bontang Barat dan Bontang Selatan, pelepasan ember wolbachia baru dilakukan pada akhir Desember 2023, menyebabkan selisih sekitar 1,5 bulan.
Secara khusus, sebaran di Bontang Barat baru mencapai 30 persen dan Bontang Selatan 31 persen.
Ia mencatat bahwa masih ada oknum warga yang kurang peduli, bahkan menemukan bahwa beberapa isi ember wolbachia dibuang atau ditempatkan di tempat yang tidak aman, sehingga telur nyamuk tersebut dimakan oleh hewan lain.
Diskes juga menemukan beberapa kader yang tidak tertib terkait jadwal penggantian ember.
“Kondisi ini dapat menghambat keberhasilan program wolbachia,” tambahnya.
Kondisi ini membuat program wolbachia belum mencapai target, sementara kasus penyakit DBD masih cukup tinggi.
Pada Juni lalu, terdapat 45 kasus penderita DBD yang tercatat. Data dari Diskes menunjukkan bahwa Kelurahan Belimbing memiliki kasus tertinggi, yakni tujuh kasus, diikuti oleh Bontang Baru dan Berebas Pantai masing-masing lima kasus.
Hanya ada tiga kelurahan yang tidak melaporkan kasus DBD pada bulan Juni, yaitu Tanjung Laut, Tanjung Laut Indah, dan Bontang Lestari. (*)

