bontangpost.id – Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) memiliki tugas yang cukup berat. Mereka bahkan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan banyak orang. Pekerjaan mereka pun tak melulu soal memadamkan api saja.
Pekan lalu, tepatnya 25 Januari 2022, seorang warga melapor ke akun medsos Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang. Minta sebuah pohon di Jalan Tembus Pupuk Raya dipangkas lantaran berpotensi ambruk dan membahayakan pengguna jalan.
Tak lama usai laporan itu diterima, Disdamkartan mengambil tindakan. Mulanya mereka mencoba berkoordinasi dengan perusahaan setempat, mengingat kawasan tersebut areal perusahaan. Namun karena butuh tindakan tanggap, malam harinya Tim Rescue Disdamkartan turun dan memangkas habis pohon tersebut.
“Daripada membayakan. Kami sudah koordinasi juga. Ya sudah, tim kami kirim, malamnya pohon dipangkas,” sebut Komandan Kompi Disdamkartan Norman, ketika ditemui di kantornya, Jalan Kapten Pierre Tandean, Bontang Kuala, Rabu (2/2/2022) pagi.
Dia menjelaskan, memangkas pohon yang nyaris tumbang seperti itu sejatinya bukan tugas mereka. Sebenarnya tugas bagian pertamanan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertamanan (DPKPP), namun belakangan menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
“Ya kalau mau dibilang tugas pokok, sebenarnya bukan kami. Cuma karena ini menyangkut keselamatan warga, juga karena dorongan kemanusiaan, kami turun,” sebutnya.
Ketika terjadi musibah kebakaran, lingkungan rumah warga kedatangan ular, buaya, tawon, atau binatang membahayakan lain, Disdamkartan yang berada di garis terdepan. Namun sejatinya tugas Disdamkartan sangat luas, semua menyangkut penyelamatan warga. Termasuk ketika ada kecelakaan dan banjir. Bahkan penah ada seorang murid SMA datang ke kantor Disdamkartan minta diambilkan bola yang menyangkut di atap sekolah.
“Tim kami benaran datang. Naik atas itu (atap), diambilkan bolanya,” ujar Norman sedikit terkekeh.
Dengan pekerjaan yang ‘diborong’ seperti ini, kata Norman, sejatinya Disdamkartan kekurangan personel. Tim lapangan 151 orang, yang di dalamnya termasuk tim rescue sebanyak 16 orang.
“Sebenarnya kurang ideal. Misal di pos siaga itu tidak ada tim rescue, baru di mako saja,” tandasnya. (*)







