<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kebudayaan lokal Arsip - Bontang Post</title>
	<atom:link href="https://bontangpost.id/tag/kebudayaan-lokal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://bontangpost.id/tag/kebudayaan-lokal/</link>
	<description>Mencerdaskan dan Menginspirasi</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jul 2026 10:52:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/04/bp-cropped-favicon-bpost1-2-32x32.png</url>
	<title>kebudayaan lokal Arsip - Bontang Post</title>
	<link>https://bontangpost.id/tag/kebudayaan-lokal/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kutai Timur Punya Empat Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Ini Daftarnya</title>
		<link>https://bontangpost.id/kutai-timur-punya-empat-warisan-budaya-takbenda-indonesia-ini-daftarnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Jul 2026 10:52:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[kutai timur]]></category>
		<category><![CDATA[Pelestarian Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan budaya Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=152464</guid>

					<description><![CDATA[<p>BONTANGPOST.ID, Sangatta &#8211; Empat budaya dan tradisi asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun melalui praktik, ritual, seni pertunjukan, hingga tradisi lisan. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Ilham mengatakan, hingga kini terdapat empat budaya [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kutai-timur-punya-empat-warisan-budaya-takbenda-indonesia-ini-daftarnya/">Kutai Timur Punya Empat Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Ini Daftarnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BONTANGPOST.ID, Sangatta &#8211;</strong> Empat budaya dan tradisi asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun melalui praktik, ritual, seni pertunjukan, hingga tradisi lisan.</p>
<p>Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Ilham mengatakan, hingga kini terdapat empat budaya asal Kutim yang telah memperoleh pengakuan WBTb Nasional.</p>
<p>&#8220;Ini prestasi besar. Kenapa menjadi prestasi besar? Kita di Kutai Timur telah membukukan empat warisan budaya tak benda,&#8221; ujar Ilham, Minggu (12/7).</p>
<p>Budaya pertama yang memperoleh pengakuan adalah Hudoq pada 2013. Tradisi masyarakat Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau itu merupakan ritual tari bertopeng yang digelar dalam pesta adat Lom Plai sebagai bentuk doa memohon kesuburan sekaligus ungkapan syukur atas hasil panen.</p>
<p>Penarinya mengenakan topeng kayu berbentuk hewan atau roh pelindung yang dipadukan dengan balutan daun pisang sebagai simbol alam.</p>
<p>Dua tahun berselang, tepatnya pada 2015, Lom Plai juga ditetapkan sebagai WBTb. Tradisi tersebut merupakan pesta adat pascapanen masyarakat Dayak Wehea yang menjadi rangkaian syukur sekaligus pelestarian nilai budaya.</p>
<p>Selanjutnya pada 2021, Bekenjong memperoleh pengakuan sebagai WBTb. Ritual pengobatan tradisional masyarakat Kutai itu dipimpin seorang pawang menggunakan mantra, tarian Ngenjong, iringan musik klentangan, serta sesaji. Tradisi tersebut dipercaya sebagai sarana penyembuhan, penolak bala, sekaligus media komunikasi dengan alam gaib.</p>
<p>Sementara itu, pada tahun ini Belian Kutai Semega dari Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon, juga resmi masuk daftar WBTb Nasional. Ritual tersebut bertujuan memohon keselamatan, membersihkan kampung dari marabahaya, serta ditutup dengan prosesi Mengolor Prahu Naga atau larung ke laut sebagai simbol pelepasan bala.</p>
<p>Selain empat budaya yang telah diakui, Disdikbud Kutim menyiapkan sejumlah usulan baru untuk diajukan sebagai WBTb. Salah satunya adalah Emuang Panas Pelas yang direncanakan kembali diusulkan pada 2027.</p>
<p>&#8220;Walaupun sebenarnya tahun lalu sudah kami usulkan. Tahun ini sudah diusulkan tetapi ada beberapa dokumen yang harus dilengkapi,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Tradisi lain yang juga disiapkan untuk diusulkan ialah Seksiang, permainan tradisional perang-perangan di atas perahu yang menjadi bagian dari Festival Lom Plai, serta Beang Bit, kudapan tradisional khas Suku Dayak Wehea yang menyerupai dodol.</p>
<p>&#8220;Namun perlu diketahui bahwa usulan warisan budaya tak benda Indonesia itu harus melalui kajian akademis,&#8221; pangkasnya. <strong>(juf/kpg)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kutai-timur-punya-empat-warisan-budaya-takbenda-indonesia-ini-daftarnya/">Kutai Timur Punya Empat Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Ini Daftarnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perkenalkan Budaya Lokal Kaltim hingga ke Mancanegara</title>
		<link>https://bontangpost.id/perkenalkan-budaya-lokal-kaltim-hingga-ke-mancanegara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 May 2018 03:29:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=39947</guid>

					<description><![CDATA[<p>Menghidupkan budaya daerah dari masa ke masa menjadi mimpi besar yang ingin selalu ditumbuhkan Sanggar Apo Lagaan Samarinda. Terutama membumikannya dari generasi ke generasi, di tengah gempuran dunia modern saat ini. DEVI NILA SARI, Samarinda APO Lagaan merupakan sanggar seni yang berkiprah dalam kesenian tradisional Dayak Bahau. Sanggar tari yang didirikan semenjak tahun 2007 ini, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/perkenalkan-budaya-lokal-kaltim-hingga-ke-mancanegara/">Perkenalkan Budaya Lokal Kaltim hingga ke Mancanegara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Menghidupkan budaya daerah dari masa ke masa menjadi mimpi besar yang ingin selalu ditumbuhkan Sanggar Apo Lagaan Samarinda. Terutama membumikannya dari generasi ke generasi, di tengah gempuran dunia modern saat ini.</p>
<p>DEVI NILA SARI, <em>Samarinda</em></p>
<p>APO Lagaan merupakan sanggar seni yang berkiprah dalam kesenian tradisional Dayak Bahau. Sanggar tari yang didirikan semenjak tahun 2007 ini, memiliki anggota aktif sebanyak 15 orang. Kebanyakan dari mereka merupakan anak muda.</p>
<p>Ketua Sanggar Apo Lagaan Samarinda, Adrianus Liah didampingi pengurus operasional, Arbiansyach Jueng mengatakan, keanggotaan dari sanggar tempat dia berkecimpung memang mempriotaskan anak muda. Namun ada juga di antara mereka yang telah berusia dewasa.</p>
<p>Selain itu, di Sanggar Apo Lagaan juga terdapat anak-anak. Namun untuk anak-anak, Sanggar Apo Lagaan menyediakan tempat latihan tersendiri yang diberi nama Apau Punyaat. Kata dia, dibentuknya Apo Lagaan bertujuan untuk melestarikan seni budaya, seperti seni tari dan musik. Terutama yang berasal dari Dayak Bahau.</p>
<figure id="attachment_39949" aria-describedby="caption-attachment-39949" style="width: 350px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/05/BUDAYA-REVISI-KAKI-2-SAMBUNGANweb.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-39949" src="https://bontangpost.id/wp-content/uploads/2018/05/BUDAYA-REVISI-KAKI-2-SAMBUNGANweb.jpg" alt="" width="350" height="525" /></a><figcaption id="caption-attachment-39949" class="wp-caption-text">MENDUNIA: Komitmen Sanggar Apo Lagaan Samarinda mengenalkan kesenian Dayak Bahau telah membawa sanggar tersebut hingga ke mancanegara.(DEVI/METRO SAMARINDA)</figcaption></figure>
<p>“Kami memang lebih banyak mengeksplor budaya terutama dalam bidang seni tari dan musik untuk diperkenalkan kembali ke generasi muda. Jadi, tujuan awal dibentuknya sanggar seni ini sampai sekarang masih tetap sama,” Arbi disambangi Sanggar Seni Apo Lagaan di Jalan Siti Aisyah, Jumat (18/5) kemarin.</p>
<p>Dia menjelaskan, kata Apo Lagaan sendiri berarti kayangan, atau yang berarti tempat tinggal para dewa. Atau yang juga dikenal sebagai surga. “Melalui sanggar ini, kami ingin melestarikan budaya Dayak Bahau, yang merupakan salah satu suku asli di Kaltim,” katanya.</p>
<p>Dia menyebut, sejak didirikan beberapa tahun lalu, Sanggar Seni Apo Lagaan tidak pernah sepi peminat. Meskipun jumlah mereka yang datang untuk mempelajari seni tari dan musik di tempat tersebut tidak terbanyak. Layaknya sanggar lain di Samarinda.</p>
<p>&#8220;Sejak saya menjabat, jika dikatakan peminatnya berkurang juga tidak, bertambah juga tidak, peminatnya masih stabil. Masih banyak generasi muda yang berminat untuk belajar seni budaya,&#8221; kata dia.</p>
<p>&#8220;Hal itu wajar, karena sanggar ini bukanlah sanggar yang dibentuk untuk keperluan manggung atau kompetisi semata. Kami memang tidak banyak membuat kreasi tari seperti untuk <em>dance company</em>. Sanggar ini adalah tempat untuk belajar dan mengenal seni budaya,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Selain itu, dia mengatakan, Apo Lagaan juga pernah <em>go internasional</em>. Mereka pernah mempertunjukkan kesenian tari dan musik di beberapa negara. Menurut dia, hal itu menjadi kebangaan bagi pihaknya bisa mengenalkan budaya khas Kaltim di mata dunia.</p>
<p>&#8220;Kami pernah ke Cina, Singapura, Belanda, Amerika Serikat, Jerman, India, Perancis, dan masih banyak lagi. Namun, untuk event lokal seperti Festival Mahakam dan Festival Kemilau kami hanya kadang-kadang saja mengikuti&#8221; ujar dia.</p>
<p>Arbi mengatakan, sanggar tari yang dia urus tersebut terbuka untuk umum, bagi mereka yang ingin belajar budaya terutama kesenia Bahau, bisa bergabung kapan saja. “Kami terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar dan mengenal kesenian Bahau,” ujarnya.</p>
<p>Namun, dia menuturkan untuk saat ini peminat sanggar seni tersebut masih sebatas kaum muda Mahakam Ulu. “Walau begitu, bagi generasi muda yang berminat belajar seni khususnya kesenian Bahau silahkan datang ke Jalan Siti Aisyah Gang 14, Samarinda,” tandasnya. <strong>(*/dev)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/perkenalkan-budaya-lokal-kaltim-hingga-ke-mancanegara/">Perkenalkan Budaya Lokal Kaltim hingga ke Mancanegara</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budaya Kaltim Terancam Punah</title>
		<link>https://bontangpost.id/budaya-kaltim-terancam-punah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2017 03:32:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Metro Samarinda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=24111</guid>

					<description><![CDATA[<p>SAMARINDA – Kalah pamornya kebudayaan lokal dengan kebudayaan asing membuat DPRD Kaltim merasa prihatin. Apalagi didapati generasi muda saat ini ada yang tidak mengetahui seluk-beluk budaya asli Bumi Etam. Termasuk kondisi cagar budaya yang dianggap kurang maksimal dalam hal pemeliharaan. Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Rusman Yaqub menuturkan, pihaknya khawatir bila kebudayaan Kaltim terancam punah. [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/budaya-kaltim-terancam-punah/">Budaya Kaltim Terancam Punah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SAMARINDA – Kalah pamornya kebudayaan lokal dengan kebudayaan asing membuat DPRD Kaltim merasa prihatin. Apalagi didapati generasi muda saat ini ada yang tidak mengetahui seluk-beluk budaya asli Bumi Etam. Termasuk kondisi cagar budaya yang dianggap kurang maksimal dalam hal pemeliharaan.</p>
<p>Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Rusman Yaqub menuturkan, pihaknya khawatir bila kebudayaan Kaltim terancam punah. Hal ini bisa dilihat dari semakin minimnya pengetahuan anak-anak muda terhadap beragam kebudayaan asli Kaltim.</p>
<p>“Bahkan anak saya bertanya apa itu Jepen. Kan mengkhawatirkan kalau anak-anak kita tidak mengetahui kebudayaan daerahnya,” kata Rusman dalam rapat bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim beberapa hari lalu.</p>
<p>Untuk itu, Komisi IV meminta Disdikbud Kaltim untuk lebih memperhatikan kondisi kebudayaan Kaltim saat ini. Khususnya keberadaan cagar-cagar budaya yang kini semakin termakan zaman. Rusman meminta Disdikbud melakukan inventarisasi kebudayaan-kebudayaan Kaltim sehingga dapat diketahui langkah pemeliharaan yang perlu dilakukan.</p>
<p>“Silakan diinventarisir apa saja kebudayaan yang bisa dikembangkan menjadi potensi daerah. Tentunya kami di DPRD akan mendukung dan memperjuangkan penganggarannnya,” ujarnya.</p>
<p>Dia juga menyoroti manajemen museum dan makam  bersejarah di beberapa daerah di Kaltim yang dinilai tidak mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini, manajemen tersebut perlu untuk diperbarui dan disesuaikan dengan teknologi yang ada saat ini. Perubahan manajemen ini menurutnya perlu dilakukan agar kebudayaan tersebut dapat terus dipelihara dengan baik.</p>
<p>“Saya pernah menemukan buku tamu di museum yang dari dulu sampai sekarang tetap itu-itu saja. Malahan menurut saya, buku tamu itu juga sudah layak untuk dimuseumkan,” terang politisi PPP ini sambil berkelakar.</p>
<p>Senada dengan Rusman, anggota Komisi IV Rita Artaty Barito turut mengeluhkan semakin memudarnya kebudayaan Kaltim. Terutama mulai hilangnya pendidikan kebudayaan di sekolah-sekolah. Dia mencontohkan pembuatan kerajinan khas Kaltim seperti manik-manik yang dulu kerap dikreasikan para pelajar.</p>
<p>“Dulu ada pembuatan kalung dari manik-manik di sekolah. Sekarang kan sudah tidak ada. Nah, paling tidak kegiatan seperti ini diadakan lagi di sekolah. Sehingga anak-anak juga punya kegiatan positif, daripada mereka bergaul di luar yang tidak jelas,” ungkap Rita.</p>
<p>Karenanya, dia meminta di setiap SMA ada pembelajaran terkait kebudayaan-kebudayaan Kaltim. Salah satunya tentang kerajaan tertua yang ada di Muara Kaman. Informasi-informasi sejarah tentang kerajaan ini perlu untuk disampaikan dan diketahui secara luas, baik di kalangan pelajar maupun di masyarakat.</p>
<p>“Itu dulu yang utama. Karena seluruh dunia mengakui kerajaan itu ada. Sementara apa yang bisa kita tunjukkan dan kita sampaikan tentang kerajaan ini,” jelas legislator dari Partai Golkar ini.</p>
<p>Sementara itu Kepala Disdikbud Kaltim Dayang Budiati menanggapi positif permintaan DPRD Kaltim. Tentang usulan perubahan manajemen dan inventarisasi kebudayaan, pihaknya setuju dan bakal melakukannya dalam waktu dekat. Menurut Dayang, perubahan manajemen memang perlu dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman.</p>
<p>“Kami juga akan mengumpulkan kepala-kepala sekolah, untuk menginstruksikan agar pendidikan kebudayaan Kaltim dapat diberikan di sekolah. Pertama-tama kembali menghidupkan teater yang menjadi ciri khas masyarakat Kaltim,” urai Dayang.</p>
<p>Dalam hal pemeliharaan dan pelestarian budaya ini, sebenarnya Disdikbud telah memiliki serangkaian rencana program dan anggaran di 2018. Yaitu pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah, serta pengembangan nilai budaya seni dan film. Harapannya program dan anggarannya dapat masuk dalam APBD murni 2018.</p>
<p>Diakui Dayang, beberapa kebudayaan di Kaltim perlahan terancam punah. Baik kebudayaan yang bersifat fisik contohnya rumah adat maupun kebudayaan yang berupa seni pertunjukkan seperti tarian. Salah satunya yaitu tari Daling dari Berau.</p>
<p>“Tari Daling itu sudah hampir punah. Sudah saya sampaikan ke pemerintah daerah di sana tapi tidak direspon. Tari ini jangan sampai punah karena merupakan tarian kerajaan,” bebernya. <strong>(luk)</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/budaya-kaltim-terancam-punah/">Budaya Kaltim Terancam Punah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengurus Baru IKMB Dikukuhkan </title>
		<link>https://bontangpost.id/pengurus-baru-ikmb-dikukuhkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 May 2017 10:27:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[bontang]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan lokal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=12389</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Sinergi dengan Pemerintah, Siap Bantu Promosikan Budaya Nusantara BONTANG – Pengurus baru Ikatan Keluarga Minang Bontang (IKMB) resmi dibentuk dan dikukuhkan Minggu (7/5) kemarin. Bertempat di Lamin Makodim 0908/BTG Jalan Awang Long, Bontang Baru, pengukuhan paguyuban yang didalamnya menghimpun suku minang di Bontang itu turut dihadiri Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Wawali Basri Rase, [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/pengurus-baru-ikmb-dikukuhkan/">Pengurus Baru IKMB Dikukuhkan </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Sinergi dengan Pemerintah, Siap Bantu Promosikan Budaya Nusantara</p>
<p>BONTANG – Pengurus baru Ikatan Keluarga Minang Bontang (IKMB) resmi dibentuk dan dikukuhkan Minggu (7/5) kemarin. Bertempat di Lamin Makodim 0908/BTG Jalan Awang Long, Bontang Baru, pengukuhan paguyuban yang didalamnya menghimpun suku minang di Bontang itu turut dihadiri Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Wawali Basri Rase, Dandim 0908/BTG Letkol Inf Rio Akhmal Syahbana, Kapolres Bontang AKBP Andy Ervyn, Camat Bontang barat Sutrisno, Senior Manager Corporate Communication Badak LNG Hermansyah, serta Ketua Pengerak PKK Bontang Hapidah.</p>
<p>Asra, Ketua IKMB menuturkan, dengan terbentuknya pengurus baru IKMB periode 2017-2019 ini dia berharap, program-programnya selalu mendukung dan bersinergi dengan Pemkot Bontang. Adapun beberapa program kerjanya, diantaranya menyasar bidang sosial, peningkatan kerjasama antar paguyuban di Bontang, serta akan turut membantu mempromosikan budaya-budaya nusantara kepada masyarakat Bontang.</p>
<p>“Harapannya, semoga pengurus baru IKMB semakin kompak, sukses, dan semangatnya bisa membangkitkan program-program IKMB,” ujar pensiunan TNI itu.</p>
<p>Sementara itu, Dandim 0908/BTG Letkol Inf Rio Akhmal Syahbana yang juga sebagai Pembina IKMB menuturkan, diharapkan pengurus baru IKMB saat ini dapat membangkitkan kembali eksistensi paguyuban ini. Pasalnya, sudah dua tahun terakhir paguyuban ini sempat vakum. Dia juga berharap, keluarga besar minang yang ada di Bontang bisa turut memberikan kontribusi positif bagi pembangunan dan kemajuan Bontang.</p>
<p>Dandim Rio juga berpesan, meski warga minang di Bontang hidup dengan masyarakat yang berbeda suku, adat istiadat, dan budaya, namun bukan berarti hal itu merupakan sebuah perpecahan. Justru dengan perbedaan itulah, momentum sebagai ajang persatuan.</p>
<p>“Semuanya dimulai dengan komunikasi. Kalau komunikasi antar paguyuban terjalin dengan baik, tentu antar paguyuban akan terjalin peratuan,” jelasnya.</p>
<p>Wawali Basri Rase dalam sambutannya juga turut mengajak keluarga besar Minang Bontang untuk turut berperan aktif dan berkontribusi nyata dalam pembangunan Bontang sesuai dengan visi misi Bontang untuk mewujudkan <em>Green</em>, <em>Smart</em>, dan <em>Creative City</em>. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni pun juga turut mengajak pengurus baru IKMB untuk mensinergikan program-programnya dengan program Pemkot Bontang.</p>
<p>“Selamat bertugas untuk pengurus baru IKMB. Melalui momen Malapeh Taragak ini, warga Minang akan tetap menjadi masyarakat Bontang yang peduli dan turut membantu serta akan berpartisipasi untuk mewujudkan Kota Bontang yang lebih baik,” tukas Neni. (bbg/adv)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/pengurus-baru-ikmb-dikukuhkan/">Pengurus Baru IKMB Dikukuhkan </a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kutim Nominator Anugerah Kebudayaan</title>
		<link>https://bontangpost.id/kutim-nominator-anugerah-kebudayaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Apr 2017 04:20:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pemkab kutim]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[sanggata post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=11705</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Ismu-KB Pimpin Tim ke Jakarta, Presentasi Budaya Kutim JAKARTA- Komitmen duet kepemimpinan Bupati Kutim Ismunandar dan Wabup Kasmidi Bulang soal pengembangan kebudayaan tradisional sebagai kearifan lokal tidak perlu diragukan lagi. Buktinya saat Kabupaten Kutim diundang Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) untuk melakukan presentasi [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kutim-nominator-anugerah-kebudayaan/">Kutim Nominator Anugerah Kebudayaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Ismu-KB Pimpin Tim ke Jakarta, Presentasi Budaya Kutim</p>
<p>JAKARTA- Komitmen duet kepemimpinan Bupati Kutim Ismunandar dan Wabup Kasmidi Bulang soal pengembangan kebudayaan tradisional sebagai kearifan lokal tidak perlu diragukan lagi. Buktinya saat Kabupaten Kutim diundang Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) untuk melakukan presentasi sebagai nominator pemenang Anugerah Kabudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi Kategori Pemerintah Daerah 2017, Ismu-KB langsung turun tangan.</p>
<p>Diruang presentasi Lantai 11, Gedung E, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bupati banyak menjelaskankan potensi budaya tradisional asli dari Kutim. Tim yang dipimpin oleh Bupati dan Wabup ini menyertakan Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Iman Hidayat, Kadis Pariwisata Dwi Susilanto Gamawan, Mewakili Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kutim Padliansyah dan Hamdani, serta beberapa orang Anggota tim.</p>
<p>Presentasi Bupati jadi yang keempat, bergiliran setelah Kota Gorontalo, Kota Sawahlunto, Kota Banda Aceh. Disusul berikutnya Kabupaten Wakatobi. Sementara nominator lain yakni Kabupaten Wonosobo tidak hadir. Presentasi disaksikan oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramli serta tim juri. Kali ini, Ismu yang menjabat Ketua Dewan Kesenian Daerah Kutim memaparkan berbagai potensi kesenian dan kebudayaan tradisi masyarakat pedalaman serta pesisir.</p>
<p>&#8220;Meliputi komitmen Pemkab Kutim dalam melestarikan kebudayaan daerah. Antara lain pelestarian cagar alam dan budaya. Hingga Pemkab dukungan dalam melestarikan pesta adat Kutai Pelas Tanah dan pesta adat Lom Plai yang mewakili kebudayaan suku Kutai dan Dayak (suku asli Kutim),&#8221; jelas Ismu dan diaminkan oleh Wabup Kasmidi Bulang.</p>
<p>Presentasi pasangan Ismu-KB sangat diapresiasi oleh jajaran Dirjen terkait. Sebab hanya Kabupaten Kutim yang pada ajang ini dikawal oleh sepasang kepala daerahnya. Sementara daerah lain hanya mendelegasikan Walikotanya atau Wakil Walikotanya saja serta Kepala Dinas. (hms3)</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kutim-nominator-anugerah-kebudayaan/">Kutim Nominator Anugerah Kebudayaan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebudayaan Lokal Minim Perhatian</title>
		<link>https://bontangpost.id/kebudayaan-lokal-minim-perhatian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[BontangPost]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Apr 2017 10:33:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Sangatta Post]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://bontangpost.id/?p=10167</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; 100 Sanggar 18 Kecamatan Terancam Vakum  SANGATTA – Ketua Lembaga Pemilihan Kebudayaan Daerah (LPKD) Kutim, Halidin Katung menilai kebudayaan lokal dan wisata Kutim masih kurang diperhatikan. Buktinya pada tahun 2017 ini, tak sepeserpun anggaran yang dikucurkan kepada lembaga seni tersebut. Padahal, pihaknya perlu melakukan pembinaan kepada Lembaga Kebudayaan Daerah Kecamatan (LKDK) yang tersebar di 18 [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kebudayaan-lokal-minim-perhatian/">Kebudayaan Lokal Minim Perhatian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><strong>100 Sanggar 18 Kecamatan Terancam Vakum </strong></p>
<p><strong>SANGATTA – </strong>Ketua Lembaga Pemilihan Kebudayaan Daerah (LPKD) Kutim, Halidin Katung menilai kebudayaan lokal dan wisata Kutim masih kurang diperhatikan. Buktinya pada tahun 2017 ini, tak sepeserpun anggaran yang dikucurkan kepada lembaga seni tersebut. Padahal, pihaknya perlu melakukan pembinaan kepada Lembaga Kebudayaan Daerah Kecamatan (LKDK) yang tersebar di 18 kecamatan.</p>
<p>Parahnya, tidak hanya LPKD saja yang luput dari perhatian, Dewan Kesenian (DK) juga turut terabaikan. Bukan hanya pada tahun ini saja, akan tetapi sudah terjadi sejak 2016 lalu. Serupiahpun, DK tidak mendapatkan anggaran untuk melakukan pembinaan kepada pencinta seni lokal Kutim.</p>
<p>“Saya sebagai Ketua LPKD dan Ketua Harian Dewan Kesenian, sangat miris sekali melihat kesenian lokal kita. Karena kurang sekali diperhatikan. Dari tahun ke tahun mohon maaf, dana hibah semakin kecil ke kekebudayaan. Bahkan Dewan kesenian maupun LPKD tidak dapat satu senpun 2017 ini,” ujar Halidin.</p>
<p>Padahal dalam setiap tahun pihaknya kerap mengajukan permohonan kepada pemerintah. Meskipun begitu niat baik tersebut bertepuk sebelah tangan. Semua harapan sirna tanpa sebab. Karena tak satupun alasan mandeknya bantuan tersebut. Maka wajar, pihaknya mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memajukan kebudayaan, kesenian, dan wisata daerah.</p>
<p>“Kami pernah ajukan CSR.  Hingga saat ini enggak ada kabar. Ceritanya enggak ada detik ini. Kalau seperti ini bagaimana bisa kesenian, dan kebudayaan kita maju. Padahal potensi kita sangat besar sekali. Seperti binaan kami di Miau Baru. Di sana dalam satu desa ada 19 sanggar tari yang berdiri. Disana ada tarian, kehidupan sehari-hari, kuliner, dan cendramata. Itu semua perlu dikenalkan. Jika tidak ada anggaran, omong kosong bisa membina,” katanya.</p>
<p>Jika terus dibiarkan, maka dirinya khawatir kebudayaan dan seni yang dimiliki Kutim akan hilang dengan sendirinya. Dari binaan yang ada saat ini saja, pada tahun lalu sebanyak 100 lebih sanggar seni yang tersebar di Kutim.</p>
<p>“Jika memang diseriusi, daerah kita akan ramai, dan banyak dijumpai wisatawan lokal maupun mancanegara. Kita kaya akan budaya, kaya seni, dan kaya wisata. Tetapi semua itu masih jauh dari perhatian. Kami berharap kepada pemerintahan saat ini, bisa fokus juga kepada potensi lainnya. Jangan hanya bidang perkebunan saja,” harapnya. (dy)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://bontangpost.id/kebudayaan-lokal-minim-perhatian/">Kebudayaan Lokal Minim Perhatian</a> pertama kali tampil pada <a href="https://bontangpost.id">Bontang Post </a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
