BONTANG – Hutan Kota Wanatirta (HKW) menjadi salah satu pembahasan alot dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bontang 2012-2032. PT Pupuk Kaltim (PKT) selaku pemilik lahan menginginkan agar beberapa bagian tempat itu dijadikan perumahan.
Data yang diperoleh Bontang Post, dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pengelolaan Wanatirta mulai diseriusi pada 2004. Dibuktikan dengan pembentukan organisasi kerja Badan Pelaksana HKW, melalui SK Direksi PKT Nomor 49/DR/VII.2004 yang dikelurkan pada 20 Juli 2004.
Pada 2006, PKT melakukan presentasi pembangunan HKW. Dalam paparannya, disebutkan bahwa kondisi area tersebut telah terjadi degradasi kesuburan tanah. Ditambah pula terjadi perambahan dan alih fungsi menjadi pemukiman liar. Untuk itu, dilakukan penanaman dan pemagaran HKW agar tidak semakin dirambah.
Menurut Kasubid Konservasi dan Tata Lingkungan DLH Pujo Kunco, di bawah lahan hutan wanatirta seluas 315 hektare saat ini terdapat akuifer atau sumur bawah tanah. Seperti diketahui Kota Bontang saat ini bergantung dari sumur bawah tanah, untuk memenuhi kebutuhan air warga Bontang. “Bisa habis air kalau memang jadi alih fungsi lahan di wanatirta,” kata Pujo kepada wartawan.
Dijelaskan, saat ini sejumlah sumur bawah tanah di Kota Bontang dalam kondisi kritis. Hal itu berbanding terbalik dengan kebutuhan air Bontang yang terus meningkat tiap tahunnya. Sehingga, usulan Pupuk Kaltim agar wanatirta keluar dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) bakal berdampak terhadap kualitas dan kuantitas sumber air di Bontang.
Tak hanya itu, di lokasi Wanatirta terdapat keberagaman hayati yang telah hidup dan berkembang biak di sana. Terdapat ratusan ribuan tanaman langka yang tidak ditemui di lokasi lain di Kaltim.
Di dalam dokumen perencanaan Wanatirta, pihak PKT menanam lebih 700 pohon ulin, dan 300 meranti merah khas Kalimantan serta ribuan jenis pohon langka lainnya.
Habitat dari wanatirta sendiri saat ini sudah ideal, sejumlah satwa liar dan langka telah hidup dan bergantung dari lahan hijau tersebut. Untuk membentuk suatu ekosistem yang ideal seperti itu sangat sulit.
“Jadi sulit sekali untuk membentuk ekosistem yang ideal, walaupun di lahan lain lebih banyak pohonnya. Tidak menjamin ekosistem bisa terbentuk di situ,” kata Pujo.
Selain itu, lokasi wanatirta juga merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan hijau di Bontang. Sebagai kota industri, sudah sewajarnya Bontang memiliki daerah hijau yang cukup luas untuk menangkal radiasi dari limbah industri melalui udara dan lainnya. (*/nug)







