BONTANGPOST.ID, Bontang – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang terus mendorong perpustakaan sekolah agar berkembang menjadi pusat literasi digital yang modern, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Kepala DPK Bontang Retno Febriaryanti, mengatakan pengembangan perpustakaan tidak hanya berfokus pada koleksi buku, tetapi juga membutuhkan dukungan regulasi yang kuat, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta penguatan akreditasi perpustakaan.
“Kota Bontang telah memiliki Perda Nomor 3 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan. Salah satu poin pentingnya adalah mendorong setiap siswa membaca minimal tiga buku setiap tahun,” ujarnya dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Gedung Mini Teater DPK Bontang, Selasa (5/5/2026).
Menurut Retno, kebijakan tersebut menjadi tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama yang harus kita wujudkan melalui kerja sama seluruh pihak,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kegiatan literasi sebenarnya telah berjalan rutin di sekolah-sekolah. Namun, masih diperlukan penguatan agar dampaknya lebih maksimal terhadap peningkatan kualitas dan kecerdasan peserta didik.
“Literasi di sekolah sudah berjalan setiap hari. Tetapi untuk meningkatkan kualitas dan dampaknya, perlu dukungan melalui akreditasi perpustakaan,” jelasnya.
Selain itu, Retno juga menyoroti keterbatasan tenaga pustakawan yang masih menjadi tantangan dalam pengelolaan perpustakaan sekolah.
“Saat ini sebagian besar tenaga perpustakaan masih merangkap tugas, sehingga belum bisa fokus secara optimal,” ungkapnya.
Karena itu, DPK berharap ke depan tersedia formasi khusus pustakawan agar pengelolaan perpustakaan dapat berjalan lebih profesional dan terarah.
“Kami berharap ada perhatian terhadap penyediaan tenaga profesional pustakawan,” katanya.
DPK Bontang optimistis penguatan regulasi, SDM, dan akreditasi akan mampu mendorong perpustakaan sekolah menjadi pusat literasi digital yang lebih modern dan relevan bagi generasi muda. (*)







