BONTANG – Badak LNG menggelar Sertifikasi Operator Pesawat Angkat (Rigger) kerjasama Badak LNG dengan LSP PTT Migas Cepu. Dilaksanakan selama tiga hari, 3-5 Oktober. Diikuti sebanyak 35 peserta dari Ikatan Pekerja Rigger dan Operator Crane (IPROC) serta mitra kerja Badak LNG.
Tampak hadir dalam pembukaan tersebut, Director & COO Badak LNG Yhenda Permana beserta jajaran Management Badak LNG, Kepala Dinas Penanaman Modal, Tenaga Kerja, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMTK-PTSP) diwakili Kabid Pelatihan, Produktivitas, dan Penempatan Tenaga Kerja, Ikhwan Agus, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissos-P3M) Abdu Safa Muha, Ketua IPROC Darlan Laelang, serta para instruktur dari LSP PTT Migas Cepu.
Yhenda Permana dalam sambutannya mengatakan bicara mengenai rigger, pasti bukan seukuran mobil, mini bus, atau truk, namun jauh lebih besar. Bahaya atau risiko yang ditimbulkan juga akan lebih besar. Sehingga, surat izin mengemudi (SIM) bagi operator bukan menggunakan SIM A, B, C, dan lainnya, tetapi khusus SIM operator craine. Terlebih dulu harus melalui berbagai tahapan ujian, keterampilan, dan pengalaman.
Pelatihan ini mendatangkan tiga instruktur dari LSP PTT Migas Cepu, diantaranya Murdiono, Heri Tamtomo, dan Adi Susilo. Tujuan Badak LNG menggelar kegiatan ini agar PT Badak NGL dapat terus maju bersama masyarakat yang juga sebagai moto perusahaan. PT Badak NGL ingin keberadaannya di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), dan Indonesia dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ini saatnya para peserta mengasah keterampilannya agar lebih maju lagi, sehingga bisa mendapatkan sertifikasi dari badan yang ditunjuk oleh negara. Perlu diketahui, LSP PTT Migas Cepu telah berstandar Komite Akreditasi Nasional dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Seperti yang diketahui, di Kaltim ini merupakan daerah kilang pabrik atau industri migas maupun pertambangan. Sehingga, operator craine ini betul-betul dibutuhkan di dalam operasional sehari-hari,” ucap Yhenda.
Ia pun mengucapkan terima kasih kepada IPROC dan Pemerintah Kota Bontang yang telah memberikan dukungan kepada kegiatan ini. Juga kepada LSP PTT Migas Cepu atas kedatangannya di Kota Bontang.
Kepada peserta, ia memberikan dukungan agar dapat mengikuti pelatihan Serifikasi Operator Pesawat Angkat dengan cermat. “Belajar sungguh-sungguh pada kesempatan ini. Sertifikasi sangat diakui di Indonesia maupun di luar negeri. Jika bapak-bapak sudah punya sertifikat, akan lebih mudah dalam mencari pekerjaan. Dalam tiga hari, akan ada ujian tulis dan praktik. Konsentrasi, ikuti teori, praktik, dan lainnya dengan baik,” harapnya.
Sementara itu, Ikhwan Agus menjelaskan sertifikasi operator pesawat angkat merupakan langkah awal untuk dapat memulai pekerjaan. Ia memastikan, para pencari kerja (pencaker) Kota Bontang, kini tak kesulitan dalam mencari kerja. Satu pintu melalui DPMTK-PTSP. Agus pun memastikan, tidak memasukkan tenaga kerja dari luar Kota Bontang.
“Semua bisa melakukan pekerjaan tapi kalau beli bersertifikasi maka belum diakui. Seperti, banyak orang bisa mengemudi tapi tidak punya SIM, tetap tidak boleh membawa mobil. Bahkan, dapat menyuplai tenaga kerja Bontang untuk wilayah di Kalimantan lainnya sesuai kebutuhan,” tambah Agus.
Terima kasih kepada Management Badak LNG telah mengadakan kegiatan yang sangat penting dan dibutuhkan para pekerja. Sebab, ini adalah pintu masuk untuk ke dunia kerja di seluruh wilayah Indonesia maupun luar negeri.
Ditempat sama, Darlan Laelang menerangkan IPROC terbentuk sejak 2010 lalu dan pertama kalinya mengikuti sertifikasi dari LSP PTT Migas Cepu. Namun, sebelumnya, sertifikasi keluaran Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (kini menjadi DPMTK-PTSP) sering diikuti IPROC.
“Saya harapkan, anggota IPROC dapat mengikuti materi yang diberikan oleh instruktur dari Cepu selama tiga hari. Jika ada bahasa asing tidak dimengerti, dapat ditanyakan langsung. Karena sebagian kecil peserta adalah pemula,” ucapnya. (ra/adv)







