Kawasan Konservasi Mangrove di Saleba
BONTANG – Satu lagi destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Kota Taman yakni Bontang Mangrove Park (BMP) Saleba. Namun, BMP baru bisa dikunjungi di bulan Januari 2018 mendatang. Karena masuk kawasan konservasi Taman Nasional Kutai (TNK) diharapkan pengunjung bisa menjaga kelestarian yang ada di dalamnya dengan tidak merusak dan tidak membuang sampah sembarangan.
Kepala TNK, Nurpatria mengatakan bahwa BMP merupakan bagian dari destinasi baru TNK yang ada di Bontang. Pasalnya, TNK dibagi 2 kabupaten dan 1 kota yakni Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang. “Kebetulan yang di Bontang, kawasan Taman Nasional itu adanya di mangrove Saleba seluas 290 hektare,” kata Nur.
Menurut Nur, destinasi BMP ini cukup berbeda karena masuk kawasan konservasi. Di mana ada 3 hal penting yakni perlindungan sistem penjaga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya, serta pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam dan sekitarnya. “Design-nya ini sampai 2019, tetapi di 2018 masyarakat sudah bisa menikmati kegiatan wisata alam. Tetapi basisnya tetap konservasi, edukasi, rekreasi dan kesehatan,” ungkap dia.
Untuk membuat multiplier effect-nya, Nur menyatakan akan berkolaborasi dengan warga sekitar untuk diberdayakan. Misalnya BMP nanti akan dilengkapi dengan tempat penjual kuliner dan souvenir khas Bontang. Tetapi masyarakat sekitar yang bisa menikmati bukan dari luar wilayah Saleba.
Adapun didalam BMP tersebut, saat ini masih proses pembangunan. Nur mengatakan BMP ini disertai footwalk sepanjang 1,3 kilometer dengan salah satu jembatan di tengah wilayahnya yang tentu semakin mempercantik kawasan konservasi mangrove tersebut. Terdapat pula menara yang bisa dinaiki oleh pengunjung setinggi 20 meter untuk melihat pemandangan yang indah dari atas. Untuk edukasinya, akan dijelaskan semua jenis pohon mangrove beserta manfaatnya. “Kami juga melengkapi dengan shelter-shelter untuk tempat beristirahat,” ujarnya.
Untuk pendanaannya, Nur mengatakan BMP dibangun menggunakan dana APBN senilai Rp 2,3 miliar untuk tahun ini. Sementara tahun depan dan tahun 2019 belum dipastikan anggaran yang digelontorkan. Selain itu, ada beberapa CSR dari perusahaan dan stakeholder yang ada di Bontang dan Kutim. “Prinsipnya adalah untuk gotong royong dan masyarakat merasakan manfaatnya dengan adanya Taman Nasional, progresnya saat ini sudah 90 persen,” terang dia.
Nur menyatakan saat ini diharapkan pengunjung bersabar jika ingin berwisata ke BMP. Mengingat kondisinya yang belum rampung dan masih pembangunan. Karena dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan jika masyarakat memaksa untuk mengunjunginya. “Masih ada tukang yang bekerja, kalau banyak pengunjung tukang bisa terganggu dan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan, siapa yang akan bertanggungjawab? Sehingga kami mohon bersabar, bukan ditutup tetapi ada waktunya,” ujarnya.
Sesuai ketentuan PP RI nomor 12 tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan negara Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Kehutanan, Nur menyatakan untuk masuk ke BMP akan ditarik retribusi berupa karcis dengan harga Rp 5 ribu hari kerja dan Rp 7.500 hari libur bagi pengunjung lokal. Sementara pengunjung internasional dikenakan tarif Rp 150 ribu hari kerja dan Rp 225 ribu untuk hari libur. “Uang itu nantinya langsung masuk kas negara, bukan untuk TNK,” tutupnya. (mga)








