BONTANG – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Bontang menyambut baik usulan 10 persen soal esai pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang akan segera diterapkan oleh pemerintah. Pasalnya, soal esai bisa membentuk para pelajar menjadi generasi pemikir, generasi kritis, dan generasi yang inovatif.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua PGRI Cabang Bontang, Dasuki. Dikatakan dia, bahwa sesungguhnya kebijakan tersebut sudah ditunggu sejak lama oleh para pemerhati pendidikan. Mengingat pentingnya membentuk generasi-generasi yang kritis, pemikir dan inovatif. “Bukan generasi penghafal yang hanya melakukan hafalan soal-soal pilihan ganda,” jelas Ketua Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Bontang itu, Jumat (12/1) kemarin.
Lebih lanjut Dasuki menjelaskan, bahwa soal pilihan ganda akan membawa peserta didik terjebak pada menghafal soal. Tak hanya itu, sekolah dan guru sibuk melakukan bimbingan belajar (Bimbel) dengan pendekatan pembahasan soal-soal pilihan ganda. “Jadi bukan lagi menghafal pelajaran tetapi malah soal dan jawaban yang mereka hafalkan,” ujarnya.
Oleh karena itu PGRI Bontang ikut mendorong kebijakan soal esai pada USBN yang tentu dilaksanakan secara bertahap. “Saya mengajak guru dan sekolah untuk secara sadar mempersiapkan anak didiknya agar bisa berpikir kritis dan inovatif. Karena sesungguhnya pendidikan itu adalah how to learn, how to do, how to be dan how to live to gether,”ungkapnya.
Kebijakan 10 persen soal USBN berbentuk esai tersebut dituturkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi yang ditujukan agar siswa bisa beradaptasi dengan model soal baru yang selama ini semuanya pilihan ganda. Soal esai juga bisa menaikan secara bertahap standar evaluasi dan standar kompetensi siswa. Sehingga para siswa bisa memiliki kemampuan 4 C. yakni critical thinking, collaboration, communication skill, dan creativity and innovation.(mga)







