SANGATTA – Komiditi aren gajah mulai dilirik untuk dikembangkan para petani di Kutim. Tanaman yang disebut-sebut hanya terdapat di Kutim ini bakal dijadikan salah satu komoditi andalan.
Sekretaris Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim Kasiyanto menjelaskan, aren gajah bisa menjadi salah satu pilihan karena pasar yang luas di Indonesia. Apalagi tanaman ini satu-satunya di Indonesia.
“Jika harga sawit turun aren gejah bisa jadi penyokongnya. Aren genjah ini juga langka, hanya di Kutim yang punya. Kini bibitnya kita kembangkan di Desa Kolek Kecamatan Sangkulirang di atas lahan 5 hektare,” ujar pria berkacama mata ini di Kantornya belum lama ini.
Dia menambahkan, hasil dari menanam aren gajah juga cukup menjanjikan, karena jarak panen yang tak begitu panjang. Aren gajah sudah bisa dipanen setelah empat tahun. Satu pohonnya bisa menghasilkan 13 liter nira. Kemudian produk turunannya juga banyak, diantara Brown Suger atau gula merah, alcohol medis, hingga bahan bakar pertamax.
“1 hektare bisa ditanami 205 pohon, bayangkan jika 1 pohon 13 liter dan per liter diharga Rp 3.000. saja, saudara hitung aja sendiri, kurang lebih Rp 3 juta per bulan,” terangnya.
Aren genjah asal kutim pertama kali ditemukan di Kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) lalu diambil sampel dan dikembangkan. Aren Genjah ini berbeda dari Aren pada umumnya. Perbedaanya mulai dari jarak tanam hingga jangka waktu panen. Jika aren dalam jarak tanam dari satu pohon ke pohon lainnya mencapai 7 hingga 8 meter, tetapi tidak dengan arena genjah kutim yang hanya butuh 3 hingga 4 meter sehingga dapat menghemat lahan. Selanjutnya jika aren biasa dipanen menunggu 8 hingga 12 tahun, aren genjah hanya butuh waktu 4 hingga 7 tahun. (hd)






