• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

Lumbung Itu Tidak Untuk Ayam

by BontangPost
7 April 2018, 09:15
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Share on FacebookShare on Twitter

Berita ini kurang baik. Kilang kebanggaan anak bangsa ini tutup. Tidak terlalu menarik perhatian media, tapi mengusik perhatian saya. Lokasi kilangnya di pusat pengeboran minyak Cepu.

Namanya Cepu tapi wilayahnya Bojonegoro. Saya pernah mengunjunginya.

Saya pikir inilah ayam yang bertelur di lumbung padi. Tidak menyangka. Empat tahun kemudian ayam itu mati.

Berita media tidak terlalu lengkap. Tidak dalam. Menyisakan banyak sekali pertanyaan.

Saya cari nomor HP penggagas kilang ini: Rudy Tavinos. Anak Padang lulusan kimia ITB (1989). “Anak Padang” kelahiran Banjarmasin.

Sungguh saya ingin tahu lebih banyak. Tapi sampai tulisan ini harus terbit belum ada jawaban darinya.

Waktu itu saya sungguh tertarik dengan konsep kilang ini. Kilang pertama yang sepenuhnya didesain oleh anak bangsa. Ya si Rudy itu.

Juga kilang pertama yang ukurannya kecil: 8.000 barel. Kecil tapi desainnya dibuat modular. Kalau kebutuhan lebih besar bisa ditambah modul kedua. Ketiga. Keempat. Dan seterusnya.

Maka ketika kilang itu diberitakan mati saya kaget. Padahal sudah sempat dikembangkan modul kedua.

Ide kilang ini saya anggap brilian: dibangun di dekat sumur minyak.

Dengan demikian tidak perlulah minyak mentah diangkut ke sana ke mari.

Dikumpulkan dulu dari berbagai lapangan. Agar mencapai jumlah tertentu. Baru dikirim ke pengilangan. Padahal kilangnya jauh sekali. Harus di pinggir laut.

Baca Juga:  Ideologi Republik dari Kansas

Ada minyak mentah yang harus dikirim ke kilang “terdekat” dengan kapal laut. Tanker. Atau dikirim dengan pipa ratusan kilometer. Pastilah biayanya lebih mahal.

Kilang kreasi Rudy ini bisa dibilang ‘kilang mulut tambang’. IRR-nya pasti lebih baik. IRR adalah rumus perhitungan waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal.

Pengusaha biasanya tertarik kepada bisnis yang IRR-nya di atas 14. Modal bisa kembali dalam waktu 5 tahun.

Untuk mewujudkan idenya itu Rudy menggandeng PT TWU. Milik temannya. Jadilah kilang itu populer dengan nama kilang TWU. Belakangan uangnya tidak cukup. Diundanglah Saritoga. Perusahaan keuangan milik grupnya Sandiaga Uno. Yang sekarang menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta Raya. Saratoga memegang saham 70 persen.

Kilang ini memang kecil. Tidak seperti Balongan yang raksasa. Yang bisa sampai 125.000 barel. Hukum membangun kilang memang begitu: harus besar.

Setidaknya dua kali Balongan. Bisa lebih efisien. Namun biayanya juga gajah bengkak: Rp 100 triliun. Sekitar itu.

Mencari pinjaman Rp 100 triliun tidaklah mudah. Apalagi menyediakan modal sendiri. Apalagi IRR untuk sebuah refinery besar kurang dari 10. Tidak menarik. Secara bisnis.

Akibatnya rencana membangun kilang selalu gagal. Oleh pemerintah lama maupun baru. BBM impor terus. Terutama dari Singapura.

Baca Juga:  Dag Dig Dug Pemilu Malaysia

Jadilah kilang Balongan sebagai kilang terakhir yang pernah berhasil dibangun. Dan itu di zaman Pak Harto.

Sampailah ada pemikiran dari Rudy itu: mengapa harus besar? Tapi tidak pernah terbangun? Mengapa tidak kecil-kecil saja? Tapi bisa menjadi kenyataan? Agar impor BBM berkurang?

Rudy punya pengalaman yang panjang. Di LNG Arun. Di LNG Badak, Bontang. Di perusahaan minyak Arab Saudi.

Tentu Rudy dihadapkan pada tesis efisiensi. Dia tahu itu. Tapi dia bisa mengatasinya dengan desainnya. Termasuk bagaimana merangkai kilang dengan resep tertentu. Agar modal yang diperlukan tidak besar. Agar IRR-nya baik. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh swasta seperi Rudy.

Kalau “cara Rudy” itu dilakukan oleh BUMN, seperti Pertamina, misalnya, akan bisa dianggap korupsi.

Saat lapangan Exxon Cepu berada di tahap awal pengeboran saat itu pula kilang Rudy jadi. Minyak mentah itu dia olah jadi solar. Dan empat jenis hasil lainnya.

Seluruh produksi sumur Exxon diolah di kilang Rudy. Saat produksi minyak naik Rudy membangun modul kedua. Lebih 200 karyawan bekerja di sana.

Memang kilang Rudy tidak akan mampu menyerap semua produksi minyak Exxon Cepu. Saat kemampuan produksinya mencapai puncaknya. Exxon harus kirim ke kilang besar. Untuk itu dibangunlah pipa besar. Sejauh hampir 100 km. Dari lokasi sumur ke tengah laut. Di utara Tuban.

Baca Juga:  Asyik Nonton, Lupa Jualan

Pelabuhan minyak itu memang dibangun di atas laut. Bukan di pantai. Untuk mendapat kedalaman 16 meter. Begitu jauhnya sampai tidak kelihatan dari darat.

Dan lagi, itu tidak bisa disebut pelabuhan. Tidak ada bangunan dermaganya. Hanya tonggak sandar.

Di situlah kapal pengangkut minyak mentah menerima kiriman crude dari sumur Cepu. Dikirim ke kilang besar. Termasuk ke Balongan.

Begitu fasilitas tersebut jadi keluarlah aturan pemerintah. Tidak boleh lagi jual minyak mentah di mulut tambang. Kalau kilang Rudy ingin mendapat minyak mentah juga harus membelinya di mulut pipa. Yang di tengah laut itu.

Lalu diangkut dengan kapal ke pantai. Lalu diangkut lagi dengan truk. Ke kilang Rudy di mulut tambang.

Dengan demikian Rudy harus membeli minyak mentah lebih mahal. Biaya pipa ke tengah laut harus dia tanggung. Ditambah biaya kapal dan angkutan truk.

Rudy menyerah. Kilang itu terpaksa tutup. Lebih dari 200 karyawannya tidak bisa lagi bekerja. Lumbung itu ternyata tidak untuk ayam.(dis)

Tags: catatan dahlan iksan
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Pakai Sabu, Petani Diciduk Polisi

Next Post

Potensi Pariwisata Kutim Ratusan Tapi Kurang Promosi dan Dukungan

Related Posts

Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dag Dig Dug Pemilu Malaysia

9 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Manufacturing Hope

8 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Adu Kuat Kereta Cepat

4 Mei 2018, 09:15
Obat #Stress2019 Ala Shanghai
Dahlan Iskan

Obat #Stress2019 Ala Shanghai

3 Mei 2018, 09:15
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Problem Bule Baca Disway

2 Mei 2018, 09:15
Ideologi Republik dari Kansas
Dahlan Iskan

Ideologi Republik dari Kansas

1 Mei 2018, 09:15

Terpopuler

  • 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terbukti Cabutan dari Luar Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Berharap Masuk Daftar Penerima Tambahan Dana Rp20,5 Triliun dari Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ragam Alasan Masyarakat Pilih Golput

    2 shares
    Share 2 Tweet 0
  • Berpura-pura Belanja, Komplotan Pencuri Gasak Tas Berisi Emas 200 Gram dan Rp30 Juta di Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bontang Absen di Singa Cup

    1 shares
    Share 1 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.