SAMARINDA – Harga sejumlah barang-barang kebutuhan pokok di Pasar Segiri tergolong aman. Mulai mengalami penurunan H+5 setelah Idulfitri. Hanya saja, barang-barang tersebut masih minim stok dikarenakan masih libur Lebaran.
Hal ini diakui Nizar, salah seorang penjual sembako di Pasar Segiri. Ia mengatakan bahwa harga barang relatif normal dan mulai mengalami penurunan, tapi pasokan dari luar daerah berkurang. “Yang biasanya kami bisa kirim 5 ton barang, sekarang hanya sekira 2 ton. Karena kapal-kpal lebih fokus melayani arus balik,” ujarnya, Rabu (20/6) kemarin.
Menurut pantauan media ini, harga beberapa kebutuhan pokok memang mulai mengalami penurunan. Seperti harga bawang merah yang saat ini Rp 35 ribu per kg, bawang putih Rp 30 ribu per kg. Harga cabai juga sudah mulai turun. Sebelum Idulfitri mencapai Rp 60 ribu per kg, sekarang hanya Rp 45 ribu per kg.
Monitor yang dipasang di Pasar Segiri mewartakan harga beberapa barang kebutuhan pokok. Hanya saja terdapat sedikit selisih harga yang ditampilkan. Seperti harga daging sapi, di monitor tertera harga Rp 120 ribu. Namun pedagang mematok harga Rp 125 ribu per kg.
Begitu pula harga daging ayam, di monitor tertera harga Rp 30 ribu per kg. Namun pedagang menjual dengan harga Rp 35 ribu hingga Rp 65 ribu per ekornya tergantung ukuran. Meski begitu harga-harga tersebut tidak terlalu berbeda dengan yang ditampilkan di layar monitor. Hanya berbeda sekira Rp 5 ribu rupiah.
Adi, salah seorang penjual daging sapi pun mengatakan hal yang sama. Harga daging sapi sudah mulai turun, namun sempat mengalami kekosongan selama lebaran kemarin. Dia mengatakan hal ini terjadi karena hampir seluruh stok daging yang dijual berasal dari peternak lokal di Kaltim. Sehingga pasokan terkadang tidak menentu. “Seperti dua hari lalu, pasokan daging kosong,” ungkap Adi.
Sementara itu salah seorang penjual makanan di Jalan Pramuka, Sri menyesalkan para pedagang yang suka mempermainkan harga ketika momen-momen tertentu seperti lebaran. “Dengan alasan pasokan sedang kurang, harga barang jadi melambung tinggi,” ujar Sri.
Dia menuturkan, hal seperti ini kerap terjadi apalagi seperti momen lebaran kemarin. Harga bawang menjadi mahal, padahal orang-orang pasti membuat bumbu untuk masakan di hari raya Idulfitri. “Orang pasti mau tidak mau beli, walaupun harga bawang dan daging mahal. Soalnya orang kan juga perlu,” tandasnya. (*/dev)







