• Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak
Bontang Post
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE
No Result
View All Result
Bontang Post
No Result
View All Result
Home Catatan Dahlan Iskan

737 MAX8

by M Zulfikar Akbar
14 Maret 2019, 09:26
in Dahlan Iskan
Reading Time: 3 mins read
0
DAHLAN ISKAN

DAHLAN ISKAN

Share on FacebookShare on Twitter

Ada berita menarik tapi tidak penting: pesawat Saudi balik ke landasan.

Ada berita penting tapi juga menarik: jatuhnya pesawat Ethiopia.

Yang di Saudi Arabia itu benar-benar lucu. Pesawat sudah meninggalkan landasan Jeddah. Sudah di angkasa. Menuju Kuala Lumpur, Malaysia.

Tiba-tiba seorang penumpang histeris. Wanita. Dia memberitahu awak pesawat: bayinya ketinggalan di ruang tunggu.

Sang pramugari segera melapor ke pilot. Pilot mengontak tower di darat: minta ijin pesawatnya kembali ke landasan.

Terjadilah pembicaraan radio. Yang rekamannya disiarkan kantor berita internasional. Yang berisi keprihatinan: bagaimana bisa seorang ibu lupa bayinya.

Memang tidak disiarkan identitas si penumpang. Pun detail lainnya. Tapi benar-benar baru sekali ini terjadi: penumpang ketinggalan bayinya. Padahal bukankah bayi pun harus punya boarding pass?

Berita itu tenggelam oleh berita besar. Di hari yang sama. Begitulah hukumnya: berita kecil kalah dengan berita besar. Yang besar kalah dengan yang lebih besar.

Yakni jatuhnya pesawat Ethiopia. Serba mirip dengan jatuhnya Lion di Indonesia. Lima bulan lalu. Sama-sama baru take off sekitar 5 menit. Sama-sama punya problem untuk mencapai ketinggian.

Baca Juga:  Suntikan Ekonomi Dua Ribu Triliun

Jenis pesawatnya sama: Boeing 737 MAX8. Yang dirancang paling canggih. Dengan keunggulan utamanya: lebih hemat bahan bakar.

Persaingan pesawat adalah persaingan bahan bakar. Merpati pernah mengalami kekalahan efisien ini. Problemnya: punya banyak pesawat MA. Bikinan Tiongkok. Dari pabriknya di Xian. Sangat boros bahan bakar. Kian diterbangkan kian menyebabkan rugi. Biaya bahan bakarnya per penumpang per kilometer 16 cent dolar. Padahal ATR bisa hanya 9 cent dolar per penumpang per kilometer.

Angka itu tidak tepat benar. Tapi kira-kira begitulah perbandingan efisiensinya.

Garuda kini juga punya problem yang mirip. Untuk beberapa pesawat jet jenis Bombardiernya.

Boleh dikata jenis Bombardier ini terjepit: ke atas kalah efisien dengan armada 737. Ke bawah kalah efisien dengan ATR.

ATR kini jadi bintang efisien di kelas baling-baling. Boeing 777 menjadi bintang efisiensi di kelas pesawat berbadan besar. Dan 737 MAX8 bintang efisiensi di kelas menengah.

Lion Air tahu perhitungan seperti itu.

Karena itu yang banyak dibeli Lion adalah jenis 737 dan ATR. Pun saat Boeing 737 MAX8 diluncurkan Lion menjadi pemesan pertamanya.

Baca Juga:  Sopir Taksi Maksi

Tiongkok juga memesan sangat banyak. Lebih dari 1000 pesawat. Yang sudah dikirim 96 pesawat. Jumlah yang dibeli Tiongkok itu sudah seperempat dunia.

Semua itu kini dilarang terbang. Yang melarang adalah otoritas penerbangan di Tiongkok, CAAC. Keputusan itu diambil hanya beberapa jam setelah pesawat jenis tersebut jatuh di Ethiopia. Di saat penyebab kecelakaan Lion belum dijelaskan detailnya.

Keputusan Tiongkok itu ternyata menyengat Amerika. Otoritas penerbangan Amerika, FAA, justru mengeluarkan pernyataan sebaliknya. Hanya beberapa jam setelah keputusan Tiongkok itu. Isinya: pesawat jenis yang jatuh itu sangat layak terbang.

Tapi hanya Amerika yang tetap tidak melarang 737 MAX8 terbang. Banyak negara lain  segera mengikuti langkah Tiongkok: Indonesia, Maroko, Singapura, Korsel.

Bahkan belakangan juga Inggris dan Eropa. Sekutu utama Amerika.

Kecelakaan Ethiopia itu meluas ke masalah otoritas dunia. Keputusan Tiongkok itu dianggap sama dengan pembangkangan.

Kini Tiongkok seperti mengatakan “FAA kini bukanlah satu-satunya otoritas dunia untuk bidang penerbangan”.

CAAC terus mempersoalkan: mengapa sampai sekarang  Boeing belum memberikan keterangan detail. Khususnya mengenai software kepilotan di pesawat tersebut.

Baca Juga:  Tiga Hotel Tiga Malam

Tapi FAA tetap teguh: tidak ada dasar untuk meminta pesawat jenis itu tidak boleh terbang. Ini berarti ‘fatwa’ FAA itu tidak didengar lagi. Setidaknya oleh 45 negara.

Tinggal enam negara yang masih mengizinkan terbang: Amerika, Kanada, Thailand, Panama, Mauritania.

Beberapa tokoh politik Amerika lantas angkat bicara. Tidak setuju dengan FAA. Mereka menyerukan agar pesawat sejenis jangan diterangkan dulu. Bahkan Presiden Donald Trump unggah twitter: sekarang ini teknologi pesawat sudah berkembang terlalu jauh dan terlalu kompleks untuk menerbangkannya.

“Sekarang ini pilot sudah tidak diperlukan. Sudah diganti komputer dari MIT,” tulisnya.

Sampai kemarin belum ada respons memadai dari Boeing. Tapi bukan berarti tidak ada perhatian. Boeing pernah mengumumkan akan memperbaharui software di pesawat tersebut. Yang rencananya akan diluncurkan  April bulan depan.

Boeing memang tidak mudah merespons dua kecelakaan tersebut. Bisa berakibat ke tuntutan hukum. Sekarang saja harga saham Boeing sudah turun 15 persen.

Sambil menunggu software baru, kita bisa lebih keras dalam berdoa. (dis)

Print Friendly, PDF & Email
Tags: dahlan iskandis way
ShareTweetSendShare

Bergabung dengan WhatsApp Grup Bontang Post untuk mendapatkan informasi terbaru: Klik di Sini. Simak berita menarik bontangpost.id lainnya di Google News.

Ikuti berita-berita terkini dari bontangpost.id dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini:


Previous Post

Tamasya, Sekeluarga Akhirnya Habis

Next Post

Mbak Tutut: Saya Akan Dampingi Transmigran Memajukan Bangsa Ini

Related Posts

Menang Nirkuasa
Dahlan Iskan

Menang Nirkuasa

10 Mei 2019, 06:17
Bagaimana Menjaring Orang Mampu
Dahlan Iskan

Dokter Cerai

9 Mei 2019, 06:00
Kursi Roda
Dahlan Iskan

Kursi Roda

7 Mei 2019, 06:43
37 Derajat
Dahlan Iskan

37 Derajat

6 Mei 2019, 05:57
Orang Suci
Dahlan Iskan

Orang Suci

5 Mei 2019, 12:01
Jantung Bocor
Dahlan Iskan

Jantung Bocor

4 Mei 2019, 13:05

Terpopuler

  • Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    Residivis Kekerasan Seksual Anak di Bontang Kembali Berulah, 4 Orang Diduga Jadi Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satpolairud Polres Bontang Bongkar Jaringan Sabu di Tanjung Laut Indah, Tiga Orang Diringkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ini Jadwal Lengkap Kapal dari Pelabuhan Loktuan Bontang Selama Mei, Ada Pelni dan Swasta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masuk Aturan KTR, Vape Tak Lagi Boleh Dihisap di Tempat Umum Bontang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ironi Pajak Walet Bontang: Bangunan Ratusan, Setoran Nol

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Kategori

Arsip

  • Indeks Berita
  • Redaksi
  • Mitra
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Kontak

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.

No Result
View All Result
  • Home
  • Bontang
  • Kaltim
  • Nasional
  • Advertorial
    • Advertorial
    • Pemkot Bontang
    • DPRD Bontang
  • Ragam
    • Infografis
    • Internasional
    • Olahraga
    • Feature
    • Resep
    • Lensa
  • LIVE

© 2020 Bontangpost.id - Developed by Vision Web Development.