bontangpost.id – Amin, bukan nama sebenarnya, gundah. Lokasi yang biasanya dipakai sebagai tempat berjualan ikan yakni di samping bangunan Pasar Taman Rawa Indah (Tamrin) mendadak disterilkan oleh pihak pengelola pasar. Bentuknya dengan memasang pita berwarna merah menutupi area itu.
Alhasil, ia berpindah ke salah satu titik di Jalan KS Tubun. Bukan sebuah kios beratap. Namun di tepi jalan. Satu meja, satu kursi, dan sebuah payung menemani tiap harinya.
“Tanggal 12 Juli lalu saya digusur sehingga akhirnya berpindah ke sini,” kata Amin.
Ia mengaku tidak mendapat jatah lapak di bangunan baru Pasar Tamrin. Sebelum bangunan itu hangus pada 2013 lalu, ia menyewa kepada sebuah pemilik lapak. Langkah itu diulangi ketika bangunan dipindahkan ke pasar sementara. Amin pun harus merogoh kocek Rp 15 juta setahunnya.
“Dulu kami menyewa, begitu dibongkar kami terpaksa jualan seperti ini,” ucapnya.
Proses transaksi jual-beli tiap hari dimulai pukul 06.00 hingga 11.00 Wita. Setelah itu Amin memilih beristirahat sejenak. Pembukaan lapak dibuka kembali pada pukul 15.00 hingga 21.00 Wita.
“Sampai barang dagangan habis,” tutur dia.
Dalam sehari, keuntungan yang didapatkan pun rata-rata Rp 200 ribu. Di tempat baru ini, ia tidak perlu membayar sewa lahan. Hanya kebutuhan air bersih cukup sulit didapatkan.
“Kalau kami ditertibkan bingung mencari tempat di mana lagi,” ulasnya.
Amin meminta kepada Pemkot Bontang untuk mencarikan tempat jualan. Jika lokasi di tepi maupun atas parit tidak diperkenankan. Mengingat belakang lokasinya merupakan lahan kosong.
Selain Amin, pedagang lain juga mengaku baru berjualan di tepi jalan sejak awal bulan. Mereka kebanyakan adalah penyewa di lapak pasar sementara sebelum dibongkar. (*/ak/kpg)







