bontangpost.id – Sekira seribu dosis vaksin Covid-19 jenis pfizer dan indovac yang mengendap di gudang farmasi Bontang terancam kedaluwarsa pada akhir Januari.
Juru bicara Satgas Covid-19 Bontang Adi Permana mengatakan minimnya distribusi dipengaruhi oleh menurunnya minat masyarakat dalam melakukan vaksinasi Covid-19.
Terlebih, saat pemerintah pusat resmi menyatakan status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) dicabut yang diperkuat dengan Instruksi Gubernur Kalimantan Timur Nomor 17 Tahun 2003 tentang pencegahan dan pengendalian korona 2019 pada masa transasi menuju endemi.
“Ya susah juga mengimbau masyarakat untuk vaksin kalau tidak ada kepentingan. Kalau sebelumnya kan kalau mau mudik wajib vaksin nah itu ramai. Kalau sekarang kan tidak ada jadinya sepi,” bebernya.
Seiring dengan melandainya kasus positif Covid-19, fokus tim satgas saat ini ialah menaikkan presentase vaksinasi di kalangan masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan disebarnya 40 dosis vaksin di setiap puskesmas.
“Untuk layanan vaksin di puskesmas sudah kami buka mulai 3 Januari kemarin. Jadi masyarakat bisa langsung ke sana,” sambungnya.
Untuk dosis satu dan dua presentase distribusi mencapai lebih dari 90 persen. Sedangkan untuk booster satu baru mencapai 63 persen. Sementara booster kedua untuk lansia baru mencapai 65 persen.
“Di Bontang kan ada enam puskesmas. Nah, kami jatah 40 dosis dulu. Takutnya freezer yang mereka punya tidak memenuhi standar. Apalagi harus bercampur dengan vaksin bayi,” imbuhnya.
Dikatakan Adi, bila masyarakat tidak segera melakukan vaksinasi maka dikhawatirkan stok untuk bulan berikutnya tidak ada. Pasalnya, perolehan vaksin untuk daerah saat ini terbilang sulit.
“Kami belum tahu Bontang bakal dapat jatah lagi apa enggak. Karena semua daerah di Indonesia kondisinya sama. Makanya kami imbau untuk segera vaksin,” tutupnya. (*)






